SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Keributan Didepan Mata


__ADS_3

"Hallo," sapa Rafi begitu ponselnya telah menempel pada telinga kanannya.


"Iya, Hallo," balas suara dari seberang. Rafi cukup terkejut saat mendengar suara itu dan ternyata yang melakukan panggilan telfon adalah seorang wanita.


"Maaf, ini siapa yah?" tanya Rafi dengan rasa penasaran yang mendadak muncul.


"Saya Lingze, masih ingat nggak? Temannya Nancy."


Mendengar nama Nancy disebut, Rafi sontak teringat dengan kedatangan wanita itu kemarin petang bersama seorang teman wanita. Seketika Rafi juga teringat misi ketiga yang baru saja dia terima dengan hadiah uang yang lebih besar. "Langze?" Rafi pura pura bertanya untuk memancing ingatan wanita itu.


"Iya, yang kemarin datang bareng Nancy, masa kamu lupa?" wanita itu terdengar kesal.


Senyum Rafi langsung terkembang. Tentu ssja dia tidak lupa dengan wanita cantik yang memiliki rambut bergelombang dan menawarkan mahkotanya untuk dibeli. "Hehehe ... maaf kalau aku sedikit lupa. Habisnya kemarin banyak tamu yang datang ke sini."


"Oh gitu," balas Lingze dari sebarang sana. "Aku boleh main kesitu lagi nggak?"


"Tentu saja boleh, silakan."

__ADS_1


"Baiklah, nanti sore kalau nggak ada halangan aku main kesitu ya, bang?"


"Oke."


Setelah berbasa basi dan ngobrol sejenak, akhirnya obrolan singkat itu berakhir. Senyum Rafi terkembang begitu sempurna saat membayangkan dia akan mendapat mahkota lagi. Menurutnya, misi ketiga ini malah lebih mudah dalam mendapatkan mahkota daripada misi ke satu dan kedua.


Namun senyum Rafi seketika memudar dan berubah menjadi wajah bingung saat pikirannya teringat dengan nama Kalina. "Aduh, gimana dengan Kalina?" Rafi mendadak terlihat frustasi.


Rafi takut wanita itu akan marah dan tersinggung karena Rafi baru saja menolak ajakan wanita itu untuk berhubungan lagi, tapi Rafi malah menerima tamu wanita yang tujuannya untuk berhubungan badan. Rafi takut Kalina salah paham dan menganggapnya hanya mencari enaknya saja.


Jam yang menempel di dinding post jaga menunjukkan pukul dua belas siang lebih dua puluh menit. Karena keadaan cukup sepi, Rafi berinisiatif mengunjungi Kalina di dalam kamarnya. Dengan langkah sedikit terburu buru, Rafi bergegas menuju kamar wanita itu yang ada di unit tiga lantai dua tempat kost tersebut.


Namun saat Rafi sampai di sana, matanya dikejutkan dengan dua orang wanita dimana salah satunya terlihat sedang menangis. Mereka adalah Kalina bersama wanita yang merupakan istri dari pria bertato tulang ikan. Entah apa yang terjadi, Rafi pun mendekat ke arah mereka.


"Ada apa? Apa ada masaalah?" tanya Rafi setelah duduk di dekat Kalina.


"Suaminya dari kemarin tidak ada kabar, Fi. Dia khawatir terjadi apa apa," jawab Kalina. Rafi memandang sendu anak kecil yang hanya bengong sembari jongkok di depan ibunya.

__ADS_1


"Emang apa yang terjadi?" tanya Rafi lagi. Memang benar, jika dicermati, pria yang datang bersama wanita itu dari kemarin tidak kelihatan batang hidungnya sejak mengantar istri dan anaknya.


Namun sebelum wanita itu menjawab, mereka dikejutkan dengan suara menggelar dari arah tangga yang menuju lantai tersebut. "Minem!"


Sontak semua mata yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara itu. Ternyata suara menggeleyar itu berasal dari sang suami wanita itu. Pria itru langsung berjongkok dihadapan istrinya. "Apa yang terjadi? kenapa kamu nangis? Apa ada orang yang datang kesini?" tanya pria itu bertubi tubi dengan wajah terlihat begitu sangat khawatir.


"Kamu darimana aja sih, Mas! Dari kemarin kamu susah dihubungi! Kemana aja?" wanita yang dipanggil Minem itu langsung meluapkan amarahnya dan menatap tajam sang suami. Sedangkan Rafi dan Kalina terpaku disana tak bisa berbuat apa apa. Terlihat sang bocah juga langsung bergelayut dalam gendongan pria itu. Sangat jelas kalau anak itu sangat rindu dengan ayahnya.


"Maaf, kemarin Mas sedang kerja. Kan Mas sudah bilang jangan keseringan menghubungi Mas," ucap pria itu merasa beralah.


"Tapi aku takut Mas. Mas itu kerjanya nggak jelas. Tiap ditanya tentang pekerjaan, Mas selalu nyuruh aku jangan banyak tanya yang penting uang tidak kekurangan. Aku sama anak kamu tidak butuh uang kamu saja, Mas. Aku bahkan sudah seperti buronan yang harus brpindah pindah tempat tinggal. Setelah ini, kita akan pindah lagi bukan?"


Rafi yang masih menyaksikan perdebatan di depan matanya, cukup terkejut dengan semua yang dikatakan wanita itu. Rafi semakin curiga kalau pekerjaan suami dari wanita itu memang pekerjaan yang tidak beres.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu," gumam Rafi dalam hati.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2