SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Nasib Tak Terduga


__ADS_3

Lupita tidak menyangka, berurusan dengan Moreno, akan berakhir seperti ini. Dia saat ini benar benar diperlakukan seperti wanita murah meriah oleh tiga orang yang berdiri di hadapannya. Memang, untuk kali ini, tiga pria itu tidak memasuki lubang miliknya yang masih terasa sakit, tapi kali ini mulut Lupita lah yang memberi pelayanan kepada tiga pria itu.


Dengan ancaman yang cukup membuatnya ketakutan, Lupita akhirnya mau melayani tiga pria yang entah darimana asalnya, memainkan batang milik mereka dengan mulut Lupita secara bergantian. Jijik, sudah pasti. Apa lagi batang mereka bau keringat dan hampir membuat Lupita mual. Tapi Lupita tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti mereka.


Dan yang semakin membuat Lupita merasa jadi wanita tidak berharga, saat tiga pria itu mengeluarkan benih di dalam mulut wanita itu dan juga di wajahnya. Sungguh ini pertama kalinya bagi wanita itu diperlakukan layaknya sebagai wanita murah meriah. Begitu tiga pria itu pergi meninggalkan kamar hotel, Lupita langsung menangis tergugu di atas ranjang.


Di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Rafi terihat duduk sendiri di sofa yang ada di dalam kamarnya. Laporan dari Dito cukup membuatnya terhibur. Tapi ada hal lain yang menjadi beban pikirannya saat ini. Sampai dia tidak menyadari ada orang lain yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu sedang mikirin apa, Fi?" suara orang itu langsung membuat Rafi tersadar dari lamumannya dan matanya, Rafi arahkan ke sumber suara yang saat ini duduk di depannya.


"Sedang memikirkan dua gadis panti," jawab Rafi.


"Kamu jatuh cinta sama mereka?" orang itu terlihat cemberut.


Rafi malah tersenyum lebar lalu tangannya meriah pipi orang yang sepertinya sedang cemburu. "Tidak, sayang. Aku hanya bingung mau mewujudkan permintaan mereka dengan cara yang bagaimana?"

__ADS_1


"Emang kamu sudah membicarakannya lagi dengan mereka?" tanya Marisa.


"Ya sudah tadi siang, tapi mereka kayaknya ngotot gitu pengin membayar hutang dengan tubuhnya."


"Lalu apa yang membuat kamu dilema? Biasanya kan cowok paling seneng jika dapat gadis bersegel? Apa lagi ditawarin secara cuma cuma? Kenapa kamu malah galau?"


"Heheeh ... aku juga seneng, Sayang, tapi kan kamu tahu alasanku. Aku sudah pernah cerita sama kamu, kan?"


Wanita yang hanya memakai jubah hangat sebagai baju tidur lantas mengangguk. "Aku tahu, apa lagi hidup wanita itu sudah susah. Kalau kamu memang lebih condong untuk menikahi mereka ya silakan, Fi. Aku tidak masalah."


Sekarang malah Rafi yang cemberut. "Pasti kamu mau mundur? Sama aja bohong," Rafi sampai mengalihkan tubuhnya menghadap arah lain.


"Kamu itu sudah tahu alasanku kan, Sha? Aku tuh pengin nikah resminya sama kamu. Kalau sama mereka ya nikah siri aja."


"Tapi kalau nanti mereka meminta hal yang lebih gimana? Aku sih yakin, cepat atau lambat mereka akan mencintai kamu jika kamu menikahi mereka. Dan pastinya akan membuat masalah baru dalam hidup kamu. Tapi kalau hati kamu masih tetap ingin menikahi mereka terlebih dahulu sebelum membuka segelnya ya silakan. Aku belum ada hak buat ngelarang kamu."

__ADS_1


Rafi mendengus lalu dia merebahkan kepalanya dipangkuan Marisa. "Seandainya mereka bukan anak panti, aku nggak akan segalau ini Sha. Kayak yang sudah sudah, aku menikmatinya tanpa mempertimbangkan terlalu berat."


Marisa membelai lembut rambut Rafi. "Ya sudah, dari pada kamu galau dan menambah beban pikiran kamu, mending kamu tolak dengan tegas. Kamu cari aja cewek lain untuk meneruskan misimu. Eh, itu misi kamu nggak protes, Fi, kamu belum melaksanakan misi yang terakhir?"


"Nggak ada itu. Ponsel jadulku anteng aja, nggak ada pemberitahuan apapun."


"Hahaha ... aneh ya? Apa sistem itu sebenarnya perintah dari alien ya, Fi? Kok dia tahu kamu sudah menyelesaikan tugas kamu atau belum."


"Hahaha ... aku aja nggak tahu, Sha. Aku sampai sekarang masih merasa heran loh. Kok bisa dapat duit dengan cara enak sepeerti ini."


"Lalu kenapa kamu nggak cepat cepat buka segelku, Fi? Kan lumayan itu tujuh ratus lima puluh miliar yang akan kamu dapatkan?"


Rafi tersenyum dan tanganya bergerak merarih benda kembar yang menggantung di depan wajahnya lalu dipijatnya dengan lembut benda kenyal milik Marisa yang tidak terbungkus apapun. "Kan aku sudah bilang, aku akan buka segel kamu pas malam pertama nanti, Sha. Lagian uangku sudah banyak ini. Udah hampir dua triliun. Belum lagi uang dari Daddy."


Marisha pun ikut tersenyum. "Ya udah, besok kamu siapkan diri aja untuk ketemu sama daddy aku."

__ADS_1


"Besok?"


...@@@@@@...


__ADS_2