
Rafi cukup terkejut mendengar pengakuan dari wanita yang bukit kembarnya sedang dijadikan mainan oleh tangan kekarnya. Pemuda itu tidak menyangka jika wanita bernama Lingze sudah menawarkan dirinya pada banyak pria. Tapi dari penolakan yang Lingze lakukan, ternyata Rafi lah yang beruntung mendapatkan mahkota milik Lingze.
Dari mulut Lingze, Rafi mengetahui fakta kalau Lingze juga awalnya iseng menceritakan tentang kisahnya ke Nancy dan juga pura pura mengeluh soal uang. Maka itu Nancy mengenalkan wanita itu kepada Rafi. Saat pertama kali Lingze diperlihatkan foto Rafi, tanpa pikir panjang wanita itu langsung setuju.
Udara hari ini kembali terasa panas. Waktu yang terus bergerak maju, sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas siang lebih sedikit. Di dalam kamar, Rafi dan Lingze masih menikmati waktu istirahat mereka tanpa kain sehelaipun yang menutupi tubuh keduanya.
"Sayang," panggil Lingze dengan suara sedikit manja. Padahal mereka tidak ada hubungan spesial, tapi sejak tubuh mereka menyatu, kata sayang lebih mudah diucapkan daripada memanggil dengan nama masing masing.
"Hum?" sahut Rafi yang salah satu tangannya kini sedang membelai bagian bawah perut Lingze.
"Aku lapar," rengek Lingze.
"Mau makan apa?"
Lingze berpikir sejenak. "Itu didepan kost ada penjual bakso nggak? Kalau ada aku bakso aja."
"Ada, ya udah, ayok!"
"Bawa sini aja nggak bisa sih? Aku males pakai baju. Lagian diluar pasti panas banget."
__ADS_1
"Astaga! Ya udah kamu tungguin. Biar aku yang beli."
"Aku pakai ketupat ya?"
Rafi mengangguk, dia lalu bangkit. Tapi sebelum Rafi benar benar bangun, dia menyempatkan sejenak mulutnya untuk menyesap pucuk bukit kembar milik Lingze satu persatu. Jika tidak diingatkan oleh Lingze, mungkin Rafi akan lama memainkan bukit kembar tersebut. Rafi bangkit sambil cengengesan. Setelah memakai pakaiannya, dia bergegas keluar kamar untuk memenuhi permintaan lingze.
Tidak perlu waktu yang lama, kini dua mangkok bakso sudah tersaji di depan kedua anak manusia itu. Karena rasa lapar yang sudah sangat mendera, keduanya langsung saja melahap bakso tersebut dengan ketupat dan gorengan.
"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Rafi.
"Nanti lah kalau petang. Nggak apa apa kan?" jawab wanita yang masih tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya saat sedang makan.
"Aku udah pamit mau tidur di rumah temen. Udah biasa kok aku jarang pulang. Cuma ya baru kali ini, aku pulang dalam keadaan yang tidak tersegellagi."
Rafi terkekeh mendengarnya. Tanpa ada niat membalas ucapan Lingze, pria itu kembali fokus menikmati baksonya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, bakso dengan ketupat telah habis mereka nikmati. Rafi merapikan mangkok dan yang lainnya lalu menaruhnya di tembok yang ada di post jaga depan kamarnya.
"Kenapa itu lubangnya di usap usap? Gatel?" tanya Rafi begitu kembali ke kamar, matanya melihat Lingze yang duduk bersandar dengan kedua kaki terbuka dan lubangnya sedang dia usap dengan jarinya. Rafi memilih duduk di sisi kasur yang lain dan ikut bersandar juga.
"Iya gatel, pengin disodok lagi," jawab Lingze lalu menggerakan tubuhnya, bergeser ke arah celana rafi. Pria itu pasrah saja saat tangan Lingze kembali melepas celananya. "Kayaknya cuma kita ya, Sayang. panas panas berbuat kayak gini."
__ADS_1
"Hahaha ..." Rafi tergelak. "Ya gimana lagi, orang bisanya siang," ucap Rafi sambil mengusap lembut kepala Lingze yang mulai menikmati batang milik rafi.
Di saat bersamaan, ponsel Rafi berdering. Rafi menggeser tubuhnya sedikit untuk mengambil ponsel yang tergeletak di lantai sebelah kirinya. Setelah dicek ternyata telfon itu dari Pak Budiman. Rafi meneriman telfon tersebut dengan membiarkan Lingze terus melahap batang kotornya.
Berbicara dengan Pak Bubiman, Rafi tiba tiba memiliki sebuah ide yang cukup cemerlang. Rafi lantas meminta Pak budiman untuk bertemu di tempat kerja demi menjalakan rencananya. Awalnya Pak Budiman menyuruh Rafi ngomong langsung saja di telfon, tapi Rafi menolak. Dia memilih berbicara langsung tatap muka saja dengan Pak budiaman jika nanti pria paru baya itu sedang tidak sibuk. Pak budiman pun mengalah dan dia setuju.
Lingze masih menikmati batang Rafi saat pemuda itu mengakhiri panggilan telfronnya. "sayang, kita coba masukin dengan gaya aku duduk dipangkuanmu ya?" ucap Lingze.
"Emang udah ngga sakit?"
"Kayaknya nggak deh. Kan aku udah merasakan enak tadi, di coba yah?"
"Ya udah ayok!"
Lingze tersenyum lebar. dengan semangat wanita itu berdiri dintara tubuh Rafi. Setelah siap, Lingze perlahan menurunkan tubuhnya hingga lubangnya tepat berada d ujung batang. Rafi memegang batang miliknya dan membimbing Lingze pelan pelan agar turun hingga batang miliknya perlahan memasuki lubang nikmat diatasnya.
"Akhhh~~"
...@@@@...
__ADS_1