
"Fi, aku takut."
"Udah, nggak usah takut. Siang siang mana ada setan."
Marisa semakin merapatkan tubuhnya sampai jiwa laki laki Rafi memberontak. Tubuh Marisa yang terlalu menempel membuat bulatan yang ada pada dada wanita itu menekan lengan Rafi dan hal itu menghadirkan sensasi yang luar biasa pada pria itu. Rafi hanya diam karena biar bagaiamanapun dia menikmati momen yang jarang sekali terjadi.
"Ssttt .."
"Suara apa itu, Fi?" tanya Marisa semakin ketakutan saat terdengar suara mendesis dari dalam gudang. "Jangan jangan ada ular?"
"Kita lihat dulu," Rafi terus melangkah maju dan Marisa makin merapatkan tubuhnya. Begitu mereka sudah dekat dengan gudang, Rafi melebarkan pintu yang sudah terbuka sedikit. Saat kepalanya melongok area gudang, mata Rafi membelalak melihat sesuatu di sana. "kamu siapa!" pekik Rafi lantang.
Mendengar teriakan Rafi, seseorang yang berada di dalam gudang terlihat sangat terkejut sampai dia langsung menoleh dan matanya membelalak. Rafi langsung masuk dan menyalakan lampu gudang, diikuti oleh Marisa yang masih bergelayut pada lengan pria itu.
"Maaf, aku ..."
"Keluar!" teriak Rafi kencang. "Bisa bisanya masuk rumah orang sembarangan!"
Wanita itu mengangguk lemah, lalu dia mencoba bangkit dari duduknya. Terlihat wanita itu sempat meringis sambil memegang lengan kanannya. Betapa terkejutnya Rafi dan Marisa, saat melihat darah pada lengan wanita itu. "Kamu terluka!" seru Rafi, wanita itu mengangguk lemah.
"Fi, wajahnya sangat pucat. mending suruh duduk di depan dulu deh," usul Marisa sembari melepaskan tangannya di lengan Rafi dan melangkah mendekati wanita yang nampak sedang kesakitan lalu menggandengnya. "Ikut, aku, Mbak."
__ADS_1
Wanita itu mengangguk. Begitu kedua wanita itu keluar, Rafi memperhatikan ke segala penjuru ruanga tersebut. Ada beberapa tetesan darah tercecer di lantai. Rafi juga meihat bungkusan dari kain yang cukup besar, lalu dia memungutnya. "Apa ini?"
"Fi, ada kotak obat nggak? Tangannya kayaknya terluka agak parah itu," ucap Marisa yang trlihat tidak tega dengan keadaan wanita itu.
Rafi pun memperhatikan tangan kiri milik wanita itu yang sedang dipegangi dengan tangan kanan. "Itu bisa luka kayak gitu kenapa? Kok kayak bekas sayatan?"
"Kena kaca," jawab wanita itu lirih dan suaranya bergetar.
"Astaga! Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Fi, cari tahunya nanti aja bisa nggak? Orang lagi kesakitan gitu, bukannya diobatin, malah diwawancarin," sungut Marisa.
"Iya, iya. Aku ke apotik dulu. Disini nggak ada kotak obat. Apa aja yang dibutuhkan?"
"Nih," Rafi menyodorkan barang barang yang baru saja dibeli. Di atas meja, Marisa sudah menyiapkan air hangat dan begitu Rafi menyerahkan obat yang dia pesen, Marisa langsung merawat luka wanita itu dengan pelan dan hati hati. Rafi yang melihat sikap Marisa begitu lembut dan telaten sempat tertegun dan terpana. "Anak bos bisa kalem juga ternyata," gumamnya dalam hati.
"Kamu kenapa bisa terluka kayak gini?" tanya Marisa sambil mengeringkan luka dengan tisu setelah dicuci air hangat yang dicampur antiseptik.
wanita itu menghembus nafasnya dengan pelan. "Ini karena aku melawan orang yang mau menjualku."
"Menjualmu?" tanya Rafi dan Marisa hampir bersamaan. Wanita itu mengangguk lemah.
__ADS_1
Kening Rafi berkerut dengan mata yang terus memperhatikan dua wanita yang ada di hadapannya. Beberapa saat kemudian, mata Rafi membelalak. "Bukankah kamu wanita yang tadi dicari olen dua orang?"
Mendengar pertanyaan Rafi, dua wanita yang ada disana langsung menoleh ke arah Rafi. "maksudmu, Fi?" tanya Marisa.
Rafi sontak menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu saat kedatangan dua pria yang mencari seorang gadis. "Orang yang dicari itu kamu, kan? lalu kamu kapan bisa masuk ke dalan sini?"
Wanita itu mengangguk. "Maaf, aku terpaksa melakukannya karena ternyata aku ditipu oleh pacarku, salah satu dari mereka itu pacarku."
Sekarang mata Rafi dan Marisa menatap ke arah wanita yang terluka. Wajah mereka terlihat terkejut. "Ditipu kenapa?" tanya Marisa yang baru saja mengolesi obat dan bersiap menutup luka itu dengan kain perban.
"Aku ditawarin kerja oleh pacarku. Katanya kerjanya enak. karena aku beneran percaya sama dia, aku terima tawaran kerjanya. Apa lagi pacarku bilang akan menangung semua ongkosku selama aku merantau. Aku tergiur kan. Tapi ternyata, aku malah akan dijual oleh dia."
"Astaga! Kok sampai segitunya? Terus kamu bisa terkena sayatan kaca itu kenapa?"
"Ini karena waktu aku mau kabur, aku hampir ketahuan. Aku melewati jendela yang kacanya pecah buat kabur."
"Ya amaun! Kok bisa kayak gitu?"
Wanita itu mengangguk lemah. "Mbak, Mas, apa boleh aku numpang nginap disini sementara?"
Rafi dan Marisa langsung saling pandang.
__ADS_1
...@@@@@...