SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menjelang Tidur


__ADS_3

Masih di malam yang sama. Setelah menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Moreno, Rafi melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar. Di atas ranjang, seperti biasa, Marisa terlihat asyik dengan laptop di hadapannya. Yang membuat Rafi cukup tertegun adalah, saat matanya menatap pakaian tidur yang di pakai wanita itu saat ini.


Rafi seketika mengulas senyum. Dia sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan malam ini kepada wanita itu. Seperti biasa, sebelum naik ke atas ranjang, Rafi beranjak menuju ke kamar mandi untuk sekedar bersih bersih kecil seperti gosok gigi dan mencuci muka serta melepas pakaian dan menyisakan kolor pendek. Setelah semua itu dilakukan, baru Rafi beranjak menuju ranjang empuknya.


"Kok kamu malam ini pakai baju seksi lagi, Sha?" tanya Rafi begitu tubuhnya mulai menaiki ranjang dan merebahkan diri.


"Ya kan ini demi menyenangkan kamu. Nanti aku pakai baju tidur yang rapat, kamu protes," jawab Marisa sekilas menatap Rafi lalu kembali menatap layar Laptopnya. Rafi seketika langsung melebarkan senyumnya. Posisi Marisa yang duduknya memunggungi Rafi, memudahkan pemuda itu bisa melihat apa yang sedang dilakukan wanita itu dengan laptopnya.


"Kamu bisa desain baju?" tanya Rafi begitu melihat di dalam layar laptop terpampang sebuah gambar kemeja yang sedang diberi corak dan warna.


"Udah lama ini. Kamu aja yang baru tahu," jawab Marisa tanpa menoleh, karena dia sedang fokus dengan apa yang dia lakukan.


Rafi kembali tersenyum. Dia lalu memilih untuk tidak melontar pertanyaan lagi. Rafi berbaring dengan posisi badan menghadap langit langit. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, tapi tangan kanan Rafi mulai bergerak nakal, merayap ke belahan baju tidur Marisa yang terletak di depan dada. Tak lama setelah itu jari tangan pria itu menelusup masuk melalui belahan baju itu sampai tangannya menyentuh benda kenyal yang tidak terbungkus apapun. Rafi memijat benda kenyal itu tanpa bersuara.

__ADS_1


"Kamu yakin besok nggak ikut ke tempat kost?" tanya Rafi beberapa saat kemudian setelah mereka saling diam dengan kesibukan masing masing. Rafi berani melempar pertanyaan karena melihat Marisa mematikan laptopnya sebagai tanda kalau pekerjaanya telah selesai.


"Yakinlah. Aku nggak mau ada masalah di tengah jalan nantinya," jawab Marisa sembari menaruh laptop di tempat biasa dan mulai merebahkan tubuhnya di sebelah Rafi. "Lagian aku juga mau menyelesaikan beberapa desaian bajuku."


Mendengar jawaban Marisa yang kelihatan sangat meyakinkan, membuat Rafi merasa lebih lega. Sebab, Rafi besok tidak hanya akan pergi menuju ke tempat kost. Sebelumnya Rafi akan menjenguk orang dulu di rumah sakit sekalian memastikan wanita yang ingin menjual mahkota kepadanya. Rafi memang harus menemuinya, karena wanita yang akan menjual mahlkotanya tidak memiliki ponsel.


Rafi merubah posisinya menjadi terbaring miring menghadap Marisa. Sekarang gantian tangan kirinya yang bergerak aktif memainkan isi baju Marisa yang terletak di bagian dada. "Kamu diraba raba kayak gini, nggak ada rasa ingin melakukan hal yang lebih, Sha?"


Marisa tersenyum sembari menoleh menatap pria di sebalahnya. "Ya pasti ada dong. Apa lagi sentuhan kamu lembut banget dan bikin nyaman. Tapi kamu pasti tahu kan jawabannya aku."


"Kalau kamu pengin, kamu kan bisa nyari cewek melalui aplikasi kencan, Fi," Marisa memberi saran. "Apa lagi sekarang kamu sudah punya kuasa. Aku yakin, kamu akan dengan mudah mendapatkan wanita yang mau sama tidur kamu."


"Nggaklah, takut, ada yang kena penyakit. Ighh! ngeri," Rafi seketika bergidik.

__ADS_1


"Ya kamu cari aja, wanita yang sudah kamu tiduri, main sama dia lagi," Marisa kembali memberi saran. Biar bagaimanapun Marisa masih ingat kalau pemuda yang sedang memainkan bukit kembarnya pernah tidur denngan wanita sebelum pindah ke rumah mewah ini.


Rafi hanya mengulas senyum sebagai jawaban atas saran Marisa. "Sha, seandainya kita berjodoh, kamu mau menerima aku apa adanya nggak?"


"Maksud kamu?"


"Maskud aku, kamu kan tahu kalau aku pernah tidur dengan wanita lain. Ya meski itu dengan alasan menolong, tapi tetep saja kan aku melakukan hubungan dengan wanita lain. Apa kamu mau menerima laki laki sepertiku?"


Mendengar penjelasan Rafi, marisa langsung merubah posisi tidurnya menghadap pemuda itu. "Ya asal setelah kita menikah, kamu benar benar berhenti tidur dengan wanita lain, aku sih mau mau aja, Fi."


"Kamu yakin?"


"Yakinlah. Maka itu kamu puas puasin dulu sana bermain dengan wanita lain, nanti jika kita memang jodoh, baru deh kamu datangi aku."

__ADS_1


"Hhaha ... bisa aja kamu." suara tawa dua orang itu seketika menggema ditengah malam yang terus menjelang larut.


...@@@@@@...


__ADS_2