SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Dalam Pengaruh Obat


__ADS_3

Wildan begitu terkejut dengan penawaran yang dilakukan wanita itu. Sembari terus berusaha meredam gerah di tubuhnya, pria itu menatap wanita yang kini sedang tersenyum kepadanya. Yang membuat Wildan terkejut dan tak habis pikir adalah, kenapa wanita itu dengan mudah menawarkan diri kepadanya? Padahal kenal saja baru beberapa jam yang lalu.


Dalam hati Wildan sontak berkecamuk. Di sisi lain, dia sangat ingin melakukan hubungan badan kerena pengaruh obat perangsang mulai bereaksi. Tapi di sisi lain, dia teringat wanita yang saat ini sedang menjaga adiknya. Biar bagaimanapun hati nurani wlWildan masih bekerja dengan baik. dia tidak ingin mengecewekan wanita yang sudah menaruh kepercayaan kepadanya.


"Gimana, Mas? Mau nggak? Kalau mau, ayo. Aku siap kok jadi pelampiasan," wanita bernama Sindi terus menggodanya. Bahkan tangan kanan wanita itu kini bergerak dan menempel pada paha Wildan lalu bergerak merayap hingga menyentuh gundukan di antara paha pemuda itu.


Wildan semakin menggalau. Usapan lembut tangan wanita itu benar benar semakin membuat dia ingin segera melampiaskan gejolak yang terus meningkat. Batin Wildan berkecamuk hebat saat ini.


Namun di saat Wildan hampir menyerah karena godaan yang terus dilancarkan Sindi, sebuah motor matic masuk ke area parkir, membuatt dua orang itu menoleh dan wajahnya langsung tegang begitu tahu siapa yang datang.


"Kalina!" pekik Wildan yang masih ada kesadaran dalam dirinya. Wanita yang bersama Wildan langsung mendengus kesal dan secepatnya melepas tangan yang menempel pada gundukan celana pemuda di hadapannya.


Melihat Wildan sedang duduk berdua dengan seorang wanita, sontak saja Kalina bergegas menggendong Alisa yang tertidur setelah motor terpakir di tempatnya. Wanita itu berjalan cepat dengan tatapan kepada dua orang di sana.


"Pacar kamu sudah pulang tuh, Mas? Kalau gitu aku kembali ke kamar dulu ya?" Sindi langsung saja pamit pergi tanpa menunggu balasan dari Wildan, dan juga karena takut serta kesal, rencanya gagal.


"Kok pulang lagi? Katanya mau menginap?" tanya Wildan sembari mengipas ngipas tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa Kalau aku pulang? Nggak suka?" Kalina malah balik bertanya lalu berlalu saja meninggalkan Wildan dan masuk ke kamarnya.


"Bukan begoitru," Wildan mengikuti Kalina lalu dia menyalakan kipas angin dan berdiri di dekatnya. "Pasti Alisa nggak betah ya?"


"Udah tahu, pake tanya," ketus Kalina langsung ikutan berbaring di sisi adiknya Wildan. Melihat tubuh Kalina yang sudah terbaring, Wildan sontak mendekatinya dan langsung mendekap dengan erat dan mengendus tubuh wanita itu hingga Kalina dibuat terkejut. "Wildan! Kamu ngapain!"


"Nggak tahu ini apa yang terjadi. Tiba tibanya tubuhku panas dan rasanya ingin berhubungan badan," jawab Wildan dengan suara yang sudah berat. Kalina semakin terkejut dan dengan kedua tangannya dia menangkup pipi Wildan lalu memandang kedua matanya.


"Astaga! Matamu sampai merah," ucap Kalina. "Kamu habis ngapain? Kok bisa sampai begini sih?"


"Aku nggak tahu. Sedari tadi aku merasa baik baik saja sambil main game. Tapi setelah minum air dalam botol, tiba tiba begini."


"Itu di atas meja." mendengar jawaban Wildan, Kalina langsung menyingkirkan tubuh pemuda itu dan dia bergegas bangkit dan beranjak keluar kamar. Benar saja, disana ada botol kosong tergeletak diatas meja. Kalina segera mengambil botol tersebut. Di saat bersamaan, wanita itu melihat mobil hijau bergerak keluar dari tempat parkir. Kalina ingin menghentikan tapi mobil itu keburu keluar, jadi Kalina segera saja dia kembali masuk ke dalam kamar.


"Itu mobil hijau punya siapa?" tanya Kalina kepada pria yang kembali menyerangnya begitu dia masuk kamar.


"Punya penghuni kost baru," jawab Wildan. "bantu aku untuk melepas bebanku, Yang. tolong."

__ADS_1


Kalina tercekat. Dia bingung bagaimana caranya menolong Wildan. Tidak mungkin dia mengajak Wildan menuntaskannya di kamar tersebut. Wanita itu terus berpikir cepat dengan tubuh yang sudah digerayangi oleh Wildan.


"Kita jangan melakukan disini," ucap Kalina. "Kita ke kamar Rafi aja."


Tanpa pikir panjang Wildan langsung setuju. Mereka langsung keluar kamar, Kalina mengunci pintu kamar di mana ada Alisa yang sedang terlelap. Keduanya segera saja menuju salah satu kamar yang digunakan Kalina beberapa saat yang lalu. Namun betapa terkejutnya Kalina, saat sampai di tempat tujuan, dia melihat salah satu pintu kamar terbuka.


"Loh, kok ada kamar yang terbuka?" Kalina dan Wildan menuju kamar tersebut. "Loh kosong!"


"Ini kan kamar wanita yang baru saja masuk tadi sore," ucap Wildan.


"Tapi kosong, Wil. Nggak ada orangnya. Barang barangnya juga nggak ada."


"Terus dia kemana?"


"Sekarang aku tahu, pasti wanita itu memiliki niat jihat sama kamu."


"Udah ngobrolnya nanti saja, aku udah nggak tahan ini, ayo ajari aku bercinta, Sayang."

__ADS_1


"Iya, iya. Kita lakukan dikamar ini saja." Kalina segera menutup pintu dan mau tidak mau dia memilih menjadi pelampiasan Wildan karena tidak memiliki cara lain untuk mencegahnya.


...@@@@@@...


__ADS_2