
"Sha. Bisa minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong tidurnya sambil pegangin isi celanaku dong."
Kening Marisa sontak berkerut sembari mendongak. "Masa minta tolong kayak gitu sih?"
"Ayolah, pliss. Lagian kan kamu nempel sampai pagi. Masa yang merasakan enak kamu doang sih, aku nggak," protes Rafi dengan wajah cemberut.
Marisa seketika mencebikan bibirnya lalu dia kembali merebahkan kepalanya di dada Rafi. Tak lama berselang, Rafi merasakan jari tangan Marisa merayap dan masuk ke dalam celana kolornya hingga kini jari tangan itu telah menggengam isi celana Rafi yang perlahan sudah membesar.
Rafi seketika langsung tersenyum lebar. "Nah, kalau kayak gini kan enak," seru Rafi. Tidak lupa pula dia mengucapkan kata terima kasih lalu Rafi memejamkan matanya.
Meski matanya terpejam, Rafi sebenarnya tidak langsung tertidur. Dia sudah merasakan gerakan lain pada wanita di sisinya beberapa saat kemudian. Lagi lagi Marisa mengulangi perbuatan nakalnya. Dia diam diam memainkan isi celana Rafi dengan mulut. Walaupun tidak masuk ke dalam lubang utama, tapi bagi Rafi, yang dilakukan Marisa cukup menyenangkan. permainan mulut wanita itu benar benar membuat ketagihan.
Permainan Marisa terhenti begitu isi celana Rafi mengeluarkan cairan hangatnya yang berwarna putih. Marisa langsung meraih tisu yang ada di atas meja untuk membersihkan benih benih milik Rafi yang bercederan. Dalam benak Rafi, dia merasa merasa heran tadi saat dia masuk kamar, matanya melihat tisu yang ada di atas meja dekat ranjang. Ternyuta, Marisa memang sudah mempersiapkannya. Setelah semuanya bersih, Marise kembali memegangi isi celana Rafi dan beberapa saat kemudian mereka pun terlelap.
Dan tanpa terasa, kini pagi kembali hadir, menyapa dua orang yang posisi tidurnya kini sudah saling behadapan dan memeluk satu sama lain. Di saat bersamaan pula, keduanya menunjukkan gerakan kalau mereka terbangun saat itu juga.
__ADS_1
"Tidur sambil meluk kamu ternyata nyaman banget ya, Fi," ucap Marisa begitu matanya terbuka lalu mengencangkan pelukannya serta menenggelamkan kepalanya di dada Rafi.
"Ya harus. Kalau nggak nyaman, mana mungkin kamu betah seperti ini," jawab Rafi dengan suara khas orang baru tidur. "Kamu semalam tidur jam berapa?"
"Nggak tahu, nggak lihat jam. Tapi aku tidur tak lama setelah kamu tertidur kok," jawab Marisa yang memang benar adanya. Walaupun dia tidak menceritakan segala kejadian sebelum tidur, nyatanya begitu menikmati isi celana Rafi selesai, Rafi langsung terlelap dan Marisa menyusulnya.
"Benarkah?" ucap Rafi memastikan. Marisa langsung mengiyakan dan Rafi memilih untuk percaya saja. "Enak kali yah, kalau bangun tidurr, ada cewek yang sedang memainkan isi celanaku."
Kening Marisa sontak berkerut. Tanpa mengubah posisinya, wanita itu mencerna ucapan Rafi. "Ya makanya cari pacar, ajak tidur bareng. Biar tiap pagi keinginan kamu terwujud."
"Kalau aku punya pacar, memang kamu mau tidur sendirian?" tentu saja Marisa dengan lantang dan tegas langsung menolaknya. "Nah tuh! kamu sendiri nggak mau tidur terpisah dengan aku, gimana aku bisa punya pacar dan mewujudkan keinginanku."
"Hari ini rencana kamu apa, Fi?" tanya Marisa beberapa menit kemudian setelah dirinya terdiam.
"Belum tahu. Mungkin nanti Daddy ngasih tahunya kalau kita sarapan," mendengar jawaban Rfi, Marisa hanya menjawab dengan kata oh saja, lalu mereka kembali terdiam dengan tubuh masih saling berpelukan.
Sementara itu di tempat lain, jauh dari keberadaan Rafi, nampak seorang wanita dengan menggendong tas, terlihat memasuki tempat kost milik Rafi. Kening wanita itu berkerut saat langkahnya menuju post jaga, matanya tidak menangkap sosok pria yang dia cari, tapi dia malah melihat wajah lain yang berada di sana.
Wildan yang sedang duduk sendirian sembari main game di ponsel barunya juga menyaksikan kedatangan wanita itu. Wildan langsung bediri dan menyambutnya sebagai tanda hormat. Wildan berpikir kalau wanita itu mungkin calon penyewa kamar baru.
__ADS_1
"Pagi, Mbak, ada yang bisa saja bantu?" sapa Wildan ramah, saat wanita yang baru saja datang itu sudah berada di dekatnya.
"Masnya kerja di sini?" wanita itu malah melempar pertanyaan sampai kening Wildan berkerut karena terkejut mendengarnya.
"Iya, saya kerja di sini, kernapa, Mbak?"
"Terus mas yang kerja disini kemarin kemana?"
Wildan semakin tercengang, tapi itu tak berlangsung lama karena Wildan tahu siapa yang dimakaud wanita itu. "Mbak nyari Bang Rafi?"
Gantian sekarang wanita itu yang nampak terkejut. "Kamu kenal Rafi?" Wildan seketika mengiyakan. "Rafinya dimana?"
"Bang Rafi sudah tidak tinggal disini, Mbak."
Wanita itu kembali dibuat terkejut. "Kok bisa? Terus sekarang dia tinggal dimana?"
"Aku kurang tahu, Mbak."
Wanita itu langsung menunjukkan wajah bingungnya. Wildan pun jadi ikutan bingung juga, sampai beberapa saat kemudian dia teringat dengan pesan yang disampaikan Rafi kepadanya di hari kemarin.
__ADS_1
...@@@@@...