
"Hidupku telah hancur, Bu, hidupku hancur. Aku jijik dengan tubuhku sendiri, hiks ... hiks ..." tangis Lupita terdengar sangat memilukan. Mendengar ucapan Moreno tentang empat pria jalannan yang telah menikmati tubuhnya, membuat wanita itu merasa hidupnya hancur seketika. Wanita itu masih tidak menyangka, rencana yang menurutnya sempurna, justru telah terbaca oleh target, sejak Lupita dangan rasa percaya diri yang tinggi, menemui orang itu.
Orang tua Lupita pun hanya terdiam. Mereka tidak bereaksi apa apa saat ini. Begitu pulang dari kantor Moreno, mereka tidak banyak mengatakan kata kata sebagai bentuk kemarahan. Mereka justru terlihat kecewa dengan diri mereka sendiri. Rasa frustasi jelas sekali terlihat pada wajah tua dua orang yang terduduk dengan segala pemikiran yang terjadi di otaknya.
Selama ini yang mereka tahu, bagaimana rasanya menghina. Selama ini yang mereka tahu hanya menjaga nama baik dengan memperkaya diri. Entah itu caranya bagaimana, mereka tidak peduli, yang pasti mereka bertahan sebagai orang kaya dan terpandang. Dan saat ini, mereka baru merasakan bagaimana rasanya dihina dan dipermalukan. Bahkan apa yang Lupita dapatkan lebih parah daripada hinaaan yang sering terlontar oleh mulut mereka.
"Apa ini karma buat kita, Yah?" tanya Ibu yang akhirnya mengeluarkan suaranya, setelah beberapa saat tadi dia terdiam. "Apa ini karma atas semua perbuatan kita dulu."
"Mana mungkin ada karma, Bu," Ayah malah menyangkalnya, membuat sang ibu menghirup nafasnya dalam dalam karena wanita tua itu merasakan sesak yang sangat luar biasa.
"Dulu kita selalu dengan mudah menghina orang yang lebih rendah dari kita. Kita terlalu sering menganggap mereka remeh. Ayah ingat, bagaimana kita dengan kejam menghina Mail dan istrinya serta anak yang mereka kandung? Ayah ingat semua itu bukan?" Pria tua yang dilempar pertanyaan oleh sang istri hanya terdiam, meski dalam benaknya dia sangat ingat dengan perlakuannya dahulu.
"Dulu, kita selalu mendukung apapun yang dilakukan anak kita. Entah itu caranya benar atau salah, kita selalu mendukungnya. Bahkan, beberapa rumah tangga hancur karena ulah anak kita. Tapi kita dengan sangat bangga malah mendukungnya. Namun apa yang kita dapat, bukannya kita semakin kaya, tapi kita selalu merasa kurang dengan apa yang kita miliki." Tidak ada respon apapun dari sang suami. Hanya ada isak tangis yang sedari tadi keluar dari mulut Lupita.
"Sekarang tubuh anak kita justru dinikmati oleh orang orang jalanan. Bukankah kita dulu sering menghina orang orang jalanan? Tukang parkir, pengemis, pengamen, apapun itu pekerjaan yang yang kita anggap miskin, kita hina. Bahkan tak ada satupun orang yang betah bekerja di rumah kita maupun di kantor kita karena hinaaan yang keluar dari mulut kita, tidak pernah terkontrol. Sekarang, kita yang selamanya akan terhina dengan adanya video itu, Yah."
__ADS_1
"Sudah sih, Bu, berhenti ngomongnya. Ayah sedang pusing ini." protes si Ayah.
Di saat bersamaan, anak laki laki mereka datang dengan wajah yang tidak biasa sampai membuat kedua orang itu cukup terkejut.
"Ayah! Gawat ayah, gawat!" teriak Burhan dengan wajah yang terlihat sangat panik.
"Ada apa, Burhan? Apanya yang gawat?" tanya sang Ayah dengan wajah terkejutnya.
"Kita hancur, Ayah, kita hancur!" Burhan terlihat begitu frustasi.
"Jangan membuat Ayah bingung, Burhan! Apa yang terjadi? Apanya yang hancur?" hardik sang ibu,
"Sonya? Memang ppa yang dilakukan istrimu?"
"Dia kabur dengan selingkuhannya, Bu, dia kabur," Burhan benar benar terlihat sangat frustasi.
__ADS_1
"Terus? Apa hubungannya dengan kita? Kita hancur bagaimana maksudmu?"
"Sonya kabur dengan membawa semua surat surat berharga perusahaan kita, Bu."
"Apa!" Kedua orag tua itu ternganga dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sementara itu, di tempat lain, seperti yang sudah direncanakan, Marisa saat ini sedang memilih perhiasan dengan Rafi di sebuah toko perhiasan yang cukup mewah. Mereka membeli keperluan untuk acara lamaran mendadak.
"Maaf, ya, Sha, acara lamarannya ngak semewah seperti orang kaya pada umumnya," ucap Rafi begitu cincin sudah mereka dapatkan dan mereka sedang makan sebentar di sebuah cafe.
"Nggak apa apa, Sayang. Yang penting nanti pas acara nikah, kita bisa merayakannya semewah mungkin," ucap Marisa, nampak sumringah.
Rafi pun ikut tersenyum. "Kalau itu sih sudah pasti. Apa lagi Daddy. Kamu lihat kan, tadi pagi dia sangat bersemangat."
"Hahaha ... aku juga nggak nyangka, Om Moreno akan seantusias itu."
__ADS_1
Karena sebentar lagi pesawat yang membawa alexander akan datang, Rafi dan Marisa terpaksa menyudahi acara bersamanya. Mereka berpisah karena Rafi harus melanjutkan pekerjaan di kantornya. "Setelah aku menikah, apa sistem ini masih berlaku?" gumam Rafi sambil menatap ponsel jadulnya.
...@@@@@@@...