SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Sebuah Kabar


__ADS_3

"Mbak, Mas, boleh nggak untuk sementara aku nginep di tempat ini?"


Rafi dan Marisa sontak tertegun lalu mereka saling pandang sejenak. "Emang kamu berasal dari mana?"


"Aku berasal dari luar pulau, Mas. jujur aku tidak punya uang sama sekali. Bahkan ponsel milik aku juga dirampas. aku tidur digudang juga nggak apa apa, Mas."


Rafi menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apa kamu benar benar nggak punya uang?"


Wanita itu mengangguk lemah. "Mas bisa cek aja disini," wanita itu menunjukan bungkusan dari kain yang tadi Rafi letakkan di atas lantai.


"Ya udah, untuk malam ini kamu bisa nginep disini. Untuk besok, kita pikirin jalan keluarnya."


wanita itu tersenyum dan langsung mengucapkan terimakasih. Rafi juga mempersilakan wanita itu menempati kamar yang tadi digunakan Marisa. Setelah mengatakan semuanya, Rafi beranjak meninggalkan dua wanita yang lagi melanjutkan obrolan mereka.


Rafi duduk kembali di post sambil memainkan ponselnya. Aktifitasnya dalam mencari wanita yang masih tingting jadi tertunda dan terganggu, gara gara ada banyak kendala yang menghadangnya. Rafi pun sempat mengeluhkan hal itu. Padahal hadiahnya seratus miliar, tapi untuk kali ini, Rafi mersa kesusahan mencari wanita tingting.


Beberapa saat kemudian, Rafi melihat Marisa mengantar wanita itu ke kamar yang kemarin digunakan anak bos tersebut. Memandang dua wanita itu, terlintas dalam pikiran Rafi untuk menjalankan misi dengan salah satu diantara wanita itu. tapi Rafi ragu karena bisa saja mereka sudah bukan gadis ting ting lagi.


Wajar jika Rafi berpikiran begitu. Marisa yang lama tinggal diluar negeri, kemungkinan sudah melakukan hubungan bersama pacarnya. Apa lagi negara yang ditinggali Marisa, terkenal dengan gaya hidup bebasnya. Sedangkan wanita yang baru dia tolong juga kemungkinan sudah melakukan dengan pacarnya. apa lagi dia ke kota bersama sang pacar, sudah pasti wanita itu menginap di tempat pacarnya.

__ADS_1


"Kasihan dia. jauh jauh ke ibu kota malah kena tipu," ucap Marisa saat dia kembali menghampiri Rafi setelah cukup lama wanita itu bersama orang yang dia tolong.


"dia cerita banyak sama Nona?"


"Ya lumayan cerita banyak tadi. Siapa yang nggak tergiur coba. di kampung dia dari kelurga miskin dan Bapaknya sakit keras, eh, malah jauh jauh datang ke kota dengan tawaran kerja tinggi tahunya malah hendak di jual."


"Emang awalnya tawaran kerja sebagai apa?"


"Katanya sih ditawarin kerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji lima juta perbulan. Siapa yang nggak minat coba?"


"Emang gaji asistren rumah tangga itu berapa, Non?"


"Kalau di rumah aku itu mencapai angka tiga, Fi, tapi bersih. Segala macam kebutuhan dipenuhi oleh Mommy. Makanya kan, kayak ayah kamu, betah kerja di rumahku."


"Kalau besok dia nggak bisa pulang gimana, Fi? apa kamu tega mengusirnya?"


Rafi menghembus nafasnya secara kasar lalu mengalihkan padanngannya ke arah lain. "Itu yang membuat aku bingung, Non. Kalau dibiarkan pergi, takutnya dia kenapa kenapa. Tapi kalau dibiarkan disini, takutnya orang orang yang mencarinya akan menemukannya. nanti jadi masalah gimana?"


"Yah, cukup susah sih. tapi menurut aku sih, dia disuruh aja disini dulu buat bantu bantu kamu. Bentar lagi kan tempat ini akan jadi milik kamu, otomastis kamu juga butuh tenaga dong, Fi."

__ADS_1


"Iya sih. tapi kan aku belum ada niat buka lowongan."


"Hmm, susah ya? Ya udah mending dipikir nanti aja," Marisa menghakhiri obrolannya dan wanita itu beranjak masuk ke dalam kamar Rafi.


"Nona nggak kembali ke kamar itu? kan sekarang tidurnya ada temannya," teriak Rafi.


"Nggak mau, maunya tidur sama kamu aja," tolak Marisa yang sekarang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Itu kan kasurnya sempit! Lagian kamarku juga panas, nggak ada AC nya."


"Ya nggak apa apa, yang penting tidurnya sama kamu."


"Astaga!"Rafi mendengus kesal. Diapun menyerah, tidak mau membujuk wanita bebal tersebut. Rafi kembali fokus dengan ponselnya. Di saat ada pesan dari Kalina, Rafi pun langsung membalasnya. Rafi cukup senang saat mendengar kabar kalau Kalina sekarang jualan berkeliling di pasar, menjajakan dagangan milik tetangga Rafi.


setelah saling memberi kabar dengan Kalina, Rafi kembali mengecek beberapa pesan yang masuk dan saat matanya membaca satu pesan dari seseoraang, Rafi langsung teringat sesuatu dan dia melempar pertanyaan dengan suara yang cukup kencang. "Nona, Nona tahu nama Sergio Walington nggak?"


"Apa!"


...@@@@@@...

__ADS_1


Hy reader, makasih yaa, yang sudah mengikuti sampai bab ini. Othor cuma mau memberi tahu seperti sebelumnya, mulai besok, othor up setiap abis buka buka tiga bab sekaligus ya? Demi kelancaran puasa othor dan reader tentunya. Semoga reader mengerti.


Othor juga mau ngucapin, selamat menjalankan ibadah puasa ya? Semoga kebaikan ibadah puasa selalu menyertai kita, makasih.


__ADS_2