SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kabar Yang Ditunggu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mobil yang dikendarai Dito telah sampi di depan bangunan megah nan mewah dimana tempat itu menjadi tempat tinggal Dito setelah bekerja di sana. Begitu mobil terparkir dengan sempurna, kedua pria yang usianya terbilang masih muda itu, keluar dari dalam mobil yang harganya sangat fantastis.


"Selamat malam, Dad," sapa Rafi kepada pria tua yang sedang duduk di kursi belakang sendirian dengan di temani secangkir kopi dan juga laptop. Tentunya isi laptop itu hanya sebuah pekerjaan yang cukup banyak dan memusingkan.


"Selamat malam, Nak. Kamu baru sampai?" balas Moreno sembari menghentikan pekerjaannya sejenak.


Rafi mengiyakan. "Ada kejadian apa, Dad di kantor? Nggak ada masalah kan?"


Moreno tersenyum tipis. "Tidak ada masalah serius. Itu anak anak buah Sergio mau kamu apain, Nak?"


Rafi pun tersenyum tipis. "Biarin aja dulu, Dad. Paling akan aku gunakwn buat mancing Sergio terlebih dahulu. Daddy pasti tahu lah, hal hal seperti itu."


Moreno langsung mengangguk sebagai tanda kalau dia memang mengerti. "Yang penting main rapi. Jangan meninggalkan jejak apapun."


"Beres, Dad," Rafi lalu bangkit dari duduknya. "Kalau gitu, aku ke kamar dulu, Dad." Moreno hanya mengangguk lalu dia kembali menatap layar laptop untuk meneruskan pekerjaannya. Rafi sendiri langsung saja menuju ke kamarnya. Bahkan tawaran makan malam dari asisten rumah tangga, Rafi abaikan. Dia dan Dito memang sudah makan tadi di tengah perjalanannya pulang.

__ADS_1


"Marisa!" pekik Rafi dengan mata membelalak. Betapa terkejutnya pemuda itu saat membuka pintu kamar dan di dalamnya sudah ada sosok yang beberapa hari ini tidak menemaninya tidur. Rafi bergegas masuk menghampiri wanita yang sedang duduk sofa kamarnya dengan pakaian yang super seksi. "Kamu kok pulang nggak bilang bilang sih?"


Marisa masih tersenyum sampai Rafi duduk di sampingnya. Mereka lantas berpelukan sangat erat. "Kalau aku bilang sama kamu, namanya bukan kejutan dong. Lagian pas aku telfon asisten rumah, katanya kamu sedang pulang kampung, ya udah, kesempatan aku buat ngasih kejutan."


Rafi mendengus sembari melepaskan pelukannya. "Gimana kabar Tuan Alexander?"


"Daddy baik dan dia akan kembali dalam waktu dekat ini. Dia juga ingin bertemu sama kamu."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya," Rafi lantas memperhatikan wanita yang ada di hadapannya. "Kamu kenapa pakai baju seperti ini sih? mending lepas sekalian aja sih?"


"Hehehe ... kangen tahu. Beberapa hari nggak kenyot bukit kembar kamu, aku sampai susah tidur loh," ucap Rafi lalu mulutnya mulai menyesap satu persatu bukit kembar yang sangat montok itu.


"Soal gadis panti gmana? Udah selesai urusannya?" tanya Marisa sambil mengusap lembut rambut Rafi yang sedang menikmati bukit kembarrnya.


"Belum, nanti aku selesaikan, jika urusan Sergio sudah selesai."

__ADS_1


"Emang Om Sergio ngapain lagi?"


Rafi sontak memnyeringai, "Ada deh, nanti kamu bakalan tahu. Dan setelah itu, kamu harus siap siap menyerahkan lubang kamu untuk aku." Marisa hanya membalas dengan senyuman lalu kembali pasrah saat bukit kembarnya Rafi mainkan.


Hingga hari berikutnya, Sergio benar benar dibuat gelisah saat ini. Sudah dua hari orang orang suruhannya tidak memberi kabar apapun. Tapi Sergio sangat yakin kalau orang orang dari jaringan tato tulang ikan pasti saat ini berhasil dengan pekerjaannya. Sergio begitu yakin karena Rafi juga tidak terlihat berada di kantornya.


Kemarin di saat Rafi menunda kepulangannya ke kota, ternyata diam diam Sergio datang ke kantor Rafi dan berbasa basi, bertanya pada wanita yang bekerja sebagai resepsionis kantor milik Rafi. Dari wanita itulah Sergio tahu kalau Rafi menunda kepulangannya karena ada urusan di kampung. Sedangkan Sergio sebelumnya mendapat kabar dari ketua jaringan TGM kalau petang itu mereka sedang mengikuti mobil Rafi dan bersikap menyerangnya.


Dari kejadian itulah, Sergio sangat yakin kalau jaringan TGM telah berhasil menghabisi Rafi. Tapi yang membuat Sergio resah, sampai saat ini orang orang TGM belum memberi kabar apapun. Padahal Sergio sangat menunggu kabar baik yang sudah menari nari dipikirannya.


Di saat Sergio sedang duduk dalam rasa gelisahnya, ponsel di hadapannya menyala dan berbunyi. Sergio langsung meraih ponselnya dan matanya membelalak saat membaca pesan yang masuk. Tak lama setelah itu, Sergio tersenyum senang.


"Akhirnya, waktu yang aku tunggu tiba. Sebentar lagi, kamu akan aku buat menyusul ayah kamu, Rafi," ucap Sergio sambil menyeringai dengan mata menatap layar ponsel yang menunjukan foto, Rafi sedang terikat di sebuah kursi.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2