SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Pergi Berbelanja


__ADS_3

"Kamu kenal orang orang dalam foto ini nggak?" tanya Rafi sambil menunjukkan layar ponsel kepada wanita yang duduk di post jaga bersamanya.


"Ini kan istri kedua Om Sergio dan orang tuanya, Fi," jawab Marisa dengan wajah terlihat terkejut. "Kamu dapat dari mana foto itu?"


Rafi sejenak terdiam. Entah kenapa melihat senyum ceria orang orang dalam foto itu menumbuhkan rasa marah dalam diri Rafi. ingatan pemuda itu kembali pada masa dimana hidupnya sedang kesusahan bersama ayah ibunya tapi orang tua kandung sang ayah maupun sang ibu sungguh tidak peduli sama sekali.


Dada Rafi semakin bergemuruh saat mengingat kematian sang ayah. Jika benar ayah dibunuh oleh orang suruhan Sergio, berarti secara tidak langsung, Nenek, Kakek bahkan Tantenya mendukung kejahatan yang dilakukan orang itu. Sungguh, jika pemikiran Rafi benar, dia akan membuat perhitungan dengan keluarga dari ayahnya itu.


Melihat perubahan wajah pada diri Rafi, kening Marisa sontak berkerut dengan tatapan penuh tanda tanya. "Kamu kenapa? Kamu kenal sama orang orang itu?"


"Dia nenek dan kakeku," jawab Rafi lirih dan pelan, tapi cukup mengejutkan bagi wanita yang mendengarnya.


"Apa! Bagaimana bisa?"


Rafi mendongak, menatap lurus ke area parkir tempat kost. Dia lalu bercerita tentang kisah pahitnya bersama sang ayah dan ibu. Bahkan bibir Rafi bergetar ketika mengungkapkan rasa sakitnya yang dirasakan oleh orang tua sampai mereka meninggal. "Hanya gara gara aku anak yang dihasilkan dari luar pernikahan dan dua orang tua terlibat permusuhan, Ayah dan Ibuku yang jadi korban keegosan mereka."

__ADS_1


"Ya ampun! Bisa sampai segitunya? Bukankah biasanya kalau sesama orang kaya biasanya akan mudah dalam menjalin hubungan, Fi?"


Rafi mengangkat kedua bahunya. "Aku sendiri nggak tahu apa yang menyebabkan orang tua Ayah dan Orang tua Ibu terlibat permusuhan. Aku nggak tahu cerita yang selengkapnya."


"Terus orang tua dari ibu kamu sekarang tinggal dimana? Di kota ini juga?"


"Terakhir yang aku dengar, mereka semua pindah ke pulau paling timur karena mengalami kebangkrutan. Benar atau nggaknya aku nggak tahu. Tapi apapun yang terjadi pada mereka, aku nggak peduli."


Marisa mengangguk beberapa kali dan dia meraih tangan Rafi lalu menggenggamnya. "Yang penting saat ini kamu tidak sendirian. Ada aku dan ada banyak orang orang yang peduli sama kamu."


"Bisa nggak kamu berhenti manggil aku Nona?" wajah Marisa berubah menjadi cemberut. "Masa tiap malam akan tidur bareng, kamu masih saja memanggil aku Non? Kayak ada jarak tahu nggak?"


Rafi malah tersenyum lebar. "Lebih baik kamu mandi, nanti kita belanja buat kebutuhan kamar tidur kita. Mungkin nanti sore, orang yang mau kerja di sini akan datang."


"Oke!" Marisa langsung bangkit dan mengambil peralatan mandinya. Rafi hanya menatap kepergian wanita itu dengan senyum yang begitu manis. Pemuda itu tidak menyangka, kalau Marisa yang biasa hidup mewah malah mau maunya mandi pakai gayung.

__ADS_1


Seperti yang sudah direncanakan, setelah selesai mandi dan sarapan, Rafi dan Marisa benar benar membeli apa saja yang dibutuhkan untuk kamar mereka. Jika Rafi mnginginkan kamar yang sederhana saja, Marisa malah ingin kamar yang terlihat lengkap dengan segala kebutuhan wanita. Hingga akhirnya terjadi perdebatan sepanjang mereka berbelanja. Tak sedikit mata yang mengira kalau mereka adalah sepasang pengantin baru.


Karena Rafi yang punya tempat, jadi Rafi yang punya kuasa untuk menentukan kamar seperti apa yang akan mereka gunakan. ?Marisa hanya bisa mendengus pasrah. Namun dibalik sikap pasrahnya, Marisa cukup senang dengan apapun yang dipilih Rafi.


"Fi, kamu nggak sekalian beli motor atau mobil?" tanyaMarisa saat mereka pulang sambil jalan kaki dan langkah mereka tepat berpijak di depan sebuah dealer motor. Karena tempat membeli kebutuhan kamar sangat dekat dengan tempat kost, jadi keduanya cukup jalan kaki pulang dan pergi ke tempat tujuan mereka.


"Beli motor dulu kali ya?"


"Iya, lah. biar kalau pergi jauhan dikit nggak bingung kendaraan."


Rafi pun setuju. Keduanya langsung mampir ke dealer motor yang ada di sana, dan memilih salah satu motor matic secara kontan. Rafi dan Marisa segera pulang ke tempat kost untuk membersihkan kamar yang akan mereka gunakan bersama sebelum barang belanjaan mereka datang.


"Saat langkah mereka sudah mendekati tempat kost, Marisa minta berhenti sejenak di gerobag penjual gorengan. Mau tidak mau Rafi juga ikut berhenti disana dan membeli beberapa gorengan. Ketika mereka sedang menunggu gorengan yang masih di goreng, Rafi yang mengedarkan pandangannya ke sekitar dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat di depan kost.


"Mereka siapa?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2