
"Tolong! Jangan bunuh aku! Aku mohon, tolong!"
Rafi begitu sangat terkejut mendengar suara rintahan dari wanita yang matanya masih terpejam. Wanita itu terdengar sangat ketakutan, bahkan sampai wajah dwanita itu basah karena keringat. Rafi segera mendekat dan berjongkok lalu menepuk pipi wanita bernama Marisa yang sedang mengigau dan terlihat sangat tertekan hingga wajahnya pucat
"Non! Bangun, Non! Nona," ucap Rafi dengan suara sedikit keras. Usahanya berhasil, wanita itu langsung membuka matanya dan dengan cepat dia bangkit lalu memeluk pemuda yang berjongkok dihadapannya. Rafi tentu saja kaget mendapat serangan mendadak seperti itu. Dia bahkan hampir saja terjengkang kalau tidak segera menahan tubuhnya sendiri dengan sala satu tangannya.
"Aku takut," rengek wanita itu lirih. Bahkan Rafi merasakan tubuh wanita itu gemetar. Bajunya basah oleh keringat. Meskipun di dalam kamar sudah disediakan kipas angin, tapi kipas itu sepertinya tidak berpengaruh pada hawa panas dalam kamar itu.
"Takut, kenapa? Nggak ada apa apa," Rafi mencoba menenangkan wanita itu meski tangannya tidak membalas pelukannya.
Saat Marisa sadar kalau yang dipeluk adalah orang lain, dia langsung mengurai tangannya lalu menunduk. " Maaf, aku nggak bermaksud ..."
"Nggak apa apa," balas Rafi cukup mengerti keadaan. "Tidur lagi aja. Udah larut malam."
__ADS_1
"Aku takut. Aku nggak mau tidur sendirian " Marisa kembali merengek, tapi wajahnya masih menunduk dan tangannya menggenggam pergelangan tangan Rafi.
Sekarang Rafi yang dilanda dilema. Rafi merasa, dia tidak mungkin tidur satu kasur dengan anak Tuan Alexander. Tapi melihat keadaan wanita itu sangat ketakutan, tumbuh rasa iba dalam diri Rafi. Mau tidak mau, dia pun akhirnya mwemutuskan untuk tidur menemani wanita itu.
"Tunggulah sebentar, aku mau ke toilet," ucap Rafi sambil berdiri. Marisa mengangguk lemah, dan Rafi bergegas keluar kamar.
Setelah selesai urusannya dengan toilet dan juga memeriksa keadaan tempat kost, Rafi kembali masuk ke kamar. "Kenapa belum tidur?" tanya Rafi yang nampak terkejut karena Marisa masih terdiam sambil duduk.
"Aku nungguin kamu," jawab Marisa lirih tapi suaranya masih bisa didengar oleh pria yang sedang menghembuskan nafasnya secara perlahan. Pria itu mengunci pintu kamar lalu melangkah melewati Marisa dan bersiap membaringkan tubuhnya.
"Aku takut," seakan mengerti kalau Rafi akan menyingkirkan tangannya, Marisa langsung mengeluarkan rengekannya kembali. pada dasarnya wanita itu memang masih merasa sangat ketakutan. Rafi hanya bisa pasrah lalu dia mencoba memejamkan matanya.
Tapi sayang, berkali kali Rafi mencoba memejamkan matanya malah selalu gagal. Rasa kantuk bahkan seakan enggan menghampiri matanya. Kasur yang seharusnya cukup untuk satu orang, nyatanya terasa lebih sesak saat digunakan dua orang seperti ini.
__ADS_1
Rafi merubah posisi tubuhnya secara perlahan menjadi menghadap langit langit. matanya melirik wanita yang sedang memeluknya, mata wanita itu sudah terpejam. Rafi sedikit menggerutu. Bisa bisanya Marisa bisa terlelap kembali secepat itu disaat Rafi susah tidur karena perlakuan dirinya.
Rafi kembali merubah posisi tidurnya hingga wajahnya sekarang berhadapan sangar dekat dengan wajah Marisa. Tanpa sadar Rafi tersenyum. Bahkan tangan pria itu bergerak dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Marisa.
"Cantik," pujinya. Rafi akui wanita itu memang cantik. wajahnya yang tercipta karena campuran antara darah dari produk lokal dan Eropa, membuat anak bungsu dari pasangan Alexander Walington dan Maharani Ayudya itu terlihat sempurna akan kecantikannya.
"Kamu masih ting ting nggak, Non?" ucap Rafi begitu lirih. Menatap wajah cantik didepannya, pria itu jadi teringat akan misinya yang keempat dengan hadiah yang sangat besar. " Tapi aku yakin, kamu sudah tidak ting ting, kan?" tanya sendiri, dijawab sendiri. Wajar jika Rafi berpikir demikian karena dia tahu kehidupan diluar negeri seperti apa bebasnya.
Rafi terus mengamati wajah wanita itu serta sesekali mengusap pipinya yang sangat lembut. Sampai akhirnya rasa kantuk datang menyerang matanya. Rafi pun terlelap sembari membalas pelukan Marisa.
Di malam yang sama, tapi di tempat yang jauh berbeda, terlihat enam orang pria berwajah sangar sedang berbincang serius di bawah pengaruh alkohol. Mereka nampak sedang membahas sesuatu yang terlihat sangat penting. Padahal diantara mereka sudah ada yang terlihat sangat mabuk. Salah satu dari mereka, berniat beranjak dari tempat itu dengan alasan menuju ke toilet. tanpa yang lain sadari, sebenarnya orang itu akan melaksanakan rencana yang dia susun, untuk menghancurkan lima orang lainnya.
"Aku mulai bergerak darimana ini?"
__ADS_1
...@@@@@...