
"Buka pintunya, sialan!" hardik seorang wanita pada sosok pria yang sedang duduk di atas sofa. Pria itu sedang tersenyum senang sambill memainkan gelas berisi anggur tapi tidak meminumnya sama sekali. Wanita itu sendiri nampak sangat marah, tapi juga ada rasa reah yang tiba tiba menyerang. "Kenapa tubuhku menjadi tidak nyaman begini?"
"Kenapa? Apa anda mulai merasakan bergejolak dan resah, Nyonya?" tanya si pria dengan santainya. Senyumnya begitu nakal dan penuh dengan kemenangan.
Wanita yang usianya lebih tua dari pria itu merasa tertegun dengan ucapan si pria yang nampak santai. Namun saat matanya menangkap gelas berisi anggur yang dipegang si pria, mata wanita itu seketika membulat. "Kau sudah memberiku obat perangsang?"
"Hahaha .. itu kan salah anda sendiri. Saya tidak pernah meminta anda meminumnya sebelum saya datang. Tapi bagus sih, saya jadi tidak perlu bekerja keras membuat anda minum anggur dari gelas ini."
"Sialan!" bentak wanita itu yang semakin tak karuan saja rasa ditubuhnya. Wanita itu kembali berjalan menuju pintu kamar, tapi tetap dia tidak bisa melakukan apa apa. "Buka pintunya, cepat!"
Sekeras apapun wanita itu bersikap galak, hanya dibalas dengan seringaian oleh pria yang berada dalam satu kamar dengannya. Pra itu malah dengan santai mulai membuka kancing bajunya sendiri. Hal itu tak luput dari pandangan wanita yang sudah dipenuhi hasrat yang semakin berkobar. Dimata si wanita, gerakan pria itu sudah pasti terlihat sangat seksi dan menggoda.
__ADS_1
Karena tidak tahan dengan rasa resah yang terus meronta, wanita bernama Lupita itu, mendekat dengan cepat kepada pria yang usianya lebih muda. "Puaskan aku sekarang, cepat!"
"Hahaha ... yakin? Anda mau saya puaskan? Bagaimana dengan suami anda dan Tuan Moreno?" pria bernama Dito malah berkata sesuatu yang sengaja dia ucapkan karena ingin mempermainkan wanita itu terlebih dahulu.
"Tidak perlu banyak omong! Cepat puaskan saya!" Lupita terus mengerang. Bahkan wanita itu mulai melepas satu satunya baju yang dia pakai.
"Waw! Sepertinya anda memang sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambutku, Nyonya," ucap Dito penuh dengan rasa takjub. Matanya berbinar menatap keindahan milik wanita itu. Keindahan yang terawat dengan baik meski usianya lebih tua darinya.
Baru pakaian atas yang dibuka, Lupita menarik jari jari Dito untuk memainkan lubang nikmatnya yang sudah sangat meronta hebat. Dito yang tahu apa keinginan wanita itu tentu saja langsung menurutinya. Bahkan jari tengah Dito, dia masukkan maju mundur ke dalam lubang milik wanita hingga tubuh wanita itu menggeliat tidak beraturan.
"Masukan isi celanamu, sayang, akhh~" Lupita sudah meraccau keenakan hanya dengan sodokan jari kekar milik Dito. Pria itu sangat menikmati wajah Lupita yang sudah sangat berhasrat. Wanita itu sampai telentang di atas meja dengan tubuh terus menggeliat akibat permainan jari Dito. Erangan kenikmatan makin trdengar menggema dengan keras seiring sodokan jari Dito yang semakin kencang. Tak butuh waktu lama, tubuh Lupita mengejang dan menegang sampai membuat Dito menyeringai. Dito merasakan jarinya basah dan hangat akibat dari Lupita yang meraih puncak.
__ADS_1
"Sayang, masukin punya kamu cepat," Lupita kembali memohon dengan kedua tangan terus memijat bukit kembarnya sendiri.
"Baiklah, ayo kita pindah ke ranjang," ajak Dito yang merasa tidak tega juga dengan rintihan wanita yang masih dalam pengaruh obat. apa lagi obat yang Dito gunakan, memiliki dosis yang cukup tinggi. Semua itu sudah Dito persiapkan dengan matang hanya beberapa saat setelah dia mendapat tugas dari Rafi. Benar benar asisten yang bisa diandalkan.
"Waw! masih sempit aja ini lubang, pasti biaya perawatannya sangat mahal," gumam Dito saat mulai memasuki lubang milik Lupita. Pelan tapi pasti, Dito mulai menggerakkan pinggangnya dan menuruti permintaan wanita yang terbaring pasrah di bawah tubuhnya, agar Dito menyodok lubang nikmatnya dengan tempo yang sangat kencang.
Kurang lebih tiga mulut menit berlalu, Dito pun menyemburkan benihnya di dalam lubang Lupita. Di saat Dito mencabut batangnya, Lupita menolak dan meminta Dito untuk memasukkannya lagi. Bukannya menurut, Dito malah malangkah menuju kurssi yang tadi dia duduki.
"Masukin lagi, sayang. Aku masih pengin," rintih Lupita dengan memasukan jarinya sendiri ke dalam lubang miliknya.
"Sebentar," ucap Dito sembari memegang sesuatu yang tadi senmpat dia taruh di atas meja.
__ADS_1
...@@@@@...