SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Nasib Orang Susah


__ADS_3

"Sesuatu yang terlarang?"


Kalina tersenyum. Ada rasa getir saat dirinya melihat wajah lawan bicaranya yang nampak begitu terkejut. "Intinya menjijikkan, Wil. Hanya demi mempertahankan rumah orang tuaku, aku terpaksa melakukan hal kotor.


Wildan tersenyum tipis. Dia bisa menebak hal kotor apa yang dimaksud wanita itu. Wildan ingin tidak percaya dengan ucapan wanita yang sedang dia tatap, tapi wanita itu terlihat sangat jujur. "apa kamu waktu mau melakukannya, sudah berpikir secara matang?"


Kalina mengangguk lalu dia menceritakan segala hal yang terjadi sama dia, dari cerita awal yang sudah diketahui Wildan dan juga beberapa cerita yang Wildan belum tahu. Seperti saat Kalina dikejar tiga mencopet sampai dia kehilangan semua uangnya. "Bayangin saja, betapa mirisnya aku saat itu, hidup di kota besar, tanpa uang, tanpa pekerjaan, sedangkan aku punya waktu satu bulan berada berada di tempat kost ini. Seandainya aku pulang, masalah yang lebih besar pun sudah menantiku. Aku hampir gila waktu itu."


Wildan terkekeh, namun di sisi hatinya ada rasa prihatin mendengar cerita keadaan wanita itu yan baru saja dia ketahui. "berat juga ya masalah hidup kamu? Aku pikir, cuma aku yang menjalani hidupku yang berat, tapi ternyata aku tidak sendirian, meski jalan ceritanya berbeda."


Kalina kembali tersnyum tipis. Dia merubah posisi duduknya menjadi menghadap Wildan namun matanya menatap gadis cilik yang terlelap di atas kasur. Tangan Kalina terulur mengusap lembuat kepala gadis kecil itu. "Makanya, aku iri dengan Alisa. Dia memiliki kakak yang bisa melindunginya dan mungkin akan selalu membantu disetiap anak ini ada masalah. Tidak seperti aku."

__ADS_1


Wildan tersentuh melihat perlakuan wanita itu kepada sang adik. Laki laki itu bersyukur, banyak orang yang sayang sama adiknya. "Meski aku sangat sayang sama Alisa, kadang sebagai kakak, aku juga merasa lelah dengan kehadiran dia."


Seketika pandangan Kalina langsung tertuju kembali pada pemuda di hadapannya. "Kenapa bisa begitu?"


Wildan tersenyum masam. "aku nggak tahu kenapa, yang pasti jika aku merasa lelah, atau dalam suasana hati yang buruk, aku merasa kalau Alisa hanya menjadi beban dalam hidup aku. Kebebasankau sebagai seorang laki laki seakan terampas hanya untuk merawat dia sejak kecil. Sedangkan ayahku yang menyebabkan kami ada di dunia ini, menghilang demi sosok baru yang tidak mau menerima kita hidup bersamanya. Beberapa kali aku ingin meningalkan Alisa sendirian, tapi selalu saja keegoisanku kalah saat aku memikirkan nasib anak sekecil itu jika tidak ada yang merawatnya."


Suara Wildan bergetar saat mengatakan itu semua. Bahkan air matanya keluar beberapa tetes sebagai tanda kalau dia juga tidak selamanya bisa menjadi laki laki yang kuat. Kalina pun tersentuh dengan kisah yang Wildan ceritakan. Kalina kembali memandang gadis kecil di sisinya dengan penuh kehangatan.


"Beruntungnya, aku dipertemukan dengan Bang Rafi," wildan kembali menceritakan kisahnya. "Entah terbuat dari apa hati pria itu. menolong aku tanpa memandang siapa aku dan bagaimana keadaanku. Padahal kenal aja baru sehari."


Awalnya Wildan juga ikut tersenyum, tapi saat dia teringat dengan cerita Kalina, Wildan secara tiba tiba menyimpulkan sesuatu hingga senyumnya memudar dan menjadi wajah yang terlihat serius. "Apa kamu melakukan sesuatu yang menjijikan itu dengan Bang Rafi?"

__ADS_1


Kalina sontak tertegun. Sejenak dia terdiam dan memandang Wildan yang wajahnya terlhat sangat serius, lalu dia mengedarkan pandangannya ke arah lain. "Yah, saat itu memang hanya Rafi yang bisa membantuku, Wil. Tapi kamu jangan salah paham, saat itu aku yang memang memohon kepada Rafi. Awalnya juga Rafi rada keberatan, tapi aku tidak punya pilihan lain dan yah kamu tahu apa yang terjadi berikutnya."


Wildan mengangguk beberapa kali. "Boleh aku tahu, berapa uang yang kamu dapatkan?"


Kalina menghembus nafasnya secara lembut. "Awalnya sih aku nawar lima puluh juta, tapi Rafi malah memberikan uang lebih banyak. Sampai tujuh puluh juta."


"Waah! banyak juga ya uang Bang Rafi?" Wildan terlihat begitu takjub. "pantas, dia kayak enak banget gitu menolong aku. Ternyata selain kaya, Bang Rafi benar benar tidak sombong. Tapi, apa kamu tidak ingin hidup bersamanya?"


Untuk kesekian kalinya Kalina tersenyum manis. "Nggaklah, aku sudah beruntung bertemu dan ditolong sama dia. Aku nggak mau jadi wanita serakah hanya karena aku sudah ditolong Rafi. Aku hanya tinggal pasrah menunggu laki laki yang mau menerima kekuranganku."


Wildan nampak manggut manggut mendengar ucapan Kalina. Namun beberapa saat kemudian Wildan kembali bertanya, "Apa kamu juga tidak ingin merasakan kembali nikmatnya berhubungan badan?"

__ADS_1


...@@@@@@...


Terima kasih untuk reader yang masih setia mengikuti cerita ini. Terima kasih juga untuk yang sudah memberi kritik dan Saran. Tapi maaf, sebagai penulis, saya hanya kan menulis seusai dengan alur yang sudah siapkan. Jadi saya minta maaf jika saya tidak bisa mengabulkan permintaan beberapa reader untuk merubah alur cerita termasuk hadiah dari sistem dan kehidupan MC serta orang orang disekitarnya. Saya sudah jelaskan kalau kisah ini intinya soal harta. Semoga bisa dimengerti dan terimakasih


__ADS_2