
"Kok kamu nggak pake baju tidur yang seksi sih, Sha?" protes Rafi begitu dia masuk ke dalam kamar dan melihat Marisa yang sudah terbaring di atas kasur. Malam hari ini Marisa memang memakai baju tidur yang biasa. Sebuah baju atasan yang panjang dan juga celananya yang panjang juga.
"Adanya cuma pakaian ini, lagian aku lupa membawanya," jawab Marisa tanpa menoleh ke arah orang yang bertanya. Matanya sedang asyik menatap layar ponsel.
"Kenapa nggak bawa? Kan aku sudah bilang bawa baju ganti karena kita akan nginep di sini," Rafi masih tidak terima. Entah kenapa dia terlihat kesal hanya gara gara baju tidur yang dipakai Marisa.
Karena sedikit jengah, Marisa meletakan ponselnya di lantai dekat kasur lalu menatap Rafi dengan tatapan yang cukup tajam. "Ya namanya lupa apa salahnya sih. Fi? Kok malah kamu marah sampai segitunya? Lagian apa masalahnya jika memakai baju tidur seperti ini?"
Seketika Rafi langsung mendengus kesal mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Marisa. Rafi merasa, Marisa tidak peka dengan apa yang membuat Rafi marah. Pemuda itu mendekat dan duduk di atas kasur, di samping Marisa. Tangannya bergerak meraih kancing baju Marisa dan melepaskannya satu persatu.
__ADS_1
Melihat tingkah Rafi, Marisa sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali karena merasa heran dan juga gemas. Hanya gara gara ingin menikmati bukit kembar milik Marisa, Rafi harus meluapkan rasa kesalnya terlebih dahulu. Kini kancing baju Marisa sudah terlepas semuanya dan bukit kembarnya juga sudah keluar dari kain penjerat yang Marisa pakai.
"Nah, kalau gini kan enak," seru Rafi setelah mengeluarkan bukit kembar kesukaanya. "Jangan di tutup lagi, aku mau ke kamar mandi sebentar," tanpa menjawab, Marisa kembali meraih ponsel miliknya dan melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan sejak tadi. Sementara Rafi beranjak menuju kamar mandi guna bersih bersih sedikit.
Tak butuh waktu lama, Rafi keluar kamar mandi hanya menggunakan celana kolor pendek seperti biasanya. Rafi langsung merebahkan tubuhnya di samping Marisa, dan tak lupa mulutnya langsung menyesap pucuk bukit kembar Marisa dengan rakusnya seperti bayi yang sedang kehausan.
Sementara itu di kamar kost yang letaknya tidak jauh dari kamar yang digunakan Rafi, Dito sedang menghajar wanita yang bersamanya. Bukan menghajar dengan menyakitinya seperti memukul atau perbuatan kasar lainnya, tapi Dito menghajarnya dengan permaianan ranjang yang cukup kasar.
Mesikpun diperlakukan seperti itu, nampaknya si wanita sangat senang. Dia bahkan langsung melaksanakan perintah Dito tanpa pikir panjang. Tangannya bergerak memegang batang Dito dan membimbingnya hingga memasuki mulutnya. Dito juga sesekali menggerakan pinggangnya dan melekukan penyodokan sampai batangnya menyentuh tenggorokan si wanita. Lawan main Dito sampai gelagapan saat Dito menahan batangnya yang sampai ke dalam tenggorokan wanita itu.
__ADS_1
Puas menyiksa mulut si wanita selama beberapa menit, Dito merubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas kasur dengan punggung bersandar pada tembok. Kakinya lurus agak membentang dan dia langsung meminta si wanita agar duduk dipangkuannya. Lawan main Dito langsung tersenyum lebar dan kelihatan sangat senang.Tanpa pikir panjang dia bangkit dan langsung menuruti perintah Dito.
"Akhh~~" racau si wanita saat batang kekar dan hitam milik Dito perlahan memasuki lubang yang masih terasa sempit meski sudah disodok beberapa kali oleh berbagai bentuk batang milik para pria. Wanita itu benar benar merawat aset pribadinya karena dia tahu aset pribadinya saat ini adalah sumber keuangan baginya
Wanita itu mulai meracau keenakan begitu tubuhnya bergerak naik turun di atas pangkuan Dito. Dia semakin melayang saat lelaki yang bersmanya juga tidak membiarkan bukit kembarnya bergerak liar mengikuti gerakan tubuhnya. Dengan sigap, tangan dan mulut Dito menangkap bukit kembar yang bergerak cukup liar itu dan memainkannya.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, sampailah Dito pada puncak permainannya. Batangnya menyemburkan carian putih hangat nan kental di dalam lubang nikmat si wanita yang tergolek pasrah di bawah kungkungannya. Begitu tuntas mengeluarkan beban di batangnya, tubuh Dito langsung ambruk karena permainan yang dia lakukan malam ini sangat menguras tenaga.
Melihat Dito yang terkapar kelelahan, wanita itu bergerak, menggeser tubuhnya dan merebahkan kepalanya di dada bidang pria yang sudah memuaskan. Keduanya tidak saling bicara. Mereka tenggelam dalam rasa lelah. Namun si wanita menyeringai, dalam hatinya dia sangat senang karena berhasil menjebak pria yang dia sangka adalah Rafi.
__ADS_1
...@@@@@@...