
Akhirnya berdebatan dengan Marisa berakhir dengan damai. Setelah berhasil menenangkan wanita itu, Rafi pun bergegas berangkat ke kantornya di waktu yang terbilang sudah cukup siang. Karena banyak urusan yang memang harus ditangani, Rafi tetap harus berangkat dan mengatasi semua pekerjaan yang telah menunggunya.
Di kantornya, Moreno juga terlihat sedang menangani pekerjaannya. Pria itu memang sudah berangkat terlebih dahulu selama Rafi menenangkan Marisa yang hendak pergi dari rumah, karena jengkel pada anak angkatnya. Meski jabatan presdir sekarang sudah berada di tangan Rafi, kedudukan Moreno masih lebih tinggi, jadi urusan kantor, masih bisa dia ambil alih di saat Rafi sedang berhalangan.
"Tuan, ada tamu," ucap asisten pribadi di saat Moreno sedang fokus dengan berkas berkas di atas meja kerjanya.
"Siapa?" tanya Moreno sejenak menoleh ke sang asisten lalu kembali tenggelam pada berkas yang sedag dia baca.
"Nyonya Lupita," ucapan sang asisten membuat Moreno tertegun sampai menghentikan pekerjaannya dan menatap lekat ke arah pria yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Ada urusan apa wanita itu datang ke sini?" tanya Moreno dengan segala rasa heran dan juga penasaran yang langsung menyergap benaknya saat itu juga.
"Tidak tahu, Tuan, katanya penting," jawab sang asisten.
__ADS_1
"Baiklah, suruh dia masuk." Sang asisten mengiyakan dan dia segera pergi meninggalkan Moreno yang langsung merapikan berkas berkasnya. "Ngapain wanita itu datang ke sini? Apa dia pikir Sergio ada di sini?"
Tak lama kemudian wanita bernama Lupita masuk dengan wajah sumringah dengan pakaian yang terlihat sangat seksi. Wanita itu sebenarnya sangat cantik dengan tubuh yang sangat ideal sesuai standar wanita. Yang pastinya banyak juga lelaki yang tertarik dengan wanita seperti Lupita. Tapi sayang, kelebihan yang dimiliki wanita itu, malah disalah gunakan untuk menjerat pria kaya, dan target berikutnya adalah laki laki yang saat ini dia temui.
"Selamat siang, Tuan Moreno," dengan senyum yang sangat lebar dan tangan yang membentang, wanita itu melangkah ke arah Moreno yang saat itu kebetulan sedang melangkah untuk menyambut kedatangan Lupita. Namun, di saat wanita itu sudah sangat dekat, tangan kanan Moreno terangkat dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Lupita sampai langkah wanita itu terhenti dengan senyum yang perlahan memudar.
"Maaf, kita tidak sedekat itu untuk saling berpelukan, bukan?" ucapan Moreno langsung membuat Lupita terhenti dengan wajah yang berubah masam. Tapi sepertinya wanita itu tidak akan menyerah begtu saja. Setelah mendapat penolakan, Lupita masih bisa tersenyum. "Silakan duduk."
"Baiklah, terima kasih," Lupita kembali terlihat ceria. Dengan keyakinan yang sangat tinggi, wanita itu merasa pasti akan berhasil dengan rencana yang sudah dia susun dengan matang. Biar bagaimanapun, dia memang harus berhasil menaklukan pria itu demi bisa memenuhi segala gaya hidup mewahnya.
"Itu dia, Tuan. Awalnya saya juga enggan datang kesini. Namun karena saya tidak tega dengan kondisi suami saya, mau tidak mau saya meninggalkannya sejenak. Tapi Tuan tenang saja, ada keluarga saya yang menjaganya kok," jelas sekali kalau Lupita sedang berbohong. Mungkin jika Moreno tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, pria itu akan percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Lupita.
"Lalu apa hubugannya dengan kedatangan anda ke kantor ini?" tanya Moreno lagi dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari suami saya, katanya dia ingin bertemu dengan anda," Lupita mulai menjalanlkan rencananya.
"Tuan Sergio ingin bertemu dengan saya?" meski memasang wajah terkejut, tapi memang itu yang harus dilakukan Moreno, agar dia kelihatan tidak mengatahui apa yang sebenarnya terjadi.
Lupita langsung mengangguk cepat. "Katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan berdua dengan anda, Tuan."
"Membicarakan sesuatu? Apa itu tentang kerja sama dalam pekerjaan?"
Lupita menggeleng. "Saya sendiri tidak tahu. Katanya untuk sementara harus anda terlebih dahulu yang mengetahuinya."
Dengan kening mengernyit, jelas sekali kalau Moreno saat ini sedang berpikir. Bukan memikirkan tentang sesuatu yang baru disampaikan oleh Lupita, tapi memikirkan apa yang sedang wanita itu rencanakan. "Baiklah, nanti saya akan menemuinya. Di rumah sakit mana Tuan Sergio di rawat?"
"Bukan di rumah sakit, Tuan," jawab Lupita nampak kegirangan, lalu dia mengambil sesuatu yang sepertinya memang sudah di siapkan. "Anda bisa menemui suami saya di sini."
__ADS_1
Sergio menerima sesuatu dari Lupita dan setelah tahu isinya, mata Sergio langsung melebar saat itu juga.
...@@@@@...