
Wanita kalau lagi ngambek atau suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, ada saja tingkahnya yang sangat menguji kesabaran seorang pria. Begitu juga yang tejadi pada pemuda yang mendadak kaya raya saat ini. Kesabarannya benar benar diuji oleh wanita yang sebenarnya tidak ada hubungan khusus dengan pria itu.
Perjalanan pulang yang harusnya hanya menempuh waktu kurang dari dua puluh menit, berubah menjadi hampir dua jam gara gara seorang wanita yang sedang ngambek. Rafi terpaksa harus mengalah dan memenuhi keinginan wanita yang meminta berhenti dan singgah di suatu tempat dan bermain di sana.
Pasar malam, disinilah Rafi sekarang berada. Dia bersama wanita yang baru saja dijemput dari salah satu hotel, kini sedang bermain dan menikmati beberapa wahana di pasar malam. Bagi Rafi, mungkin terlihat biasa saja saat berada di tempat hiburan rakyat menengah ke bawah tersebut. Namun bagi Marisa, wanita itu justru terlihat sangat antusias berada di sana.
Wajar jika Marisa terlihat sangat bersemangat mencoba dan menikmati segala yang ada di pasar malam. Bagi wanita itu, ini adalah hiburan yang tidak pernah dia rasakan selama menjadi orang kaya. Apa lagi, Marisa lebih sering tinggal di luar negeri. Berada di tempat seperti ini sungguh sangat berkesan bagi wanita itu.
Meskipun awalnya Rafi tidak bersemangat, tapi lama kalamaan dia terbawa suasana bahagia yang ditimbulkan oleh Marisa. Apalagi mereka berdua terlihat seperti sepasang kesasih, membuat Rafi jadi betah berada di sana dan ikut menikmati segala wahana yang Marisa coba.
"Beli dua," ucap Rafi begitu mereka berdiri di dekat pedagang permen kapas.
"Dua, buat siapa?" tanya Marisa yang tadi merengek minta beli permen kapas pada saat akan pulang.
"Di sana ada anak kecil, adiknya Wildan. Buat dia."
Awalnya kening Marisa berkerut, tapi tak lama setelahnya, dia hanya mengangguk dan mereka memutuskan pulang setelah puas mencoba wahana yang ada disana. Kini perasaan Rafi lebih lega karena wanita yang sedang memeluknya dari belakang terlihat sudah lebih tenang dan tidak ngambek lagi.
"Wah, cantiknya! Nama kamu siapa?" tanya Marisa begitu mereka sampai di termpat kost dan mendapatkan Wildan sedang bermain bersama sang adik di post jaga.
__ADS_1
"Namanya Alisa, Mbak," jawab bocah itu malu malu dengan suara khas anak kecil. Bocah itu meringsek kepelukan kakaknya karena merasa takut dengan wajah orang yang baru dia lihat.
"Jangan takut, Mbak nggak jahat kok," ucap Marisa terlihat sumringah. "Nih, kakak bawa oleh oleh buat Alisa."
Sebelum menerima permen kapas dari Marisa, bocah itu menatap terlebih dahulu kepada sang kakak. Begitu sang kakak mengangguk, Alisa baru mengulurkan tangannnya menerima oleh oleh dari Marisa. "Terima kasih."
"Wahh, lucu banget sih kamu," puji Marisa sambil mencubit lirih pipi si bocah lalu dia bangkit. "Duh, jadi pengin punya anak."
"Ya udah ayok bikin," celetuk Rafi dengan wajah datar.
Marisa sontak saja mencebikan bibirnya. "Enak aja, huu!" lalu dia pergi menuju kamar yang akan dia gunakan untuk tidur. Rafi dan Wildan hanya bisa tertaawa lirih sembari memandang kepergian wanita itu.
"Tapi sayang, aku bukan cowok tipenya. Dia udah punya cowok, bule," balas Rafi.
Kening wildan sontak berkerut. "Tapi kok. Dia ke kamarnya Bang rafi?"
"Kita memang tidur satu kamar, kenapa? aneh ya?" Wildan mengangguk sembari tersenyum canggung. "Ya memang aneh, dia juga maunya tidur bareng, nggak berani tidur sendirian. payah."
"Masa sih, Bang?"
__ADS_1
"Ya kan nggak percaya? Aku aja yang menjalaninya nggak percaya, apa lagi kamu. Kalian sudah makan belum?"
"Sudah, bang. Uang dari bang Rafi juga masih ada sisa."
"Ya udah kamu simpan aja buat jajan adik kamu. Aku ke kamar dulu ya? Jangan lupa tugas tugas kamu."
"Baik, Bang."
Rafi melenggang meninggalkan post jaga menuju kamarnya. Begitu sampai kamar, Rafi tidak melihat sosok Marisa di sana, tapi telinganya mendengar suara wanita itu di kamar mandi. Rafi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Kok kamarnya nggak sekalian dirapiin sih, Fi?" ucap Marisa beberapa menit kemudian saat dia selesai mandi. Rafi yang dalam posisi tenmgkurap dengan mata terpejam, merubah posisi tubuhnya jadi telentang. Dan saat matanya terbuka, mata itu sontak membulat melihat Marisa yang menutup tubuhnya hanya dengan handuk saja.
"Hey! ditanyain kok malah bengong!" seru marisa begitu melihat Rafi terdiam sambil terus menatapnya. "Lihatinnya gitu banget sih? Awas nanti kepengin?"
"Udah pasti kepenginlah, tapi kamu sepertinya nggak berani," gerutu Rafi. Sedangkan Marisa malah terkekeh sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa pakaian untuk dia kenakan.
"Duh, kapan aku menjalankan misi selanjutnya?" gumam Rafi.
...@@@@@...
__ADS_1