
"Jadi gimana? Pembelaan apa lagi yang akan kalian lakukan?" tanya Rafi kepada tiga pria berseragam yang sekarang sedang menunduk. Ya, setelah Rafi berhasil mendapat ijin untuk memeriksa hasil rekamana cctv, semua terbukti jelas kalau ketiga pria itu memberikan tuduhan palsu. Dengan memasukan apel ke dalam kantung plastik yang ditenteng pria yang mereka aniaya. Mereka nekad melakukan perbuatan seperti itu hanya karena mereka kepergok memakan satu apel yang harganya bisa menyampai seratus ribu.
"Kalian ini, astaga!" seorang manager terlihat sangat geram karena kelakuan karyawannya yang bertindak dengan semaunya sendiri. "Sekarang pertanggung jawabkan perbuatan kalian."
"Ampun, Pak, maaf kan kami. Kami terpaksa melakukannya. Kami takut dipecat," salah satu dari ketiga tersangka terlihat mengiba.
"Tadi kalian dengan lantang mengatakan, mana ada maling yang mau ngaku. Kenapa sekarang kalian malah kayak pengemis? Meminta pengampunan. Tadi kalian mau mengampuni orang yang kalian pukuli nggak?" cetus Rafi telak, membuat ketiganya semakin malu dan terbungkam.
"Maaf Tuan, saya selaku manajer supermall ini benar benar malu dengan perbuatan mereka. Saya mewakili pihak supermall benar benar minta maaf," ucap pria yang diperkirakan usianya sekitar empat tihga puluh tahun lebih.
"Tidak perlu meminta maaf sama saya," tolak Rafi. "Sekarang anda suruh ketiga orang ini untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Saat ini korban penganiayaan sudah dibawa rumah sakit, anda pasti tahu bukan, apa yang harus anda lakukan?"
"Saya tahu, Tuan. Saya pasti akan menindak tegas ketiga orang ini," jawab sang manager terlihat sangat meyakinkan.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Rafi langsung saja pergi meninggalkan ruang keamaan yang ada di supermall tersebut. Ada rasa puas dalam diri Rafi saat dia berhasil mengungkap kebenaran yang baru saja dia alami.
"Tuan muda hebat," puji sang supir begitu Rafi telah duduk di dalam mobilnya. "darimana tuan muda memiliki keberanian seperti itu?" tanya sang supir sembari menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Naluri aja, Pak. Saya paling nggak tega melihat orang diperlakukan seperti itu. beruntung saya punya kedudukan sekarang, jadi ya saya tidak terlalu kesulitan memberi pertolongan," ucap Rafi dengan tatapan mata sesekalii ke arah sang supir. "Kita ke rumah sakit ya, Pak. Kita jenguk keadaan orang tadi."
"Baik, Tuan muda." sang supir langsung mengarahkan mobilnya ke jalan yang menuju rumah sakit tempat orang tadi di rawat. Begitu sampai di tempat tujuan, sang supir beserta Rafi bergegas masuk ke dalam. Setelah menanyakan tempat keberadaan pria yang dimaksud, mereka langsung menuju kesana.
"Tuan," pekik pria yang tadi mendapat penganiayaan begitu melihat rafi datang. Pria itu berusaha bangkit dari berbaringnya namun di tahan oleh seseorang yang menjaganya.
"Tidur aja, nggak perlu bangkit," ucap Rafi setelah berada didekat brangkar pria itu. "Anda siapanya paseien?" tanya Rafi pada seseorang yang berdiri di sisi brangkar lainnya.
"Saya adiknya pasien, Tuan. Terima kasih sudah menolong Abang saya," balas orang itu.
Rafi nampak menggut manggut. "Gimana keadaan kamu? Apa sudah ada pemeriksaan dari dokter?"
"Ya sudah, patuhi saja apa kata dokter," ucap Rafi dengan entengnya. tapi dua orang kakak beradik itu saling pandang dan nampak sedang berdiskusi dengan matanya. kening Rafi seketika langsung berkerut melihat reaksi kedua orang di hadapannya. "Kenapa? apa ada masalah?"
"Maaf, Tuan. Kalau bisa, kami mau ambil rawat jalan saja. Kami takut, kami tidak bisa membayar biaya rumah sakit ini," kembali sang adik yang menjawab.
Rafi tersenyum tipis, dari jawaban sang adik, Rafi tahu kalau mereka orang yang kurang mampu. Lagi lagi uang menjadi alasan utama mereka mengambil sebuah keputusan. "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Fokus saja pada kesembuhan kakak kamu. untuk urusan biaya sudah saya tangani lunas sampai kalian pulang nanti."
__ADS_1
Kakak beradik itu sontak membulatkan matanya. "Tuan serius? tapi kami ..."
"Sekali lagi saya tegaskan, kalian tidak perlu berpikir macam macam, oke!" Rafi segera memotong ucapan sang adik. "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. besok kalau ada waktu saya akan datang lagi."
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih."
Rafi hanya mengulas senyum lalu dia pamit pergi meninggalan ruangan tersebut.
"Ternyata di dunia ini masih ada orang kaya tapi baik hati ya, Bang," puji sang adik beberapa menit kemudian setelah Rafi pergi.
Pria yang tergeletak diatas brangkar itu ikutan tersenyum. "Ya, beruntung tadi ada Tuan itu. Kalau tidak, entah bagiamana nasib Abang, Wid."
Sang adik pun ikut menganguk beberapa kali. Sang adik nampak sedang berpikir sampai si abang yang melihatnya merasa heran.
"Kamu kenapa, Wid? Ada yang kamu pikirkan?"
"Bang, bagaimana kalau aku jual mahkota ke tuan yang tadi? Abang tahu kan kalau kita butuh uang banyak dalam waktu dekat ini?"
__ADS_1
...@@@@@...