SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Di Kamar Berdua


__ADS_3

Pukul delapan malam lebih tiga puluh menit, Rafi dan Marisa akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Di sana, kedatangan mereka langsung disambut oleh Nadia yang memang sejak Rafi berangkat menjemput Marisa, Nadia menggantikan Rafi berjaga di tempat kost tersebut.


Rafi langsung mengembalikan motor yang dia pinjam ke salah salah satu pedagang yang ada disana. Tak lupa juga Rafi memberikan imbalan yang pantas untuk menyenangkan si pemilik motor. Begitu urusan motor selesai, Rafi kembali ke tempat kost. Di ruang tamu terlihat Nadia dan Marisa berada di sana. Rafi memilih masuk ke kamarnya terlebih dahulu baru bergabung dengan dua wanita itu.


"Fi, kata Nadia, besok dia akan pulang. Bukankah lebih baik dia disuruh bekerja disni dulu bantuin kamu?" tanya Marisa begitu Rafi masuk dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Nampaknya Marisa dan Nadia sudah saling mengenalkan diri satu sama lain.


Rafi menatap dua wanita yang ada di hadapannya. "Nadia lebih dibutuhkan di rumahnya, Non. kasihan ibunya kalau dia ada di sini," jawab Rafi.


"Tapi kan dia butuh pekerjaan, Fi?" dari pertanyaan yang dilontarkan Marisa, Rafi mengerti kalau Nadia tidak menceritakan apa yang sudah terjadi diantara mereka. Rafi cukup lega mengetahui kalau Nadia bisa menyimpan rahasia itu.


"Mbak, nggak usah khawatir, kebetulan aku dapat kabar kalau disana ada yang mau menerimaku bekerja. Beruntung Mas Rafi mau minjemin uang buat beli ponsel dan tiket," ucap Nadia dusta dan nampaknya Marisa cukup percaya.


"Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusan kamu. Semoga kamu nggak kena tipu lagi," ucap marisa lalu dia bangkit keluar dari ruang tamu menuju kamar Rafi.


"Makasih ya, Mas, sudah menolongku sampai sejauh ini. Aku nggak tahu kalau nggak ketemu Mas Rafi, entah nasib apa yang akan menimpaku," ucap Nadia tulus dan wajahnya terlihat lebih ceria.


"Sama sama. Aku juga senang bisa membantumu," jawab Rafi dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Seandainya malam ini Mbak Marisa nggak datang, aku masih sanggup menemani kamu tidur, Mas."


Rafi tertawa kecil. "Hrhehe ... Ya udah lah nggak apa apa. Toh kita juga seharian sudah bersama bukan?"


Wanita itu mengangguk dan tak lama kemudian, mereka mengakhiri obrolannya karena waktu yang sudah menjelang larut. Kali ini pukul sepuluh malam Rafi sudah mengunci pintu gerbang tempat kost dan memastikan semuanya sudah berada di tempatnya. Kini saatnya dia istirahat.


ketika Rafi masuk kamar, terlihat Marisa sedang sibuk dengan ponselnya. Rafi pun terlihat bingung saat mau merebahkan tubuhnya. Marisa yang melihat Rafi masih berdiri di dekat pintu kamar langsung mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu masih berdiri disitu?" tanya Marisa.


Rafi menghembus nafasnya secara kasar. "Gimana aku mau tidur, orang kasur sempit seperti itu di kuasai oleh kamu."


Rafi langsung mencebikkan bibirnya dan melangkah menuju ke sebelah Marisa lalu merebahkan diri dengan badan telentang. Marisa pun mengangkat kepalanya dan meletakkannya di dada kanan Rafi sampai pria itu terjengat karena kaget dan membuat jantung Rafi berdegup sangat kencang.


"Besok beli kasur yang rada luas sedikit, Fi," ucap Marisa yang dengan cueknya melingkarkan tanganya di perut rata pemuda yang terbaring di sisinya.


"Apa Nona seriang melakukan hal seperti saat berada diluar negeri? Tidur dengan laki laki sampai kayak gini?" bukannya menjawab soal kasur, Rafi malah memilih melempar pertanyaan yang berkesan menyelidiki.

__ADS_1


"Ya nggak sering juga. Lagian, aku kan di luar negeri satu kamar dengan cewek. Kenapa? Kamu pasti mikirnya aku wanita gampangan kan?" terka Marisa tanpa menatap lawan bicaranya.


"Ya wajar kan, kalau aku mikirnya kayak gitu. Sekarang aja, Nona terlalu nempel sama aku. Padahal kita baru kenal beberapa hari, tapi Nona seenaknya minta tidur satu kamar. Aku cowok normal loh, Non."


Senyum Marisa melebar, lalu dia mengangkat kepalanya dan mendongak, menatap wajah pria yang sedang menatapnya dengan serius. "Emang kenapa kalau kamu normal? Apa aku harus takut gitu? Takut kamu berbuat yang tidak tidak?"


"Ya kan bisa saja. Kalau aku terus terusan digoda kayak gini nanti aku menginginkannya gimana? Kan nona yang mancing mancing."


"Terus? Kalau aku tidak mau? Kamu akan memaksaku, begitu?"


"Ya kalau terpaksanya kayak gitu gimana?"


"Ya jangan main paksa lah, Fi. katanya sih kalau main paksa itu nggak enak."


"Katanya? Emang Nona belum pernah melakukannya? Kok tahu enak atau enggak?"


Marisa sontak tersenyum dan merebahkan kembali kepalanya di dada Rafi, tanpa peduli kalau pemuda itu sedang menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2