SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menjenguk Orang Sakit


__ADS_3

"Fi, bangun! Rafi!" seru Marisa sambil menggoyang goyang pundak pria yang tubuhnya masih terbngkus dalam selimut dengan mata terpejam. "Rafi, bangun!"


"Eugh! Apa sih Sha?? balas Rafi dengan mata terpejam dan suara yang berat khas orang bangun tidur. Rafi lalu merubah posisi tidurnya tadinya tengkurap, menjadi miring membelakangi Marisa.


"Kamu semalam melepas segitiga bermudaku, iya?" tanya Marisa. Wanita itu begitu terkejut karena saat bangun tidur, celana tipis yang menutup bagian bawah perutnya sudah terlepas dan tergeletak di lantai. "Rafi!"


"Kalau bukan aku siapa lagi, Sha?" balas Rafi sedikit geram karena tidurnya jadi terganggu.


"Ngapain kamu lepas? kamu mau menodaiku?" sungut Marisa. Tapi Rafi malah tediam dan kembali mencoba tidur, sampai membuat Marisa gemas dan langsung menggerakkan tangannya masuk ke dalam selimut lalu mencubit pinggang pria yang matanya masih terpejam.


"Aduh!" seru Rafi dengan tubuh yang terjengat sampai matanya terbuka dan menoleh ke arah Marisa. "Kamu apa apaan sih? Sakit tahu"


"Kamu yang apa apaan!" hardik Marisa tak mau kalah. "Apa yang kamu lakukan semalam? Kenapa kamu lepasin segitiga bermudaku?:


"Ya ampun, aku nggak ngapa ngapain. Aku cuma pengin lihat punya kamu doang," sungut Rafi lalu dia berpaling dengan badan yang masih terbaring.


"Yakin nggak ngapa ngapain?" Marisa masih merasa ragu.


"Iya lah. Cuma aku semalam ciumin doang sambil membelainya."


"Ih, nakal banget sih?"

__ADS_1


"Ya abis, kamu punya barang sebagus itu diumpetin mulu. Kamu aja udah lihat punya aku, masa aku nggak boleh lihat punya kamu."


Marisa sontak mencebikan bibirnya, tapi dia memilih terdiam lalu turun dari ranjang. Wanita itu memungut segitiga bermudanya kemudian dengan segera keluar dari kamar meninggalkan Rafi yang menggerutu karena tidak bisa tertidur kembali. Rafi pun terpaksa bangun untuk bersiap diri melakukan aktifitas hari ini.


Seperti pagi pagi sebelumnya, Rafi lewati pagi itu dengan berolahraga sejenak, setelah itu dia mandi dan bersiap siap menuju kantor. Sebelum ke kantor, Rafi terlebih menghabiskan waktu di meja makana, untuk menikmati sarapan yang disertai obrolan ringan ketiga penghuni utama rumah yang termasuk mewah itu.


"Fi, nanti aku temenenin beli baju pesta ya?" pinta Marisa disela sela menikmati santapannya. Rafi langsung mengangguk karena dia lagi menguyah makanannya.


"Jangan lupa bawa anak buah nanti kalau mau pergi," Moreno menasehati.


"Baik, Om," jawab Marisa.


"Tapi nanti pulang dari kantor aku mau melihat keadaan orang yang kemarin dianiaya dulu," ucap Rafi. "Aku ingin tahu keadaan dia bagaimana dan perkembangan kasusnya udah dtiindak apa belum."


Setelah sarapan selesai, Rafi dan Moreno, seperti biasa berangkat kebkantor bersama sama. Hari ini masih banyak yang harus Rafi pelajari. Ada beberapa bagian dari kantor yang belum Rafi datangi dan hari ini rencananya Rafi akan menyambanginya.


Tanpa terasa waktu terus bergulir. Sesuai rencana, Rafi menyambangi beberapa bagian kantor seperti bagian keuangan dan lainnya. Begitu pelajaran selesai, Rafi beranjak ke kantor ayah angkatnya untuk makan siang. Karena kebetulan, Rafi selesai belajar bertepatan dengan jam makan siang. Begitu selesai makan siang, seperti yang direncanakan, Rafi meluncur ke rumah sakit.


Kedatangan Rafi di sana, disambut dengan baik oleh orang yang kemarin mendapat penganiayaan karena mendapat tuduhan palsu. Saat Rafi memasuki ruang rawat inap pria itu, kening Rafi sontak berekut. Di sana selain ada dua orang pria dan wanita yang katanya kakak adik, di ruangan itu juga dua anak kecil yang Rafi menduga kalau mereka adalah adik dari pria itu. Rafi sedikit heran, karena disana dia tidak melihat orang tua diantara empat orang itu.


"Gimana keadaan kamu? Udah mendingan?" tanya Rafi ramah pada pria yang sedang terbaring lemah.

__ADS_1


"Agak mendingan, Tuan. terima kasih," ucap si pria merasa senang karena Rafi kembali datang.


"Syukurlah," balas Rafi lega. "Apa pihak supermarket udah datang?"


"Sudah, Tuan, semalam," jawab si wanita yang merupakan adik si pasien.


Rafi pun mengaguk merasa senang. Di saat bersamaan, kakak dan adik itu saling pandang dan saling memberi kode dengan mata untuk menjalankan rencana mereka.


"Tuan, kita bisa bicata sebentar tidak?"


Kening Rafi seketika berkerut. "Apa ada masalah?" tanya Rafi menatap dua orang yang ada di hadapannya secara bergantian.


"Sebaiknya tuan ikut saya, kita bicara di depan saja," ajak si wanita dan Rafi nampak mengangguk sebagai tanda setuju. Dia lantas mengikuti adik dari pria itu keluar ruangan.


"Ada apa?" tanya Rafi begitu mereka sudah berada d depan ruangan.


"Saya mau minta bantuan kepada, Tuan, bisa?" tanya wanita agak ragu.


"Bantuan apa?"


Wanita itu menduduk. "Kami sedang butuh uang, apa Tuan mau membeli kesucian saya?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2