SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Manusia Tidak Sempurna


__ADS_3

"Rafi kerja kantoran?"


Wildan mengangguk. "Katanya sih gitu, emang kenapa, Mbak? Ada masalah?"


"Ya nggak ada apa apa sih?" kilah wanita itu. "Ya udah deh, Mas, kalau gitu aku permisi dulu." wanita itu lantas pergi setelah dipersilakan oleh Wildan. kening Wildan dan wanita yang sedari tadi berada di post jaga sempat mengernyit merasa heran.


"Kamu kenal dengan wanita itu, Wil?" tanya wanita yang duduk bersama Wildan. dia adalah Kalina.


"Temannya Bang Rafi. Pernah datang ke sini beberapa hari yang lalu," jawab Wildan dengan mata yang terus memandang wanita yang tadi datang, Tatapan Wildan beralih ketika mobil yang dikendarai wanita itu menghilang dari pandangannya.


"Cantik ya?" puji kalina dan ucapannya sukses membuat Wildan menatapnya.


"Kamu cemburu?" tanya Wildan penuh selidik.


"Cemburu sih nggak, cuma kan kalau aku mau menyukai Rafi, aku harus sadar diri. Lihat wanita itu tadi? Cantik banget kan?"


Wildan lantas tersenyum. "Lagian Bang Rafi juga sedang dekat dengan cewek. Malah cewek itu ikut bang Rafi tinggal di rumah yang sekarang."

__ADS_1


Kening Kalina kembali berkerut. " Kok kamu tahu? Apa kamu pernah melihatnya?"


"Ya pernah. Malah sejak aku pertama kerja di sini, wanita itu tinggal disini. Cantik kok ceweknya, kayak orang luar negeri gitu. malah lebih cantik dia daripada wanita yang tadi."


Kalina tertawa kecil. "Berarti aku kalah makin jauh dong, hehehe ..."


Wildan ikut terkekeh. "Eh tapi kita kapan berangkat ke kampung kamu ya? Aku mau tanya bang Rafi katanya nunggu kamu sembuh dulu."


Kalina menoleh ke arah gadis kecil yang sedang bermain dengan mainannya. "Ya kita tunggu aja. Lagian kan Rafi meminta agar kita bisa akrab dulu, biar nanti saat pura pura jadi pasangan kekasih, kita bisa lebih menjiwai."


"Loh emang harusnya gimana?" tanya Kalina dengan senyum yang sedikit terkembang. "Kita jadi pasangan kekasih beneran gitu? Belum tentu juga kamu mau dengan wanita yang sudah kotor kayak aku."


Wildan sontak tertegun, lalu matanya menatap lekat wanita yang sesekali meladeni adiknya yang ngajak bermain bareng. "Kalau jodoh ya nggak apa apa kan? Lagian juga belum tentu juga ada cewek yang mau menerima apa adanya cowok kayak aku. udah miskin, terus punya adik lagi."


Kini gantian Kalina yang tertegun. "Tapi kalau kamu mau berusaha untuk memperbaiki keadaan kamu dan bisa sukses, kamu bisa loh dengan mudah dapat cewek yang kamu mau."


Wildan kembali tertawa lirih. "Itu berarti wanita matre. layaknya laki laki pada umumnya, aku juga pengin punya cewek yang mau berjuang dari nol. Bersama sama berusaha untuk kehidupan yang lebih baik dan wanita itu juga menerima adikku. Bukan wanita yang datang disaat aku sudah sukses."

__ADS_1


Kalina lantas tersenyum. "Kalau gitu kenapa kita nggak mencoba pacaran aja, Wil. Kali kita cocok?"


Wildan kembali tertegun dan matanya menatap lekat wanita yang sedang cengengesan sambil ikut bermain dengan adiknya. jika diperhatikan, Kalina memang wanita yang baik. Bahkan dia pun sepertinya sayang dengan adiknya. Terbukti beberapa hari ini, Kalina memang membantu Wildan dalam menjaga adiknya. "Kamu ngajakin aku pacaran itu serius apa bercanda? Kalau serius ya ayok kita pacaran."


Mata kalina langsung memeicing menatap Wildan, namun tak lama kemudian dia terkekeh. "Bercanda, Wil. Lagian kamu mana mau pacaran sama aku, kan kamu tahu aku cewek yang bagaimana."


Tapi Wildan menatap Kalina dengan tatapan serius. "Tidak masalah kalau memang kamu sudah nggak suci lagi. kalau kamu tulus nerima aku apa adanya ya apa salahnya sih kita coba jalan? Lagian wanita yang masih suci juga belum tentu mau sama aku?"


Mata Kalina seketika membulat dan dia cukup terkejut dengan ucapan pria dihadapannya. Tapi beberapa detik kemudian Kalina malah tertawa. "Hahaha ... bisa aja kamu kalau becanda, Wil."


"Siapa yang bercanda?" Wildan terlihat tidak terima. "Aku serius loh. Kalau kita sama sama saling menerima kekurangan kita, apa salahnya sih kita coba jalan? apa kamu takut suatu saat nanti aku akan menyesali karena kamu gadis yang udah nggak sempurna?"


Kalina kembali dibuat tertegun untuk kesekian kalinya. Apa yang dikatakan Wildan memang benar adanya, wanita itu takut kedepannya akan ada laki laki yang menyesal karena dia sudah tidak suci lagi. Kalina tidak berani menatap pemuda itu. perasaannya mendadak kacau karena Wildan menatapnya dengan penuh kesungguhan.


Wildan tersenyum tipis, tebakannya benar. Diamnya Kalina karena wanita itu memang takut akan ada penyesalan dimasa depan. "Mungkin ini terkesan hanya janji manis agar kamu percaya kalau aku menerima kamu apa adanya atau tidak, tapi aku yakin kalau apa yang aku katakan bukan sekedar janji manis belaka, Kal."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2