
"Gimana?"
"Dia setuju."
"Baguslah. Kapan suaminya akan pulang?"
"Dia tidak tahu. Karena suaminya tidak pernah ngasih kabar kalau pulang. Lagian tadi siang kita dengar sendiri kalau istrinya tidak boleh terur terusan menghubingi sang suami."
Rafi sontak mengangguk. Sekarang tinggal mengurus rencana keberangkatan. Setelah memberi tahu Rafi tentang hasil rencananya, Kalina memilih kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan diri pergi ke kampung Rafi. Kalina juga terpaksa mengikuti rencana Rafi untuk pergi demi keamannya sendiri.
Memang, setiap ada masalah itu seharusnya dihadapi. Namun dalam kasus yang menimpa Kalina, wanita itu lebih baik memang menghindar terlebih dahulu sampai suasananya memungkinkan. Apa lagi Kalina tidak memiliki seseorang sebagai perlindungan ataupun tempat meminta tolong.
Ayah dan paman Kalina adalah saudara kandung, sedangkan ibu Kalina sendiri merupakan anak tunggal. Nenek dan kakek kalina juga sudah terlebih dahulu meninggal. Makanya Kalina seperti hidup sebatang kara di dunia ini. Keluarga paman yang diperkirakan akan melindunginya, jutru menjadi penyebab utama wanita itu masuk ke dalam hidup yang menyedihkan.
Wajar jika Kalina memilih bersembunyi daripada harus menghadapi keluarga pamannya sendirian. Belum lagi menghadapi juragan Slamet yang sudah tua tapi tidak ingat usia. Mentang mentang orang kaya, masih saja mau nikah. Padahal salah satu anak paman Kalina juga ada anak yang perempuan, tapi malah sang paman dengan teganya menjadikan Kalina sebagai tumbal hutang.
__ADS_1
Rafi sendiri, cukup merasa lega karena rencananya hampir berhasil. Sekarang dia tinggal menyusun rencana yang lain agar dia bisa menggali informasi lebih dalam tentang pembunuh ayahnya. Rafi harus bertindak hati hati dan dia tidak mau tujuannya diketahui oleh si target.
Di saat Rafi sedang sibuk memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan, matanya melihat sepeda motor masuk ke halaman tempat kost tersebut. Kening Rafi berkerut, karena baru kali ini dia melihat motor itu datang ke area kost. Rafi berpikir mungkin itu adalah calon penyewa kamar kost karena memang masih ada sekitar lima kamar yang kosong disini. Tapi saat Pengengedara motor melepas helmnya, Rafi cukup terkejut dengan wajah si pengendara motor.
"Lingze!" pekik Rafi. Walaupun baru pertama kali ketemu kemarin, Rafi jelas masih ingat wajah wanita yang katanya ingin menjual mahkotanya itu. Rafi seletika salah tingkah, tapi tak butuh waku lama, Rafi bisa bersikap biasa saja saat wanita itu berjalan mendekat ke tempat Rafi berada. "Aku pikir kamu nggak jadi datang?" tanya Rafi basa basi. Padahal dia lupa kalau malam ini dia memang sudah janjian dengan wanita itu.
Lingze tersenyum sangat manis. dari tiga wanita yang sudah menghampiri hidup Rafi, )ingze lah yang kelihatan lebih cantik. gayanya juga begitu anggun. Benar benar seperti wanita berkelas meski dia datang menggubakamotor. "Tentu saja aku masih ingat, malah aku tidak sabar untuk bertemu dengan kamu."
Rafi cukup terkejut dengan sikap Lingze yang terlihat santai, tanpa ada rasa gugup sedkitpun. Bahkan wanita itu mengaku tidak sabar bertemu dengan Rafi dan itu cukup membuat rafi diselimuti rasa bangga. "Tidak sabar kenapa?" sebelum Lingze menjawab, Rafi ngajak wanita itu pergi ke ruang tamu dan ngobrol disana.
Rafi semakin tercengang mendengarnya. Dia jadi penasaran dengan alasan wanita itu ingin menjual mahkotanya. "Kok kamu kayak semangat banget? Emang sudah sangat kepengin merasakan malam pertama apa gimana?"
Lingze kembali menunjukkan senyum manisnya. Kecantikan wanita itu sungguh membuat hati Rafi bergejolak bukan main. Kalau orang waras, psti enggan melakukan cara kotor seperti ini. Tapi mau gimana lagi, aku lelah jadi orang waras, Fi."
"Lelah, apa kamu ada masalah?" Rafi semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
Lingze mambuka tas slempangnya dan mengambil ponsel miliknya. Wajahnya terlihat serius menatap layar ponsel lalu setelah dia menemukan apa yang dicari, Lingze menyerahkan ponsel itu kepada rafi. "Kamu lihat saja video yang ada disitu."
Rafi menerima ponsel itu dengan penuh tanda tanya. Dia mengikuti pentujuk yang di arahkan oleh Lingze. Memang dalam layar ponsel tersebut terpampang beberapa video. Rafi yang sudah sangat penasaran, langsung menekan salah satu video tersebut. Mata Rafi seketika langsung membelalak. Ternyata itu adalh rekaman video dewasa. "Ini maksudnya siapa?"
Lingze tersenyum tipis. "Dia pacar aku."
"Apa! kok bisa?"
"Itu pacarku dan sahabat sahabatku, itu ada beberapa video, kan?"
"Astaga! sahabat sahabat kamu? Ini Serius?"
Lingze tersenyum serta mengangguk beberapa kali, dan hal itu membuat Rafi ternganga dibuatnya. "Kok bisa? Astaga!"
...@@@@...
__ADS_1