SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Membungkam Mulut Orang Sombong


__ADS_3

"Rafianda syahputra, presiden direktur Folcano grup!" pekik pria berdasi saat membaca kartu yang dia terima. Dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya, pria berdasi yang diperkirakan usianya tidak jauh beda dengan Moreno itu benar benar dibuat terbungkam dengan apa yang baru saja dia baca. Matanya seketika menatap pria yang di panggil Tuan muda setelah membaca kartu kecil itu. "Anda presdir dari Folcano grup? Bukankah perusahan itu milik orang Italia?"


Mendengar pertanyaaan dengan suara yang bergetar membuat Rafi seketika menyeringai. "Ya, memang, ayah saya yang mendirikannya, sekarang bawa mobil anda ke bengkel resmi perusahaan saya dan tunjukan kartu pengenal itu. Anda tahu bukan, tidak sembarang orang mendapat kartu akses tersebut?" ucapan Rafi benar benar membuat nyali pria sombong itu menciut seketika.


"Bagaimana mungkin?" pria berdasi itu bergumam dalam suasana hati yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


"Kenapa? Apa kartu nama yang saya berikan membuat kesombongan anda merasa ternodai? Atau mungkin anda tidak terima, ada orang yang lain yang lebih kaya dari anda?" cecar Rafi dengan menahan rasa geramnya. "Hanya gara gara anda memiliki mobil hasil dari perusahaan saya, anda merasa menjadi orang yang paling kaya? Ingat, mobil seperti ini masih ada lima puluh delapan unit yang belum terjual dari dua ratus unit yang ada. Jadi masih banyak orang yang setara dengan kekayaan anda, atau mungkin lebih kaya dari anda. paham!"


Puas meluapkan apa yang ada dalam pikirannya, Rafi langsung mengajak wanita yang masih dilanda rasa takut itu untuk menepi, meninggalkan pria yang benar benar ternganga setelah mendengar sindiran halus yang Rafi lontarkan. Dengan segala rasa kesal yang ada, pria itu memilih masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih, Tuan," ucap wanita kelihatannya usianya lebih muda dari Rafi.

__ADS_1


"Tidak perlu dipikirkan lagi, sekarang kita tunggu saja supir saya datang," balas Rafi dan wanita itu hanya mengangguk. Seketika suasana diantara keduanya menjadi hening karena tidak ada percakapan yang tercipta pada dua orang tersebut. Hanya ada suara bising dari lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan raya. Wanita itu memilih memperhatikan motornya yang rusak cukup parah.


"Di bawa bengkel aja. Sepertinya rusaknya cukup parah," ucap Rafi yang ternyata memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu.


"Gampang, Tuan, nanti aja. Saat ini aku lebih khawatir sama ibu aku," jawaban si wanita hanya mampu dibalas dengan anggukan beberapa kali oleh Rafi. Tak lama setelah itu, mobil yang sedang Rafi tunggu pun datang. Rafi segera saja mengajak wanita itu untuk naik ke dalam mobilnya. Awalnya wanita itu agak ragu, tapi karena dia juga khawatir dengan keadaan ibunya, wanita itu mau tidak mau, setuju untuk ikut dengan Rafi.


"Nanti motor saya, gimana, tuan?


"Sus, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya wanita itu saat sudah berada di dekat brangkar ibunya dan melihat seorang suster sedang memeriksa keadaan ibunya.


"Ibu anda baik baik saja, hanya saja kakinya ada yang retak sedikit jadi perlu penanganan yang lebih serisus. Untuk keseluruhan tidak ada cedera yang lebih parah. Sementara ini Ibu anda harus menjalani rawat inap agar besok bisa di cek lagi oleh dokter."

__ADS_1


Jawaban yang terlontar dari mulut sang suster, membuat wanita itu mengangguk lemah. Rafi yang memperhatikan hal itu memilih diam saja. Begitu suster pergi, baru Rafi mengeluarkan suaranya. "Apa ada masalah?"


Wanita yang sedang menatap sang ibu itu seketika mendongak dan menatap Rafi, lalu menggeleng. "Tidak ada, Tuan," jawab wanita itu dengan suara yang pelan. Kemudian matanya kembali memandang sang ibu yang matanya sedang terpejam.


Rafi pun hanya mengangguk beberapa kali kemudian matanya juga menatap ke arah yang sama dengan wanita itu. "Jika tidak ada masalah, ya sudah, saya permisi dulu," ucap Rafi beberapa saaat kemudian.


"Baik, Tuan, terima kasih atas bantuan," balas wanita itu lagi. Rafi kembali mengangguk dan dia langsung mengucapkan kata pamit.


Namun saat kaki Rafi baru beberapa kali melangkah dan masih berada di balik tirai yang membatasi tempat perawatan ibu dari wanita itu, telinga Rafi dikejutkan oleh suara si wanita yang langsung mngeluh dengan nada yang bergetar.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2