
Mendengar nama panti asuhan, pikiran Rafi sontak saja tertuju pada dua wanita yang dia tolong tadi siang. Wajar jika Rafi mengingat akan hal itu, karena Rafi mendengar wanita bernama Bulan sempat mengeluh kepada wanita yang sedang tidak sadarkan diri dan menyebut nama panti asuhan. Rafi berpikir kalau panti asuhan yang disebut Moreno jangan jangan panti asuhan yang sama dengan yang disebutkan Bulan dalam gumamannya.
"Oh iya, Dad, jika aku sudah menjabat sebagai presdir, apa aku boleh mengajak seseorang untuk menjadi asisten pribadiku?" ucap Rafi setelah pembicaran tentang panti asuhan selesai. Acara makan malam pun juga sebenernya telah berakhir. Cuma ketiga orang yang masih duduk di sekitar meja makan, kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Apa kamu sudah memiliki kandidat sendiri?" tanya Moreno yang kini malah menikmati kopi setelah santap malam selesai.
Rafi mengangguk. "Ada satu laki laki, kita memang lumayan akrab. Setidaknya jika kita akrab, aku nggak merasa canggung jika memberi perintah, gimana?"
"Ya terserah kamu aja. Jika memang dia cocok dengan pekerjaannya ya kamu bisa angkat dia menjadi asisten kamu. Ingat, nyari juga orang yang bisa dipercaya. Karena terkadang sang asisten juga bisa berkhianat jika sudah silau dengan harta."
"Baik, Dad, terima kasih. Dia bisa dipercaya kok, Dad. Lagian, dia juga bisa nyetir dan kayaknya bisa bela diri juga. Makanya aku merekomdasikan dia."
__ADS_1
"Lah terus aku gimana, Fi? Kamu nggak menjadikan aku asisten pribadi kamu?" Marisa langsung melayangkan protesnya.
"Kamu jadi sekretaris aku aja, jadi jika ada masalah kantor yang cukup sulit, ada kamu yang bisa dimintaain bantuan. Kalau Asisten pribadi kan juga menangani urusan lain yang juga kadang terjadi diluar kantor."
Moreno sontak mengulas senyum. "Sepertinya kamu sudah sangat memikirkannya dengan matang, nak?" tanya Moreno yang cukup takjub dengan pemikiran Rafi.
"Ya kan aku juga belajar dari Daddy juga," jawaban Rafi malah membuat Moreno terkekeh.
Akhirnya karena waktu yang sudah semakin larut, obrolan ketiga orang itu pun harus diakhiri. Seperti biasa, Moreno terlebih dahulu yang memutuskan mengakhiri obrolan dan beranjak menuju kamarnya. Tak lama setelahnya, Rafi dan Marisa baru ikutan beranjak ke kamar yang sama.
Begitu sampai di kantor, pelajaran yang pertama Rafi lakukan adalah cara memimpin rapat. Saat ini Rafi sudah ada di Tim yang menangani bagian keuangan. Dengan di dampingi sang asisten, Rafi dengan sikap setenang mungkin, mencoba berbicara di hadapan beberapa orang yang bekerja di bagian keuangan. Agak gugup memang, tapi Rafi mampu mengatasinya dengan baik.
__ADS_1
"Wah! Tuan muda sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat!" seru pimpinan bagian keuangan dengan bertepuk tangan sangat kencang.
"Benar, Tuan muda hebat. Padahal belum lama mempelajari bagian keuangan," karyawan yang lain juga ikut menimpali.
"Bagian keuangan itu bagian yang paling rumit loh, Tuan, tapi Tuan muda bisa jeli melihat beberapa kekurangan serta kelebihan dari banyaknya data yang tersaji." satu persatu para karyawan memberikan pujian secara bergantian.
Rafi terlihat cukup senang mendengarnya. Pemuda itu menelisik setiap wajah yang memberi pujian dan semuanya terlihat tulus, tanpa ada yang cari muka. Rafi lantas mengucapkan banyak terima kasih kepada karyawan yang ada disana. Biar bagaimanapun, tanpa bantuan para karyawan, Rafi merasa tidak akan bisa seperti ini. Setelah rapat selesai, Rafi pun pamit untuk melaksanakan tugas berikutnya.
Seusai makan siang, seperti yang diperintahkan Moreno, Rafi meluncur ke sebuah panti asuhan dimana alamatnya sudah dipegang oleh sang supir. Hampir memakan waktu perjalanan selama tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Rafi telah sampai di depan bangunan. Bangunan besar itu seperti bangunan tua yang tidak terawat. Ada beberapa bagian yang seharusnya segera diperbaiki.
"Kok panti asuhannya seperti ini?" gumam Rafi sebelum melangkah masuk menuju pintu utama bangunan yang terbuka. Dari arah luar terdengar suara ribut. Suara itu berasal dari dalam panti. bahkan Rafi dan sang supir yang menemani Tuannya turun, mendengar ada suara anak yang menangis.
__ADS_1
"Cari siapa, Tuan?" sebuah suara dari arah belakang sontak membuat dua pria beda usia itu terkejut. Keduanya lantas menoleh dan mata Rafi langsung membelalak saat melihat wajah si pemilik suara.
...@@@@@...