SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Saat Sergio Tak Berdaya


__ADS_3

Setelah mengetahui kabar dari orang yang mendapat tugas untuk memantau keadaan Sergio di rumah sakit, Rafi memrintahkan Dito untuk segera pulang ke rumah. Ada rasa puas dalam diri Rafi ketika mengetahui rencananya secara perlahan berhasil, meski pada sisi hati yang lain, Rafi masih ada rasa tidak ingin melakukan balas dendam.


Yang namanya hati ada dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Sisi hati Rafi yang baik sangat menentang perbuatannya kepada Sergio maupun orang orang jahat lainnya. Tapi sisi hati yang buruk seakan terus membujuk Rafi untuk membalaskan dendam, atas apa yang telah menimpa pada dirinya. Apa lagi, pihak yang Sergio awalnya tidak merasa bersalah, justru malah merongrong, seperti memprovokasi, jadi sisi hati yang buruk lah, yang diambil keputusannya saat ini oleh Rafi.


Begitu sampai rumah, Rafi segera turun dari mobilnya dan melangkah dengan santai menuju pintu utama. Hanya ada dua asisten yang menyambutnya pulang, tidak ada Marisa di sana. Rafi tahu saat ini pasti wanita itu ada di kamarnya sedang menghadap laptop. Rafi pun bergegas kesana sembari melonggarkan jeratan dasi di lehernya.


"Marisa! Kamu lagi ngapain?" pekik Rafi begitu pintu kamar dibuka, dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Marisa saat ini.


"Kejutan!" Marisa tersenyum senang sambil berdiri bertolak pinggang.


Rafi tersenyum sambil menutup pintu kamar lalu mendekat ke arah Marisa yang berdiri dengan seksi di tepi ranjang. "Hahaha .. kamu ada ada aja," mata Rafi menelisik tubuh wanita di hadapannya. "Kenapa kamu nggak pakai baju? Dan ini apa? Kenapa si gemoy dikasih pita begini?" tanya Rafi sambil mengusap bagian bawah perut Marisa yang tidak ditutupi apapun.


"Ya namanya juga kejutan," Marisa langsung memeluk Rafi. "Terima kasih, kamu sudah menghancurkan Om Sergio, Fi."


Rafi pun membalas pelukan wanita yan tidak memakai busana. "Jadi karena Sergio, sampai bawah perut kamu dikasih pita segala?"


"Hehehe ... itukan sebagai perayaan dan juga tanda, kalau lubang aku sudah siap kamu masukin untuk pertama kalinya."

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Rafi terperangah, dan Marisa langsung mengiyakan. "Tapi sepertinya tidak untuk sekarang deh, Sha."


Kening Marisa berkerut dan dia melepas pelukannya lalu menatap Rafi penuh tanya. "Kenapa? Giliran aku sudah siap dimasukin, kamu malah menolaknya?"


Rafi malah tersenyum dan mengusap pipi wanita yang wajahnya agak cemberut karena kecewa atas penolakannya. "Bukannya aku menolak, kita kan berencana akan menikah, nggak seru dong kalau malam pertama kita nanti, segel kamu udah jebol. Setidaknya, kita bikin malam pertama yang berkesan nantinya."


Marisa terdiam, tapi tak lama setelahnya senyum wanita itu terkembang dan kembali memeluk Rafi serta menenggalkan kepalanya di dada bidang cowok itu. "Emang kapan kamu akan melamar aku?"


"Ya nunggu Daddy kamu pulang. Nanti saat aku akan menemui Tuan Alexander, aku akan melamar kamu sekalian. Tapi Daddy kamu sudah pasti menerima aku jadi menantunya kan, Sha?"


Rafi pun tersenyum. Tak lama setelahnya, pria itu melepas pelukan Marisa lalu berjongkok menatap gundukan tembem bercelah yang ada diantara paha wanita di depannya. Tangan Rafi membelai benda itu dengan lembut. "Ini dapat ide darimana, sampai lubang nikmat kamu dikasih pita kayak gini, Sha? Udah montok, pake dikasih pita, makin menggemaskan aja."


Marisa tersenyum lebar. "Aku dapat ide setelah baca novel online. Ada tuh wanitanya ngasih pita di lubang nikmatnya sebagai hadiah ulang tahun dan pernikahan ke suaminya. Novelnya lucu dan seru. Makanya aku ikutin gaya dia."


"Astaga! Tapi jadi tambah menggemaskan banget ini," Rafi lantas melayangkan kecupan beberapa kali ke gundukan daging terbelah milik Marisa. Wanita itu hanya pasrah saja, karena Rafi memang sudah terbiasa melakukannya.


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit, kabar Sergio yang kena gelaja stroke, tentu saja sangat mengejutkan keluarga Cahaya Gemilang. Mereka saat ini sedang berkumpul di depan ruang pria yang saat ini sedang tidak berdaya, kecuali Lupita dan ayahnya.

__ADS_1


"Kamu sudah lapor polisi belum tentang kejadian yang menimpa suami kamu?" tanya ayah mertua Sergio kepada anaknya yang saat ini sama sama duduk di sofa dalam ruangan.


"Belum, orang dari tadi aku di rumah sakit, nggak ada yang bisa gantiin jaga dia," tanya Lupita dengan wajah cemberut.


"Kamu sudah hubungi istri pertamanya? Anak anaknya harus dikasih tahu dan suruh gantian jaga dan merawat Sergio saja."


"Mau menghubungi lewat apa? Mereka kemana aja aku nggak tahu," jawab Lupita ketus dengan menatap pria yang terpejam di atas brangkar.


"Emang kamu mau merawat pria stroke sendirian?"


"Ya gimana, selama harta Sergio belum jatuh ke tanganku, aku memang harus melakukannya, bukan?"


Deg!


Ada hati yang mencelos begitu mendengar ucapan Lupita.


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2