
Rafi masih termenung dan hanyut dalam pikirannya sendiri, saat Marisa kelur kamar dan sudah memakai baju tidurnya. Rafi mendengus kesal dan menunjukkan wajah cemberutnya kepada wanita itu lalu dia berpaling memiringkan tubuhnya. Melihat tingkag Rafi yang begitu menggemaskan, senyum Marisa langsung saja terkembang. Setelah melallkukan ritual perawatan kulit malamnya, wanita itu dengan santainya merebahkan badan di sebelah Rafi.
"Jangan peluk peluk bisa nggak?" ucap Rafi ketus begitu dia merasakan tangan marisa melingkar pada perutnya.
"Meluk kamu itu nyaman tahu, Fi,," balas Marisa yang tidak menghiraukan larangan pemuda yang sedang dia peluk dari belakang.
"Kamu yang nyaman, tapi aku yang tertekan," sungut Rafi.
"Hehehe .." Marisa malah terkekeh. "Sepertinya kamu sudah sangat berpengalaman melampiaskan hasrat kamu ya, Fi? Sampai kamu tidak tahan gitu?"
Rafi sedikit tergagap. Hampir saja dia ketahuan kalau sudah pernah melakukannya dengan beberapa wanita. Rafi lantas berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat. "Emang kalau laki laki ngomong kayak gitu, sudah pasti kalau dia itu pengalaman?"
Marisa tersenyum lalu dia melepas tangan yang berada diperut Rafi dan menelantangkan tubuhnya menghadap langit langit. "Yang aku tahu seperti itu. Laki laki yang lebih mengutamakan hasratnya biasanya cepet bosen dengan satu cewek."
Kening Rafi berkerut tapi dia enggan merubah posisi berbaringnya. "Dari mana kamu tahu? Nggak semua laki laki kayak gitu."
"Memang benar nggak semua, tapi kebanyakan kayak gitu. Laki laki jarang sekali setia pada satu lubang. Walaupun banyak juga wanita yang suka ganti ganti batang, tapi yang aku tahu hampir setiap laki laki yang aku kenal kayak gitu."
Mendengar jawaban dari wanita dibelakangnya, tumbuhlah rasa penasaran dalam benak Rafi. pemuda itu lantas membalik badannya dan sama sama telentang. "Apa pacar kamu juga seperti itu?"
__ADS_1
Marisa menoleh ke arah Rafi sembari tersenyum kemudian dia mengambil ponselnya, mencari sesuatu lalu setelah menemukannya, marisa menyerahkan ponsel tersebut kepada rafi. "Lihatlah video video yang ada di ponselku."
Dengan kening yang masih berkerut, Rafi menerima ponsel itu dan melakukan apa yang diperintahkan Marisa. Sejenak suasana kamar menjadi hening karena tatapan Rafi fokus pada beberapa video yang dia lihat. "Astaga! Ini pacar kamu?"
"Tepatnya mantan sih? Dia nggak mau putus dari aku karena belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Beruntung aku cepat kembali ke negeri ini."
"Kamu dapat video video ini dari siapa?"
"Ada yang dari temen, ada yang dari selingkuhannya langsung, ada juga hasil penyelidikan. Dan yang lebih parah, ada yang sampai hamil dan dia nggak mau anggung jawab. Parahnya lagi, bayinya digugurkan."
"Astaga! Kok jahat banget?"
Rafi terbungkam, nyatanya dia selama ini mendapat tubuh wanita juga atas dasar memberi pertolongan, bukan ganti ganti seperti yang diceritakan Marisa. Itu saja atas kerelaan dan kesepakatan dari wanitanya. Jika Rafi meminta kepada Marisa, bisa saja ceritanya akan lain karena dia tidak menolong wanita itu. Sekarang Rafi harus berpikir keras, bagaimana caranya dia menjalankan misi ke lima.
"Badan kamu kok lengket banget, Fi? Kamu belum mandi?" pertanyan Marisa sontak membuat pikiran Rafi langsung buyar.
"Belum, hehehe .. kamu jijik ya? Lagi malas mandi aku. Apa lagi tadi kamu pake kabur segala. Aku sampai nggak mandi demi menjemput kamu."
Marisa mencebikan bibirnya lalu kepalanya terangkat dan tanganya mengangkat tangan Rafi kemudian dia menempelkan hidungnya pada ketiak pemuda itu. "Bau asem!"
__ADS_1
"Orang udah tahu bau, pake dicium segala."
"Penasaran aja, Fi. Kata temenku, bau ketiak cowok dalam negeri dengan cowok luar negeri itu beda. Katanya lebih enak bau ketiak cowok daalam negeri. Ternyata emang benar, bau ketiak kamu lebih segar daripada bau ketiak pacarku."
"Dih, bagaimana bisa kayak gitu?" Rafi merasa takjub dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Buktinya ini, aku lebih suka bau ketiak kamu. Punya mantan mantanku nggak ada yang seenak ini baunya."
Seketika Rafi menggelengkan kepalanya karena merasa heran. "Itu kan masih tertutup kaos, kalau kaos aku dibuka, bisa bisa pingssan kamu."
"Hahaha ...benarkah? coba buka?"
"Eh nantangin, aku buka ini," Rafi langsung saja melepas kaosnya lalu memamerkan ketiak berbulunya. Bukannya jijik, hidung Marisa malah benar benar nempel di ketiak Rafi. Dengan segala rasa heran, Rafi membiarkan saja wanita itu mengisap aroma asam diketiaknya.
"Fi?
"Hum?"
"Aku mau menyerahkan mahkotaku sama kamu, jika kamu bisa mengancurkan om Sergio, gimana?"
__ADS_1
...@@@@@...