
Dari yang awalnya merasa malu dan canggung karena baru saling kenal, sekarang menjadi seakan sudah saling kenal lama dan begitu dekat. Dari yang awalnya hanya orang asing, kini menjadi seperti dua orang yang menjalin hubungan yang sangat spesial. Itulah efek yang timbul akibat adanya hubungan badan.
Seperti yang dialami Rafi dan Widuri. Di awal mereka berkenalan, tercipta rasa canggung yang sangat kentara. Bahkan Widuri lebih banyak diam karena malu. Tapi kini, rasa canggung dan malu itu pergi tak berbekas. Widuri bahkan dengan santai memainkan batang yang sudah merenggut mahkotanya dengan kepalanya menempel pada bahu si pemilik batang besar itu.
Ya, hubungan badan telah selesai mereka lakukan dan kini keduanya sedan melepas lelah dengan badan yang saling menempel seperti dua orang yang memang sudah terbiasa melakukannya. Tangan Rafi mengusap lembut kepala wanita itu sembari menikmati pijatan tangan Widuri pada batang yang masih sedikit menegang meski sudah menyemburkan benih di dalam celah nikmat wanita itu.
"Kamu punya rekening nggak, Wid?" panggilan Rafi kembali berubah begitu hubungan badan selsesai. Tadi saat Rafi melancarkan penyodokan, panggilan sayang lebih mendominasi. Tapi begitu permainan selesai, kata sayang yang terlontar langsung hilang begitu saja.
"Tidak punya, Tuan," jawab Widuri merasa malu. "Jangankan untuk bikin rekening, untuk makan aja susah."
Rafi tersenyum kecut. Rasa iba langsung menyeruak dalam benaknya. "Ya sudah, nanti aku kasih uang untuk buka rekening terlebih dahulu ya? Setelah jadi, baru aku transfer uangnya. Bisa kan?"
"Bisa, Tuan. terima kasih."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih sama saya. Kamu sudah menyerahkan mahkota kamu sama saya saja, saya sudah cukup senang, Wid. Jaman sekarang wanita yang sudah bermahkota itu sangat susah untuk dicari."
Senyum Wiiduri terkembang. "Aku juga senang menjual mahkotaku ke orang yang tepat. Tuan tidak hanya tampan di wajah saja, tapi hati Tuan juga begitu baik, membuat ketampanan tuan bertambah semakin sempurna."
Seketika Rafi langsung terkekeh. "Bisa aja kamu kalau ngoomonng," Rafi mengacak acak rambut Widuri dengan gemas. "Rencananya uang itu jadi digunakan untuk bayar utang atau gimana?"
"Aku sih sudah sepakat dengan abang, rencanaya uangnya akan dibagi dua. Sebagian untuk membayar hutang dan sebagian untuk membuka usaha. Kalaupun kita pergi dari tempat itu, kami nggak tahu pergi kemana, Tuan."
Terdengar mulut Rafi bergumam dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Hmm ... tapi apa kalian nggak takut jika orang tua kalian tiba tiba pulang dan mermbuat hidup kalian kacau lagi?"
"Aku sendiri tak habis pikir, kok ada orang tua seegois itu. Memilih kabur dan membebankan semua masalah yang mereka buat kepada anak anaknya. Meski mereka bilang terpaksa, harusnya kalian itu pergi sama sama, bukan malah kayak gini. Nanti kalau mereka mendengar hutang sudah lunas dan kalian hidup tentram di rumah itu, besar kemungkinan mereka akan kembali. Mending kalau mereka tobat sih nggak masalah. tapi kalau kembali membuat masalah gimana?"
Widuri terdiam. Dengan tangan yang masih memainkan batang milik Rafi yang sudah kembali menegang, pikiran wanita itu mencerna ucapan pria yang telah menikmati mahkotanya. "Kita benar benar nggak kepikiran sampai sana. Tuan. Nanti aku coba bicarakan lagi dengan abangku."
__ADS_1
Rafi kembali tersenyum. "Sebenarnya sangat sayang jika rumah itu dijual, tapi kalau kedepannya hanya akan bikin susah, mending kalian pindah. Siapa tahu nasib kalian berubah lebih baik," Rafi berkata demikian karena memang dia juga mengalami nasib yang lebih baik setelah berpindah ke kota.
"Baik, Tuan. terima kasih atas sarannya," Rafi tidak menajwab. Dia hanya menyembangkan senyumnya sebagai bentuk jawaban dan setelah itu Rafi memilih diam menikmati permianan tangan Widuri. Beberapa saat kemudian mulut Rafi kembali bersuara. "Aku boleh minta tolong nggak, Wid?"
Kening Widuri sontak berkerut dan kepalanya seketika mendongak. "Minta tolong apa, Tuan?"
Rafi sontak tersenyum nakal. "Mainkan batangku dengan mulut kamu, boleh?"
Mata Widuri sedikit melebar. Jelas sekali kalau wanita itu terkejut mendengar permintaan Rafi. "Apa nggak jijik, Tuan? Aku nggak biasa melakukan hal itu."
"Aku tahu kamu belum pernah coba, maka itu sayang, kamu coba memainkan punyaku, ya, pliss," Rafi kembali mengeluarkan panggillan sayangnya dan memasang wajah memelas serta tangan yang mengusap lembut pipi Widuri.
"Baiklah, aku coba, Tuan," meski ragu, Widuri pun akhirnya mau melaksanakan permintaan Rafi karena tidak tega melihat wajah memohon pria itu. Widuri langsung menggeser tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan batang kekar milik Rafi. Dengan memantapkan hati, kepala Widuri bergerak maju hingga bibirnya menyentuh batang Rafi dan bibir itu terbuka lalu lidahnya terjujur.
__ADS_1
Senyum Rafi terkembang sempurna. Dengan adanya permainan mulut, sudah dipastikan ronde ke dua akan kembali berlangsung.
...@@@@...