SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Obrolan Di Kamar


__ADS_3

"Apa kamu tiap tidur dengan pacarmu selalu melakukan hal kayak gini?" tanya Rafi sambil mengusap lembut kepala wanita yang menempel pada dadanya.


"Ya paling sebatas kayak gini, Fi, nggak lebih. Pasti kamu nggak percaya," jawab Marisa sambil mendongak menatap rafi.


"Ya gimana ya? Wajar kan, kalau orang itu ragu kamu belum pernah berhubungan badan? Sedangkan kamu sendiri kalau tidur sama cowok, suka megangin batangnya."


Marisa sontak terkekeh. Salah satu tangannya masih setia memainkan batang Rafi dengan lembut. "Aku sih nggak terlalu peduli apa kata orang. Percaya ya syukur, tidak percaya ya itu hak mereka, Fi. Aku nggak harus meyakinkan mereka kalau aku tidak seburuk yang mereka pikirkan."


" Hmm ... " Rafi bergumam. "Benar juga sih, baiklah, mending aku tidur. Ngantuk."


Marisa kembali menebarkan senyumnya dan mempersilakan Rafi untuk tidur duluan. Mata Rafi terpejam meski sebenarnya belum ada niat untuk tidur. Dia tahu sebentar lagi wanita yang sedang memainkan batangnya pasti akan beraksi. Rntah kenapa, Marisa memilih diam diam memainkan batang Rafi dengan mulutnya. Padahal kalau Marisa mita, Rafi dengan senang hati akan menyerahkan isi celananya untuk wanita itu.


Sesuai dengan dugaan, Rafi kini merasakan kalau batangnya sudah disentuh dengan lidah milik Marisa. Rafi memilih tetap diam. Selain tidak ingin membuat Marisa malu nantinya, Rafi juaga turut menikmati permainan mulut Marisa yang begitu lembut. Bahkan saat milik Rafi mnyemburkan cairan kental pun, Rafi merass mulut Marisa terus memainkan miliknya. Memang permainan mulut Marisa membuat Rafi sangat ketagihan.


Setelah batang Rafi mengeluarkan bebannya, Marisa dengan sigap langsung membersihkan tetesan demi tetesan cairan kental dengan tisu dan membuang tisu itu pada tempat sampah yang tersedia di sana. Begitu selesai bersih bersih, Marisa mencium pipi Rafi dengan penuh perasaan lalu merebahkan kepalanya di dada pemuda itu, kemudian memejamkan matanya. Seiring waktu berjalan, mereka pun terlelap dengan suasana hati yang begitu damai.


Masih di malam yang sama tapi di tempat kost, Wildan terlihat sedang menutup pintu gerbang dan menguncinya. Lalu dia memeriksa seluruh sudut kost sebelum dia masuk ke dalam kamar. Saat Wildan menginjakkan kakinya di depan salah satu kamar, Wildan mendengar suara kalina sedang bercakap. Dengan brpura pura ingin menjenguk sang adik yang malam ini tidur dengan Kalina, Wildan pun mengetuk pintu kamar tersebut.

__ADS_1


"Siapa?" seru Kalina begitu mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.


"Aku, pengin nengok Alisa," balas Wildan dengan suara sedikit pelan.


"Masuk saja. belum di kunci kok," Wildan langsung saja membuka pintu dan memasang senyum manisnya. "Apa adikkku sudah tidur nyenyak?"


Kalina bangkit dari berbaringnya. "Tuh, sudah nyenyak dari tadi."


"Syukurlah," balas Wildan terlihat begitu lega. "Tapi aku yang jadi susah tidur gara gara kepikiran ini bocah."


Mendengar ucapan malina yang terdengar asal, membuat Wildan juga terkekeh. "Yang ada nanti kita digrebeg, Kal."


"Mana ada!" bantah Kalina. "Emang kamu tidak lihat beberapa orang yang ngekost disini kadang ngajak pasangannya untuk bermalam?"


Wildan terlihat sedang berpikir, dan tak lama setelahnya dia mengangguk. "Iya juga sih. Kata Bang Rafi juga, tempat kost ini sangat bebas. Lagian aku juga beberapa kali menemukan pengamaan bekas pakai. Gila."


Kalina sontak tersenyum masam. "Apa kamu juga nggak pengin melakukannya kayak mereka?"

__ADS_1


Kening Widan seketika berkerut sembari menatap wanita di sebelahnya sekilas, lalu dia nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mana mungkin ada cewek yang mau tidur dengan aku, Kal. Cowok miskin, mantan pemulung. Masa depannya aja nggak jelas, mana mungkin aku berani menjanjikan keindahan pada cewek."


Kalina malah terkekeh. "Nasib manusia kayak kita memang sangat mengenaskan ya? Aku bahkan sampai mau dijadikan alat penebus hutang. Kalau aku tidak melarikan diri, mungkin sekarang aku sudah jadi istri ketiga pria yang umurnya sudah sangat tua."


Wildan pun ikut terkekeh, namun tak lama setelahnya wajah Wildan beruabah dan menatap wanita di sebelahnya dengan serius. "Bukankah rencananya nanti kita ke kampung kamu buat nebus sertifikat rumah kamu? Lah, terus kamu dapat uangnya dari mana, Kal?"


Kalina kembali tersemnyum tipis dan masam. "Kamu pasti bakalan terkejut saat tahu aku mendapatkan uang darimana. Bisa saja kamu bakalan jijik juga."


"Jijik? apa hubungannya?" tanya Wildan dengan rasa penasaran dan juga heran berbaur jadi satu.


"Ya pasti ada hubungannya, Wil."


"Hubungannya apa itu?"


"Yah, demi menyelamatkan warisan orang tuaku, aku terpaksa melakukan sesuatu yang terlarang."


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2