SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Saling Menguntungkan


__ADS_3

"Kamu nggak pakai apa pa lagi selain pakai baju ini?" tanya Rafi saat menyadari sesuatu. Wanita yang saat ini berada dalam kungkungannya mengangguk sembari tersenyum dengan wajah yang memerah. "Astaga!"


Rafi tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau wanita yang baru saja melakukan perang bibir dengannya, ternyata hanya memakai baju seperti daster dan di dalamnya tidak memakai kain lagi selain baju tersebut.


Awalnya Rafi nampak aneh ketika tangannya bergerilya sambil menikmati bibir wanita it. Saat tangan itu sampai di dada, Rafi merasakan kalau bukit kembar si wanita tidak terbungkus kain lainnya. Awalnya Rafi cuek dan tangannya masih terus bergerilya hingga tangan itu sampai mengusap paha. Rafi baru sadar saat jari jarinya seperti menyentuh rerumputan di dekat paha. Karena penasaran, tangan Rafi mencoba mendekat ke area diantara dua paha dan dari sanalah dia baru menyadari semuanya.


"Boleh kan? Aku melihat semuanya?"


Wanita itu malah tesenyum lebar. "Bukankah malam ini semua yang ada di tubuhku itu milik kamu, Mas? Masa gitu aja harus minta ijin?"


Rafi ikutan tersenyum lebar lalu kembali menyerang wanita itu dengan bibirnya. Bukan hanya bibir yang Rafi serang, tapi leher jenjang milik wanita itu juga tak lepas dari pendaratan bibir milik pemuda itu. Sembari terus memberi serangan dengan bibirnya, tangan Rafi perlahan mengangkat pakaian milik wanita itu hingga pakaian tersebut benar benar lepas dari tubuh pemiliknya.


"Indah banget, Sayang!" puji Rafi dengan mata yang berbinar memindai setiap lekuk tubuh milik wanita yang terbaring pasrah. hanya senyum yang mampu wanita itu tunjukkan sebagai jawaban atas pujian yang Rafi berikan.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, Rafi kembali melakukan penyerangan dengan bibirnya. Kali ini bukan hanya bibir dan leher yang menjadi sasaran, bukit kembar yang kekenyalan masih terjaga dengan baik juga tak luput dari serangan mulut Rafi. Tangan Rafi juga menjelajah nakal kesetiap kulit wanita itu hingga berhenti di tengah rerimbunan yang begitu tembem.


"Akh ~~" rintihan kenikmatan mulai keluar dari mulut si wanita saat bibir dan tangan Rafi bekerja sama memainkan bagian bagian penting pada tubuhnya.


Puas memberi serangan bibir, Rafi bangkit dan melepas kaosnya serta duduk bersandar tembok di sisi wanita itu. "Sekarang kamu buka celanaku, Sayang. Kamu mainkan dulu punyaku dengan tangan dan mulut kamu."


"Apa itu harus? Kenapa nggak langsung masuk aja?"


"Kan namanya pemanasan, Sayang. Ayo lah."


Wanita itu tak kuasa menolak. Dia bangkit dari pembaringannya dan duduk bersimpuh sembil melepas celana pemuda itu. "Gedenya!" wanita itu terkejut setelah melihat isi celana Rafi yang sudah sangat menegang dan keras.


Rafi tersenyum lalu memberi perintah agar wanita itu segera melaksanakan tugasnya. Meski agak kaku dan nampak ragu, Rafi terus membimbing si wanita dan memberi semangat. Awalnya memang wanita itu seperti jijik saat mulutnya pertama kali menempel pada milik Rafi, tapi seiring berjalannya waktu, wanita itu terlihat bisa nyaman dan menikmati milik pemuda di hadapannya. Tangan Rafi juga sesekali membelai dan menekan kepala si wanita juga memainkan bukit kembar yang nampak bergerak indah dan menggemaskan.

__ADS_1


Hampir dua puluh menit telah berlalu, kini saatnya mereka memasuki ke permainan inti. Rafi sudah bersimpuh diantara kaki si wanita yang telah telentang. Tangan kiri Rafi membelai celah sempit dan tembem yang ditumbuhi begitu banyak rumput liar. sedangkan tangan kanan Rafi mengusap miliknya sendiri dan membimbingnya hingga menempel pada pintu celah dan menggesekkannya.


"Aku masukin sekarang ya?" pamit Rafi dan wanita yang terlihat sangat tegang itu hanya bisa mengangguk. Seperti wanita wanita sebelumnya, wajah wanita itu juga terlihat pucat dan sangat gugup saat akan menghadapi permaianan inti. Rafi yang sudah ada pengalaman pun nampak acuh karena dia tahu, nanti setelah rasa sakit hilang, wanita itu akan keenakan dan bisa saja ketagihan.


Rafi mulai menggerakan pinggangnya dan bless, ujung batang itu mulai membelah celah yang baru pertama kali disentuh. Meski kesusahan, pinggang Rafi terus menekan maju dan mendorong perlahan batang miliknya yang sudah menyeruak di dalan lubang tembem si wanita.


"Akh!" teriak wanita itu merintih kesakitan, tapi Rafi tidak peduli. Pingganganya terus mendorong batang miliknya hingga Rafi merasakan sesuatu menghalangi di dalam sana. Seperti biasa Rafi mendiamkan diri dulu dan menenangkan degup jantungnya yang berkecamuk. Setelah Rafi bisa menguasai keadaan dirinya sendiri, kini dia harus melanjutkan perjuangannya. Rafi menghirup nafas dalam dalam dan menghempasnya secara perlahan, kemudian Rafi mengambil ancang ancang, dan tak lama setelah itu Rafi langsung menghentakkan pinggangnya dengan kencang.


Bless!


"Akhh~~"


Rafi tersenyum senang. Misi keempat sukses.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2