SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Pembicaraan Di Dalam Mobil


__ADS_3

"Tuan?"


"Ya? Ada apa?"


"Apa kita bisa bicara empat mata?"


Rafi dan semua mata yang ada di ruang tamu panti asuhan, terperangah mendengaar permintaan salah satu wanita muda yang ada di ruangannnya itu. Jika ibu panti dan supir menatap wanita itu dengan penuh tanya, Rafi dan wanita muda yang lain, sangat tahu dengan apa yang ingin disampaikan wanita bernama Bulan.


"Ada apa. Lan? Apa ada masalah?" tanya Ibu panti yang tentunya jadi penasaran, kenapa anak asuhnya sampai berani mengajak bicara empat mata dengan orang yang memiliki nama besar.


"Tidak ada, Bu, tidak ada masalah apa apa. Hanya saja aku ingin menanyakan informasi tentang pekerjaan yang Tuan Rafi tawarkan kepadaku," Bulan berkilah tapi nanmpaknya kebohongannya bisa membuat wanita yang duduk di kursi roda itu percaya.


"Baiklah, kita bicara di depan saja," Rafi pun mengerti apa yang harus dia lakukan. Pemuda itu lantas keluar dari ruang tamu dan diikuti oleh Bulan. Sementara Pak supir diminta menunggu di dalam saja menemani ibu panti. "Ada apa?" tanya Rafi begitu mereka berdua telah menemukan tempat yang aman untuk bicara, yaitu di dalam mobil. Rafi duduk di depan, sedangkan Bulan memilih duduk di belakang.

__ADS_1


"Ini mengenai bayaran yang Tuan minta, Tuan masih ingatkan dengan apa yang saya katakan di pesta waktu itu?" tanya Bulan agak malu malu. Sesekali kepalanya menunduk, tapi cukup sering juga matanya menatap pria yang duduk di kursi depan sebelah kursi pengemudi.


"Ya, tentu aku masih sangat mengingatnya," jawab Rafi dengan nada sesantai mungkin. "Cuma aku masih bingung, emang kamu dan teman kamu itu mau bayar pakai apa?"


Mendengar jawaban Rafi, kening Bulan sontak berkerut dengan sorot menatap lawan bicaranya. "Yakin, tuan tidak tahu? Atau Tuan hanya pura pura saja, tidak tahu?"


Sekarang gantian Rafi yang kaget. "Loh, nyatanya memang aku nggak tahu. Aku memang ngomong bayar dengan apa yang kamu punya, tapi kan aku nggak tahu dengan apa yang kamu miliki," apa yang dikatakan Rafi memang benar, dia sendiri masih menerka nerka sampai saat ini, meskipun dia sudah menyimpulkan barang yang dimiliki Bulan adalah sesuatu yang ada pada tubuhnya, tapi itu belum pasti, sebelum Rafi mendengar sendiri dari mulut Bulan.


Bulan menatap Rafi dengan tatapan penuh selidik. "Tuan lagi tidak bohong kan? Masa Tuan yang ngomong ke saya, disuruh bayar dengan apa yang saya miliki, tapi Tuan tidak tahu? Dua kali loh, Tuan ngomong kaya gitu ke saya?"


Mata Bulan langsung menyipit dan masih menatap Rafi dengan tatapan yang cukup tajam, lalu tak lama setelahnya dia mendengus kasar. "Aku tahu, Tuan sedang berpura pura. Aku sangat tahu apa yang ada dipikiran pengusaha seperti Tuan. Tidak mau rugi jika memberi sesuatu."


Lagi lagi Rafi dibuat terperangah. "Astaga! Kamu nggak percaya?"

__ADS_1


"Sudahlah, Tuan. Nggak perlu berpura pura lagi. Lagian wajar jika Tuan meminta timbal balik. Mungkin ini bagian dari bisnis Tuan. Nggak mungkin kan ada orang yang rela mengeluarkan uang sepuluh miliar dengan cuma cuma. Pasti orang itu juga menginginkan sesuatu sampai berani mengeluarkan uang sebanyak itu."


Sungguh, entah sudah berapa kali Rafi terperangah mendengar ucapan Bulan yang terasa sedang menuduh. Padahal bukan seperti itu yang Rafi inginkan. Rafi tidak mengharapkan imbalan apapun dari uang yang sudah dia keluarkan. Malah dia berencana akan mengeluarkan uang lagi untuk merenovasi panti asuhan tersebut dan memperbaiki semua fasilitas yang ada.


Tapi Rafi sadar, saat ini dia sedang berdebat dengan makhluk yang bernama wanita. Sebenar apapun Rafi berkata, sejujur apapun Rafi menjelaskan, akan tetap diragukan kebenarannya oleh makhluk yang memiliki lubang enak itu. Lebih baik Rafi memilih mengalah daripada terus menyangkal, dimana setiap sangkalan akan bisa dipatahkan oleh mahluk berjenis wanita tersebut. Cara paling aman agar perdebatan dengan wanita cepat selesai adalah mengalah, karena wanita tidak mungkin mengalah.


"Oke, baiklah. Sekarang saya tanya, memang kamu mau membayar utang itu pakai apa?" tanya Rafi pada akhirnya.


Nampaknya, pertanyaan itu membuat Bulan merasa menang. terlihat dari reaksinya yang langsung mencebikkan bibrnya. "Akhirnya mau ngaku juga," cibir Bulan.


"Hahaha ..." Rafi malah terbahak. Bukan karena dia mengakui, tapi lebih kepada dia hanya mengalah dan hal itu membuat Bulan langsung merasa menang. "Udah katakan dengan jelas, kamu mau bayar pakai apa?"


"Aku mau bayar pakai ini."

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2