SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Penghuni Kost Baru


__ADS_3

"Permisi!" teriak seseorang dari depan post jaga yang ada di sebuah bangunan dengan banyak kamar.


"Ya!" suara sahutan tak kalah keras datang dari sebuah ruang yang letaknya di belakang post tersebut. Pemilik suara yang tadinya akan menikmati makanan bersama dua wanita yang berbeda usia mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya untuk menemui orang yang datang. "Ada apa ya, Mbak?" tanya pria itu begitu sampai di post jaga.


"Masih ada kamar kosong, Mas?" tanya sang tamu yang ternyata seorang wanita muda.


"Oh ada, Mbak mau ngekost di sini?" tanya pemuda bernama Wildan dengan wajah yang seketika berubah lebih ceria.


"Rencananya begitu, sepertinya tempat ini nyaman," ucap wanita itu sambil mengedarkan padangannya ke sekitar area kost.


"Tentu saja. Selain nyaman, fasilitas disini juga lengkap. Mbak bisa baca di papan depan, fisilitas yang bisa Mbak nikmati selama ngekost disini," balas Wildan dengan sangat ramah.


"Iya, saya sudah baca, makanya saya tertarik. kalau boleh, apa saya bisa melihat isi kamarnya?"


"Oh, tentu, sebentar," Wildan beranjak membuka laci dimana letak kunci kamar yang masih kosong berada di sana. "Mari Mbak, ikut saya."


Wanita itu mengangguk. Sembari menarik kopernya, wanita itu mengikuti langkah pria di depannya. Tak butuh waktu lama keduanya kini sudah berada di dalam satu kamar sesuai pilihan wanita itu. Wildan menjelaskan apa saja yng memang harus dijelaskan. Dia juga dengan gamblang menjawab setiap pertanyaan tamunya.


"Ya udah, deh, Mas. aku ambil satu kamar ini."

__ADS_1


"Wahh! baik, Mbak. Kalau begitu boleh saya pinjam kartu identitas Mbak sebentar, buat data dan juga laporan."


"Oh, oke." wanita itu segera membuka tas slempangnya dan mengambil apa yang diminta si penjaga kost. "Ini, Mas."


"Makasih, Mbak. tunggu sebentar ya?" wanita itu megangguk dan Wildan segera melesat keluar dari kamar itu. Begitu melihat Wildan pergi, wanita itu langsung mengambil ponsel dan melalkukan panggilan.


"Aku sudah ada di tempat kerja Rafi nih."


"Oke, kamu tunggu aja kabar selanjutnya!"


"Sipp!"


klik!


Sedangkan Wildan yang saat itu sedang menuju ke post jaga, kembali melihat ada wanita disana. "Siapa dia?"


Di tempat berbeda, Rafi sendiri sedang menikmati olahan laut bersama Marisa di sebuah warung tenda yang letaknnya tak jauh dari sebuah mall. Setelah berbelanja baju untuk pesta besok malam, Rafi dan Marisa memang memutuskan jalan jalan sejenak. Begitu mereka merasa lelah, keduanya memutuskan istirahat sembari mengisi perutnya di warung tenda yang menyajikan hidangan laut.


Sedangkan empat orang yang menjaga Rafi dan Marisa, berada di dalam mobil yang letaknya tak jauh dari mereka. Keempat orang itu benar benar bekerja secara profesional. Bahkan saat Rafi mengajak para pengawal untuk makan bersama, dengan tegas keempatnya menolak demi keprofesionalan tugas mereka.

__ADS_1


"Besok sabtu kamu libur kantor kan, Fi?" tanya Marisa disela sela menikmati hidangan di hadapannya. Rafi mengangguk sembari sibuk mengorek orek daging kepiting yang lumayan besar. "Kamu ada acara nggak?"


"Kemungkinan aku akan ke tempat kost, mau membereskan masalah orang,," jawab Rafi sesekali pandangannya terbagi antara memandang Marrisa dan hidangan di hadapannya.


"Emang ada masalah apa di tempat kost?"


"Kebetulan orang yang pernah aku tolong dulu sekarang datang lagi minta tolong untuk menuntaskan masalahnya. Makanya aku besok ke kost, walaupaun sih yang turun tangan nantinya Wildan, tapi tetap saja aku harus mengarahkan mereka."


Marisa nampak menggut manggut. "Emang masalah apa sih? kok kayak serius banget?" sambil menikmati hidangannya, Rafi menceritakan kisah seseorang bernama Kalina serta permasalahnnya. Raut wajah terkejut bahkan sesekali ditunjukan oleh marisa ketika mendengar kepahitan nasib wanita ittu. "Kok kasian banget ya, Fi, nasibnya?"


"Ya begitulah. Makanya aku heran, orang sudah susah kok ya ada aja yang tega mau bikin nambah susah."


Marisa kembali nempak manggut manggut dan dia membenarkan ucapan Rafi. "Terus apa dia juga jual diri ke kamu untuk mendapatkan uang tebusan?" Rafi mengangguk sambil cengengesan. "Dih, menang banyak kamu!"


"Hahaha ... ya gimana lagi ya? Kan dia yang nawarin. Berhubung aku bisa bantu ya, apa salahnya kan? Lagian dia nggak mau punya hutang, meski aku sudah nawarin. Ya udah aku mau aja menerima pilihan dia."


"Berarti kalau ada cewek yang membutuhkan uang lalu dia menjual dirinya sama kamu, kamu akan terima, Fi?"


"ya nggak juga.Aku lihat dulu masalahnya apa. Aku juga nggak mau gegabah menolong orang. Takutnya malah aku dimanfaatin, bisa bahaya."

__ADS_1


Tanpa Rafi sadari, memang ada seseorang yang ingin memanfaatkan kebaikan pemuda itu untuk sesuatu yang bisa membuat Rafi kalang kabut.


...@@@@@...


__ADS_2