
Pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Kali ini bukan satu lawan satu, tapi tiga lawan banyak, lebih tepatnya ada dua belas orang dari pihak musuh. Namun sangat disayangkan, dari perkelahian yang sangat tidak seimbang tersebut, justru pihak Rafi yang hanya berjumlah tiga orang, berhasil menumbangkan dua belas oranh bertubuh kekar.
Dari perkelahian itu sendiri, Rafi yang lebih banyak mendapatkan serangan. Wajar saja karena target mereka memang ingin memberi pelajaran pada Rafi atas apa yang pemuda itu lakukan kepada rekan rekan mereka saat di panti asuhan. Tapi yang seperti terlihat saat ini, mereka gagal balas dendam. Bahkan mereka terkapar dengan tubuh yang babak belur dan lebam dimana mana. Tak jarang pula ada yang mengeluarkan darah.
"Cih! Cuma segitu kekuatan kalian?" Maxi terlihat sangat meremehkan. "Ayo panggil rekan kalian lagi, aku masih ingin bertarung."
"Mereka mana ngerti dengan bahasa kamu katakan, Max," seru Aron dengan senyum yang cukup lebar. Maxi sendiri malah melongo dan menyadari kalau dia baru saja memberi tantangan dengan bahasa Italia.
Meskipun Rafi juga tidak mengerti artinya, pemuda itu ikut tersenyum juga lalu memandang para musuh yang terkapar untuk memberi peringatan. "Aku akan ingat wajah wajah kalian! Kalau sampai kalian mengusik kehidupanku, aku tidak akan segan segan, memisahkan nyawa kalian dari tubuh, mengerti!"
Semua musuh terbungkam. Terus terang, dibalik amarah yang masih berkobar dalam dada mereka, para musuh cukup takut dengan ancaman yang Rafi berikan. Apa lagi setelah memberi ancaman, Rafi menghancurkan kaca semua mobil mereka dengan batu yang Rafi pungut di tempat mereka bertarung.
__ADS_1
Puas menghancurkan mobil para musuh, Rafi kembali memberi peringatan yang lebih menakutkan dan setelahnya dia mengajak Aron dan Maxi untuk masuk ke dalam mobil dan pergi melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda karean harus menyelesaikan para pengganggu.
Sementara itu di tempat lain, di hari yang sama.
"Jadi Rafi masih saudara sama aku, Mih!" seru Tania begitu mendengar sebuah fakta dari orang tuanya. "Tapi kata nenek, Om Mail bukan anak nenek, Mih."
"Maka itu, kamu harus menjaga rahasia ini," ucap Sonya. "Jika sampai Rafi tahu kalau dia bukan keturunan dari keluarga kita, kita tidak bisa ikut merasakan harta keluarga Moreno."
"Ya, aku tahu itu, Mih. Jadi kapan kalian akan mengumumkan kalau kita adalah bagian dari keluarga Rafi, Mih?"
"Wahh! Rencana yang sangat bagus, Pih. Kalau begitu aku harus menunjukan penampilan terbaikku," Tania berkata dengan wajah berbinar. Bayang bayang kalau dia akan semakin terlihat sebagai orang yang sangat terhormat sudah menari nari di dalam pikirannya saat ini.
__ADS_1
Acara pesta yang akan dilaksanakan Moreno memang berlangsung dalam beberapa hari kedepan. Semua undangan sudah tersebar dan mereka sangat antusias menyambut hari yang menurut mereka sangat penting. Segala persiapan mereka lakukan untuk mewujudkan tujuan mereka pada saat menghadiri pesta nanti.
Memang banyak yang ingin memanfaatkan acara pesta itu. Diantaranya adalah dua orang asing yang memang sengaja datang ke negara itu untuk menyelidiki anak angkat Moreno. Dengan tujuan yang pastinya akan sangat menguntungkan bos mereka. Kedua orang asing itu juga telah menyiapkan rencana matang yang mungkin tidak akan pernah Moreno duga.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini hari yang ditunggu para pengusaha dan juga orang kaya raya telah tiba. Sebuah pesta besar yang akan menjadi saksi bagi seorang pemuda, dari yang awalnya hanya pedagang cilok keliling, akan menjadi seorang pimpinan perussahaan kelas dunia dalan usia yang sangat muda. Banyak yang penasaran dengan sosok pria yang beruntumg tersebut.
"Gugup?" tanya Moreno kapada anak muda yang duduk di sebelah kanannya. Saat ini keluarga Moreno sedang berkumpul dalam satu ruangan sebelum memasuki ruangan pesta yang letaknya masih satu gedung dengan kantor mereka. Semua mata yang ada di sana, sontak menunjukan senyum lebarnya, menyaksikan kegugupan Rafi yang tidak bisa disembunyikan.
Rafi tersenyum lebar. "Sangat gugup, Dad. Ini pertama kalinya aku akan berbicara di depan banyak orang sebagai orang besar." Moreno mangangguk paham.
"Nggak usah gugup, kan nanti ada aku yang mendampingi kamu," ucap Marisa. Bukannya menjawab, Rafi hanya membalas ucapan Marisa dengan senyum tipis.
__ADS_1
Dan waktu pesta pun di mulai. Semua bersiap keruangan tempat berlangsungnya acara. Dengan segala kekuatan untuk menahan rasa gugupnya, Rafi meyakinkan diri kalau dia mampu mengatasi situasi yang akan dia hadapi.
...@@@@@...