
Sementara itu orang yang menjadi incaran tiga kubu tersebut baru saja menyelesaikan obrolannya. Moreno memutuskan akan memasuki kamarnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Rafi. Saat pemuda itu melangkah hendak memasuki kamarnya, mata Rafi tidak melihat sosok wanita yang biasa berada di dalam kamarnya.
Karena penasaran, Rafi mengurungkan langkah kakinya dan memilih beralih arah menuju kamar sebelah.
"Kamu lagi ngapain, Sha?" tanya Rafi begitu langkah kakinya sampai di pintu kamar yang sedikit terbuka dan dia melihat Marisa sedang duduk dan menunduk di atas lantai dekat meja rias. Rafi bahkan sampai terkejut saat melihat apa yang dilkukan Marisa saat ini.
"Ini lagi motong rumput, Fi," jawab Marisa dengan santainya. Tadi dia juga sempat terkejut saat mendengar suara Rafi yang cukup keras. Kemudian Marisa kembali menjalankan kegiatannya yaitu memangkas rumput rimbun yang tumbuh di area bawah perutnya.
Rafi sempat kekusahan menelan salivanya sendiri. Meski dia sudah sering melihat isi celana Marisa, pemuda itu selalu merasa gemas dengan gundukan yang dimiliki oleh wanita itu. Tanpa berpikir panjang, Rafi langsung bergegas duduk di lantai menghadap Marisa. "Sini aku aja yang rapiin," Rafi mengambil alih alat pemotong bulu dari tangan wanita itu.
"Lah terus aku posisinya gimana? Aku aja sih?" Marisa sempat menolaknya karena dia bingung harus duduk dengan cara seperti apa. Keduanya sama sama di lantai dan Marisa tidak mungkin berbaring di lantai untuk memudahkan Rafi memotong habis rumput liarnya.
__ADS_1
"Ya kamu duduk di kursi itu," Rafi menunjuk kursi yang berada di meja rias. Marisa sontak tersenyum tipis lalu menuruti perintah Rafi.
Rafi benar benar terpana melihat gaya Marisa yang memang sangat menantang. Kakinya yang membentang dengan pinggang sedikit maju ke depan, membuat benda yang tidak terbungkus kain itu nampak begitu indah di mata Rafi. Bukannya langsung melakukan pemotongan rumput, Rafi malah menciumi gundukan daging terbelah dengan semangat.
"Astaga! Kenapa malah dicium sih, Fi?" protes Marisa. "Di potong dulu lah rumputnya."
Rafi seketika langsung cengengesan. "Ya habis punya kamu sangat menggoda sih, Sha. Sayang sekali nggak boleh dimasukin. Coba kalau boleh, pasti enak banget nih," ucap Rafi sambil mulai memangkas rumput milik wanita di hadapannya.
Tapi meski Marisa merasakan gejolak yang luar biasa, wanita itu masih mampu menahannya agar tidak berbuat lebih. Marisa masih ingat, ada dendam yang harus dia tuntaskan terlebih dahulu.Untuk urusan ranjang, Marisa lebih memilih menepisnya terlebih dahulu dan dia juga bertekad akan menyerahkan tubuhnya anak untuk pemuda yang sedang memotorong rumput di sekitar benda di bawah perut Marisa.
Setelah pemangkasan selesai, Rafi kembali menciumi benda itu berkali kali. Kenakalan Rafi terhenti saat Marisa memutuskan akan segera mandi. Rafi sempat mendengus kesal, dan dia dengan wajah ditekuk kembali menuju kamarnya. Sedangkan Marisa hanya mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali,melihat tingkah Rafi yang nampak kesal.
__ADS_1
Waktu terus bergerak maju dan haripun kini kembali berganti. Hari ini Rafi akan kembali menjalankan rutinitasnya setelah kemarin dia libur sehari. Kali ini Rafi harus meneruskan belajarnya dalam dunia perusahaaan yang akan dia pimpin. Agak melelahkan memang, tapi Rafi tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini untuk merubah status sosialnya yang pernah direndahkan.
Sedangkan di tempat lain, dua orang pria nampak menghentikan laju mobilnya di tengah jalan saat di hadapannya lampu pengatur lalu lintas menunjukkan nyala lampu berwarna merah. Dua pria yang memiliki tato di punggung tangannya itu nampak mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan dengan tatapan seperti memperhatikan sesuatu.
"Mungkin kita sudah sampai di kampung Rafi, bro," ucap salah satu dari mereka yang duduk di sebelah pengemudi. "Tuh, lihat nama tamannyw, bukankah itu nama yang tertera dalam data dari rumah sakit," pria itu menunjuk sebuah tulisan yang cukup besar yang menunjukan kalau itu adalah sebuah taman kota.
"Kemungkinan sih iya, tapi alamat tepatnya itu dimana? Nggak mungkin kan kalau kampung itu tidak luas?" sang pengemudi mobil menimpali.
"Ya aku juga tahu kalau itu, makanya mending kita menepi dulu ke taman itu, kita tanya tanya sama orang di sana sekalian kita istirahat."
"Oke!" dan mobil itu melaju menuju taman yang tadi ditunjuk salah satu orang itu.
__ADS_1
...@@@@@@@...