SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Nikmat Tiada Tara


__ADS_3

"Enak banget, Sayang."


"Sudah nggak sakit lagi?"


Wanita yang saat ini sedang disodok lubang nikmatnya langsung menggeleng sembari tersenyum manis. Melihat senyum manis tersaji di depan matanya, membuat pria yang sedang menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan gerakan pelan, langsung menyambar bibir wanita itu dengan bibirnya.


Beberapa saat kemudian setelah bibir mereka terlepas, wanita itu kembali tersenyum. Salah satu tangannya bergerak dan mendaratkan telapak tangannya di pipi pria yang mengungkungnya.


"Kenapa, Sayang? Kok senyum senyum gitu?" tanya Rafi saat dirinya merasa heran dengan tingkah wanita yang sedang dia sodok. Meski suaranya masih merintih, wanita bernama Lingze malah terus menatapnya dan menebar senyum yang sangat manis.


"Benar kata Nancy, kamu terlihat lebih tampan saat sedang menyodok nyodok seperi ini," ucap wanita itu pelan tapi masih bisa ditangkap oleh telinga Rafi sampai membuat senyum pria itu terkembang.


"Kamu juga sangat cantik, bikin aku semangat melakukan penyodokan," Rafi tak mau kalah mengeluarkan pujiannya, walaupun apa yang Rafi katakan memang benar. Semua laki laki pasti akan sangat berhasrat melihat kecantikan wanita bermata lentik itu. "Kayaknya sebentar lagi aku keluar, Sayang."


"Keluarkan aja, Sayang. Dari tadi aku terus yang meraih puncak. Sekarang giliran kamu, aku pengin tahu rasanya."


Senyum Rafi kembali terkembang dan untuk kesekian kalinya bibir mereka beradu. Rafi mempercepat gerakan pinggangnya, hingga beberapa menit kemudian tubuh Rafi menegang dan bergetar hebat bersamaan dengan menyemburnya cairan putih dan kental di dalam lubang Lingze.

__ADS_1


"Akhh~~" suara Rafi menggema saat pemuda itu meraih puncak nikmatnya. Setelah merasa cairan itu telah tuntas, tubuh Rafi ambruk diatas tubuh Lingze dengan nafas yang menderu.


Dengan nafas yang terengah engah pula, Lingze memeluk tubuh Rafi yang penuh dengan keringat. Untuk sesaat, mereka saling terdiam dengan batang yang masih tertancap dalam lubang milik Lingze.


Kluntang!


Ponsel jadul milik Rafi berbunyi. Pemuda yang masih berada diatas tubuh wanita yang memeluknya, langsung mendongak dan bangkit, terus merangkak meraih ponsel tersebut di dalam tasnnya. Senyum Rafi terkembang saat ada pesan yang mengatakan kalau misi ketiganya sukses. Seperti biasa Rafi langsung mengikuti interuksi yang sama seperti sebelumnya. Senyum Rafi terkembang sangat lebar, karena tabungannya sekarang bertambah makin banyak.


"Dih, senyum senyum sendiri. Pesan dari pacar kamu? Kok pake hape jadul?" cibir Lingze saat dirinya memperhatikan gerak gerik Rafi.


Lingze langsung menoleh dan menatap Rafi dengan tatapan tak percaya. "Mana mungkin? Pria setampan kamu nggak punya pacar? Bohong banget."


"Serius, aku sedang males berhubungan spesial dengan wanita. Kalau iya aku punya pacar, aku nggak mungkin tidur sama cewek lain kayak gini."


Tatapan tak percaya Lingze semakin bertambah. Wanita itu menatap dua mata Rafi lekat lekat dan mencari sebuah kebohongan di bola mata pria itu. "Kenapa kamu sampai nggak punya cewek?"


Rafi menghela nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Telapak tangannya masih setia menggenggam bukit yang masih sangat kenyal. "Aku pengin memperkaya diri dulu. Karena aku nggak mau hidup dengan hinaan. Aku ingin menutup mulut orang orang yang menghinaku dan orang tuaku."

__ADS_1


Kening Lingze berkerut lalu dia mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau dia mengerti. Lingze terus mengalihkan pandangannya menatap langit langit kamar. "Dihina memang sangat menyakitkan. Aku sendiri sering mendapatkan hinaan, terutama dari keluarga pacarku yang sekarang. Makanya mungkin ini saatnya aku balas dendam sama dia."


"Kenapa kamu bisa sampai dihina?"


"Gara gara keluargaku tidak sekaya keluarganya. Apa lagi ayahnya pacarku adalah atasan dari ayahku, makin mudahlah mereka menebarkan hinaan. Maka itu aku tidak sabar menantikan hari pernikahanku."


"Kalau ayah kamu punya kedudukan, berarti kamu anak orang kaya dong? Kenapa kamu malah menjual mahkota kamu?"


Lingze sontak menoleh kembali ke arah Rafi. "Ngapain hal itu masih ditanyakan sih? Nyebelin banget, orang kamu aja menikmatinya," sungut Lingze.


"Hehehe ... maaf, Sayang. Aku cuma kaget saja. Soalnya yang aku tahu, wanita yang mau menjual mahkotanya itu kebanyakan wanita yang sangat butuh uang. Makanya tadi aku heran saat tahu kamu anak orang kaya."


Lingze sontak mencebikkan bibirnya. "Jujur nih ya? Aku tuh sebenarnya sudah menawarkan mahkotaku ke beberapa pria, tapi akunya nggak cocok karena yang beli kebanyakan seumuran ayahku. Ya aku ogah dong ya."


"Astaga!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2