SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kabar Buruk


__ADS_3

Rafi meninggalkan Arinda dengan segala amarah yang masih tersisa. Dia tidak peduli dengan segala teriakan dan ancaman dari dua orang yang baru saja Rafi hajar. Beruntung, hotel yang tadi Rafi sambangi, adalah hotel kecil yang lebih tepatnya disebut motel, sebab dengan ongkos sewa hanya sebesar lima puluh ribu rupiah, pengguna bisa menggunakan kamar selama empat jam saja. Karena termasuk hotel yang mura, jadi tidak ada petugas keaamaan yang berjaga di sana. Yang ada hanya satu karyawan hotel dan beberapa penyewa kamar yang ingi sekedar membuang benih saja.


Rafi masih menuntun motor bututnya diantara rintik hujan, menuju rumahnya yang memang terletak di kampung berbeda. sepanjang perjalanan bahkan Rafi tidak menemukan bengkel satu pun yang buka. Hingga ada sebuah mobil bak terbuka yang berbaik hati menawari tumpangan untuk Rafi menuju ke rumahnya.


Saat sampai rumah, Rafi dikejutkan dengan beberapa tetangga yang sedang berada di depan rumahnya. Kening Rafi berkerut, sebab dari wajah yang ditunjukkan para tetangga, Rafi merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. benar saja, begitu melihat Rafi datang, para tetangga langsung menyambutnya.


"Kamu kemana saja, Fi? dar tadi kami menunggumu. Nomer telfon kamu juga nggak aktif," ucap salah satu tetangga saat langkah kaki Rafi sampai di depan pintu rumah kecilnya. Rumah Rafi memang tidak luas. Hanya ada tiga petak dalam rumah yang terbuat dari dinding bambu tersebut. Tiga petak itu terdiri dari dapur, satu kamar dan satu ruang yang bisa berfungsi untuk apa saja.


"Ada apa, Pak? Ponselku ada di dalam, tadi ketinggalan," tanya Rafi yang cukup bingung melihat sikap tetangganya itu.


"Tadi ada polisi yang datang kesini. Dia ngasih kabar katanya Bapak kamu dan bosnya diserang oleh segerombolan perampok. Sekarang ayahmu berada di rumah sakit, Fi."


"Apa!" Rafi memekik tak percaya. "Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu, Fi. Katanya Bapak kamu berusaha melindungi bosnya."


"Terus, kondisi Bapak gimana?


"Katanya sih terluka parah, Fi, mending kamu segera pergi ke kota menyusul Bapakmu. Nih, alamatnya, tadi polisi yang ngasih."


Tanpa pikir panjang lagi Rafi menyetujui saran tetangganya. Dia bergegas berganti pakaian dan membawa bekal seadanya. Tabungan yang rencananya untuk membeli cincin buat sang kekasih, dia gunakan untuk ongkos menuju kota. Dia lantas pamit kepada para tetangga dan dia juga berangkat ke terminal diantar oleh salah satu tetangganya.


Wajar jika Rafi begitu khawatir saat tahu kondisi Bapaknya. Saat ini hanya dialah satu satunya keluarga Rafi yang tersisa. Ibu Rafi sudah meninggal tepat di saat Rafi berusia tujuh belas tahun. Saat itu menjadi hari yang paling menyedihkan bagi Rafi karena sang ibu harus menyerah dengan penyakitnya.


Begitu sampai di terminal, tepat ada satu bis yang akan berangkat menuju ke kota, Rafi sontak bertanya tentang kota tujuannya dan bis itu memang menuju ke kota yang Rafi tuju. Rafi langsung masuk ke dalam bis tersebut dan tak lama kemudian bis itu berangkat.


Setelah menempuh waktu hampir sepuluh jam, akhirnya Rafi kini sudah berada di rumah sakit dimana ayahnya berada berdasarkan alamat yang dia terima semalamm. Rafi langsung menanyakan keberadaan sang Bapak kepada seorang suster dan dia segera saja menuju tempat yang ditunjukkan suster tadi.

__ADS_1


"Apa kamu anaknya Pak Mail?" tanya seorang pria yang kemungkinan usianya sama dengan usia Bapaknya Rafi.


"Iya, bagaimana keadaan Bapak saya?"


"masuklah. dia sedang menunggumu."


Tanpa membuang waktu Rafi langsung masuk keruang bapaknya di rawat. Betapa sakitnya hati Rafi saat melihat keadan sang ayah yang tergeletak tak berdaya. "Bapak," ucap Rafi lirih.


Pria yang sedang terpejam itu lantas membuka matanya, pria itu tersenyum saat melihat sang anak sudah berada di depan matanya. "Kamu sudah datang?" tanya sang Bapak dengan suara yang sangat lemah.


"Bapak kenapa bisa begini? Apa yang terjadi? siapa yang menyerang bapak dan Bos bapak?"


"Bapak juga tidak tahu, Nak. Wajah mereka tertutup rapat. Tapi bapak melihat punggung tangan dari dua orang yang menyerang bapak, ada tato bergambar tulang ikan dan di sampingnya ada tulisan TGM."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2