
"Tidak, ini tidak mungkin? semua berkas penting tidak ada! Kemana perginya?" teriak seorang wanita yang baru saja membuka brangkas di dalam kamar pribadinya dan suami. Betapa terkejutnya wanita itu saat tidak menemukan benda penting satupun berada di dalam sana. Dari surat penting kepemilikan aset hingga beberapa jumlah uang dan perhiasan raib entah kemana.
"Sergio sialan! Pasti ini ulah dia!" umpat wanita itu lagi. Berkali kali umpatan dan makian keluar dari mulut wanita bernama Lupita. Dia sungguh merasa emosi dengan kejadian tak terduga yang baru saja dia alami. Tentu saja dia tidak mau menerima begitu saja, jika harta yang dia incar milik suaminya tidak dia miliki.
"Ah, sial! Kemana aku mencari tua bangka itu!" lagi dan lagi wanita itu merassa kesal sendiri. Bahkan saat keluar rumah hingga dia melajukan mobilnya, Lupita tidak henti hentinya memaki orang yang saat tidak tidak dia ketahui keberadaannya. Saat ini tempat yang bisa dia tuju adalah rumah orang tuanya.
"Apa! surat surat pentingnya hilang? Yang benar, Pit?" pekik wanita tua begitu sang anak sampai rumah dan menceritakan semuanya. "Berarti beneran, Sergio mendengar cerita kamu dan Bapak kamu? Kenapa kalian bisa seceroboh itu?"
"Ya kan semalam kita nggak tahu, Bu. Aku pikir Sergio sudah tidur. Lagian aku juga nggak nyangka kalau dia masih bisa bergerak seperti itu," Lupita tentu saja tidak terima disalahkan begitu saja. Biar bagaimanapun dia juga tidak tahu kalau hal itu akan terjadi.
"Terus kalau sudah begini, bagaimana? Apa mungkin Sergio pergi dengan anak buahnya? Coba kamu datangi markas mereka? Pasti dia saat ini ada di sana."
__ADS_1
"Aku nggak tahu alamat mereka, Bu," Lupita terlihat lemas. Bahkan dia sampai terduduk karena kehilangan barang berharga yang sudah dia incar sejak mendakati Sergio lima tahun yang lalu.
"Astaga! Masa kamu nggak tahu tempat mereka? Kamu kan tahu kalau Sergio memiliki anak buah khusus," si ibu malah terlihat emosi kepada anaknya. Sudah pasti dengan kejadian yang menimpa Lupita, wanita itu juga sangat terkejut dan berharap apa yang dia pikirkan saat ini tidak akan terjadi. "Terus selama ini kamu tahunya apa!"
"Ya kan aku pikir Sergio itu cinta mati sama aku, Bu. Apa lagi pernikahan kita saja sudah berjalan cukup lama dan dia tidak pernah membantah, selalu menuruti keingin kita. Jadi ya buat apa aku tahu apa yang dia lakukan di belakangku. Yang aku tahu, tiap aku butuh duit, dia selalu ada."
"Terus kalau sudah begini, apa yang akan kamu lakukan, hah! Kita bisa kehilangan semuanya, Lup. Kamu tahu kan, perusahaan ayah kamu aja perusahaan kecil. Apa kamu mau hidup irit. Mending buat cadangan, kamu segera cari orang yang bisa dijadikan ladang uang buat kamu deh. Kamu deketin aja Moreno. Sambil nanti kita cari Sergio."
"Rencananya gitu sih, Bu. Tapi orang itu sangat susah dijangkau. Entah dia terlalu cinta sama istrinya atau memang dia tidak tertarik sama aku."
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
"Sha, udah dong marahnya? Aku mau ke kantor ini. Jangan ngambek lagi, oke?" Rafi berusaha menenangkan wanita yang sedang kesal karena merasa dibohongi oleh pemuda yang selama ini serimg tidur bersamanya. "Percaya deh, aku nggak ada hubungan apa apa sama Amanda."
"Kalau nggak ada hubungan apa apa? Kenapa kamu tidak cerita dari dulu, kalau kamu mengenalnya? Kenapa pakai main rahasia rahasia segala? Padahal kan aku sudah pernah cerita sama kamu soal Amanda, tapi kamu malah tidak cerita balik," sungut wanita yang saat ini duduk di tepi kasur dan tadi dia sempat mengemas pakaiannya, hendak pergi dari rumah itu. Untungnya Rafi bisa mencegahnya.
"Aku nggak ada maksud untuk merahasiakannya, Marisa. Aku pikir tidak penting untuk menceritakannya, jadi aku memilih diam. Lagian aku ketemu Amanda juga dua kali doang," Rafi terus berusaha memberi penjelasan agar wanita itu mau mengerti. Meski hal itu pasti cukup susah, karena Rafi tahu bagaimana sifat wanita pada umumnya. Tidak mau mengalah dan tidak akan pernah kalah.
"Harusnya kamu tetap cerita. Dia itu masih saudara aku. Kalau dia juga menyukai kamu gimana? Nanti yang ada aku dan Amanda malah jadi musuh gara gara rebutan cowok. Aku nggak mau itu."
"Nggak akan, Sha. Aku jamin itu."
Tiba tiba Marisa teringat sesuatu dan dia langsung menatap tajam ke arah Rafi. "Pasti kamu sudah tidur dengan Amanda, iya kan? Ngaku!"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...