SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Saling Menguntungkan


__ADS_3

"Makasih ya. Fi. atas kenikmataan yang kamu berikan. Punya kamu gede, enak banget. aku puas."


"Sama sama, lubang kamu juga enak banget. Aku sampai nambah tiga kali."


"Hehehe ... ya udah, aku pulang dulu. Untuk apa yang kamu inginkan tadi, akan aku usahakan ya? Semoga aku bisa tahu kelemahan papi."


"Oke, aku tunggu kabarnya."


Amanda lantas mecium pipi Rafi lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Begitu mobil Amanda hilang dari pandangan, Rafi baru menaiki motornya lalu melajukan motor tersebut meninggalkan hotel yang baru saja dia gunakan untuk bermain dengan wanita cantik, anak dari pria yang ingin dia hancurkan.


Karena lokasi hotel tidak jauh dari tempat kost, kurang dari lima belas menit, motor Rafi sudah sampai di tempat kost. Setelah menyapa dan berbincang sejenak dengan Wildan, Rafi bergegas menuju kamarnya. Di sana Rafi mendapati Marisa dengan bermain dengan adik Wildan dan mereka sekarang terlihat cukup dekat.


"Kok sore banget sih pulangnya?" tanya Marisa dengan wajah agak ditekuk. Entah apa maksudnya dia bersikap seperti itu.


"Ini kan juga termasuk cepet. Cuma empat jam doang," jawab Rafi. "Aku mau mandi dulu, kamu udah makan?"


"Belum, bingung mau makan apa?"


"Ya udah, nanti kita beli makan bareng."

__ADS_1


Marisa tak mejawab. dia kembali fokus pada anak kecil yang sedang nonton video lewat ponselnya. Rafi lantas pergi menuju kamar mandi. Sebenarnya tadi Rafi bisa saja mandi di hotel, tapi hanya gara gara tidak membawa pakaian ganti jadi Rafi memilih mandi di tempat kost.


Tak butuh waktu lama, begitu selesai mandi, Rafi dan Marisa pergi membeli makan di antara deretan warung makan yang ada di sana. Tak ada obrolan yang berarti diantara mereka. Hanya ada obrolan ringan sambil menikmati hidangan yang ada. Setelah selesai makan, mereka kembali ke tempat kost.


"Kamu sama adik kamu udah makan, Wil? tanya Rafi saat mereka kembali setelah makan.


"Belum, Bang. Adik aku belum lapar, jadi nanti aja sekalian kalau lapar."


"Oh, ya udah, aku ke kamar dulu. Kamu kalau makan minta saja di depan ya? Biar aku yang bayar."


"Iya, Bang. Makasih."


Rafi lantas segera pergi menyusul Marisa yang sudah pergi duluan ke kamar. Negitu sampai kamar, Rafi langsung mengganti celananya hanya pakai kolor. Hal itu sengaja Rafi lakukan agar Marisa bisa lebih mudah bermain isi celananya jika Rafi sudah terlelap nanti.


Sedangkan untuk hadiah misterius akan datang beberapa jam lagi. Kening Rafi sempat berkerut karena penasaran dengan hadiah misterius yang dia akan terima. Namun meski agak kecewa, Rafi pasrah saja menunggu hadiah itu datang. Pasti sesuatu yang sangat menyenangkan. Setelah semuanya selesai, Rafi baru merebahkan badannya.


"Kok kamu jadi diem banget? Kamu marah?" tanya Rafi saat menyadari wanita yang bersamanya tidak cerewet seperti biasanya.


"Enggak. siapa yang marah?" balas Marisa yang memang sedang tidak marah sama Rafi.

__ADS_1


"Sikap kamu aneh, biasanya kalau kita di dalam kamar, kamu akan nempel terus pada tubuhku."


Marisa yang sedari tadi memunggungi Rafi lantas berbalik badan sembari dia tersenyum lebar. "Kenapa? Kamu kangen di peluk sama aku?"


Rafi malah mencebikan bibirnya terus dia merebahkan badannya dengan telapak tangan digunakan sebagai bantal sehingga ketiak berbulunya terpampang jelas dihadapan Marisa. tangan wanita itu langsung membelai bulu ketiak di hadapannya. "Ketiaknya baunya nggak enak, bau wangi."


"Ya kan aku habis mandi. Kalau mau bau asem ya besok aku kasih."


Marisa mencebikan bibirnya lalu dia memindahkan kepalanya di dada Rafi serta memeluknya. "Aku tuh sedari tadi sedang kepikian Daddy, Fi. kata Mommy, Daddy sudah sadarkan diri."


"Benarkah? Berita bagus tuh?" Rafi nampak antusias menjawabnya.


"Iya, tapi aku malah nggak bisa berbuat apa apa. Harusnya aku berada di sana menemani mommy."


"Sabar, kita doakan saja yang terbaik untuk Tuan Alexander."


Marisa tidak menjawab. Dia semakin mengencangkan pelukannya pada pinggang Rafi. Di saat bersamaan, mereka mendengar pintu kamar di ketuk dan ada suara Wildan dari luar kamar. Rafi pun bergegas membuka pintu. Kata Wildan, ada tamu yang ingin brtemu dengan Rafi saat ini juga. Mendengar yal itu, Rafi dan Marisa bergegas turun ke bawah menemui tamu tersebut.


"Anda siapa yah?" saya Rafi, katanya anda mencari saya?"

__ADS_1


Dua orang berbadan tegap dan berjass serba hitam lantas saling tersenyum.


...@@@@@...


__ADS_2