
"Maaf, Tuan. Apa saya boleh bertanya?"
"Silakan, Nyonya?"
"Sebelumnya saya minta maaf jika pertanyaaan saya mungkin sedikit lancang. Saya hanya penasaran, apa benar Tuan Rafi itu putra anda? Saya perhatikan wajah anda sangat berbeda dengan wajah Tuan Rafi?"
Moreno tertegun mendengar pertanyaan dari wanita tua yang nampak modis tersebut. Namun itu tak berlangsung lama, karena beberapa detik kemudian senyum Moreno langsung terkembang. "apakah jika menjadi anak saya, wajahnya harus mirip, Nyonya?"
Bukannya menjawab, Morena malah melempar pertanyaan yang cukup membuat semua orang yang ada di sana tercekat mendengarnya, terutama wanita yang tadi melempar pertanyaan. Bahkan dia sampai tergagap begitu yang dikatakan Moreno tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Hahaha ... benar, Tuan Moreno," Burhan segera menimpali. "Anak saya saja, tidak mirip sama sekali dengan saya. Dia malah lebih mirip sama tantenya. Lagian Ibu aneh, ngasih pertanyaan kok tidak masuk akal."
Moreno masih tersenyum mendengar pembelaan orang yang sebenarnya sedang cari muka. "Anak itu memang penuh kejutan sih. Yah kalian juga nanti akan terkejut jika mengetahui fakta yang Rafi simpan dengan sangat rapi."
__ADS_1
Ucapan Moreno sukses membuat keluarga itu kembali merasa terkejut. "Maksud. Tuan?" tanya sang ibu.
Moreno tetap menunjukkan senyumnya hingga dia memilih mengakhiri obrolan mereka karena Moreno juga ingin menyapa yang lainnya. Dengan berat hati mereka pun membiarkan Moreno pergi. Sedanglkan beberapa anggota keluarga tuan rumah menatap kepergian Moreno dengan segala rasa heran yang tidak ada jawabannya.
"Ibu sih, pakai mempertanyaan soal Rafi segala. Padahal aku lagi berusaha untuk memikat hatinya agar dia mau investasi perusahaanku," sungut Burhan yang langsung menjukkan rasa kesalnya.
"Ya maaf, ibu hanya heran saja. Kalian tahu nggak? Wajah Rafi itu mirip anak yang Ibu pungut saat dia masih muda," pembelaan ibu tentu saja mermbuat anak anaknya tercengang mendengarnya. Tapi tak lama setelahnya, sang anak malah mendengus kasar.
"Ya ampun, Bu, mirip darimananya? Kalau itu anak Bang Mail, ngggak mungkin dia berkelas seperti itu? Baju yang dipakai Tuan Rafi aja diperkirakan lebih dari lima juta. Bang Mail mana sanggup membeli barang semahal itu," ucap Lupita membantah perkataan ibunya.
Burhan pun menyetujuinya. Dia langsung saja pergi bersama sang istri, lalu disusul oleh Sergo dan Lupita meninggalkan seorang ibu dan ayah mereka yang masih terpaku. "Gimana, Yah, menurut kamu? Pemikiran ibu benar, kan?" Ibu masih mencari pembenaran.
Sang suami seketika menghembuskan nafasnya secara kasar. "Nggak perlu berlebihan, Bu. Benar kata anak anak, Mail itu hidup susah. Ibu tahu sendiri dia pergi dari rumah tanpa membawa apa apa. Kalaupun pada akhirnya dia memiliki ekonomi yang cukup, bukan berarti dia bisa membeli jass yang mahal untuk anaknya demi ikut pesat ini. Udahlah, Bu, berpikir yang masuk akal saja."
__ADS_1
Sekarang, Ibu yang merasa kesal. Dia sama sekali tidak mendapat dukungan dari salah satu dari keluarganya. Tapi sebagai orang yang pernah merawat ayahnya Rafi sejak kecil, entah kenapa naluri wanita itu mengatakan kalau Rafi yang dia lihat adalah anaknya Rafi anaknya Mail. Bahkan nama anak itupun sama sama dipanggil Rafi.
Sementara itu, Pemuda yang sedang diperhatikan oleh seorang ibu, sudah nampak gusar berada di pesta tersebut. Bagi Rafi, acara pesta ini sangat membosankan. Apa lagi senyum para tamu undangan lebih banyak yang palsu daripada yang tulus. Mereka rata rata hanya cari muka demi sebuah tujuan yang mungkin memang sudah disiapkan sebelumya.
Marisa sendiri, tidak sedikit orang yang menyapa. Banyak yang kenal wajah Marisa sebagai putri dari Alexander Wallington. Maka itu, setiap Marisa melangkah dan kebetulan ada orang yang mengenalnya, orang itu langsung basa basi dan mengajaknya ngobrol.
"Kamu udah kayak artis aja, Sha, yang kenal banyak banget," ucap Rafi sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah meja hidangan.
"Hehehe ... mereka kan kebanyakan rekan bisnis Daddy. Ya apa salahnya aku membalas sapaan mereka. Lagian kan tadi kamu dengar sendiri kalau mereka menanyakan keadaaan Daddy," jawab Marisa dan kini keduanya sudah berada di deretan bermacam macam makanan yang bisa mereka niknati. Rafi pun memilih diam. Penjelasan dari Marisa, cukup membuatnya mengerti.
Tak jauh dari keberadaan Rafi dan Marisa, terlihat tiga orang sedang memandang ke arah mereka. Salah satu dari orang itu tersenyum sinis. "Sekarang waktunya bertindak. Aku pisahkan merreka berdua. Ayok! Nanti kalian yang jadi saksi."
"Siap!"
__ADS_1
...@@@@@@@@...
Hy reader apa kabar? Gimana lebaran kalian? Seru bukan? Othor cuma mau ngucapin selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal fa'izin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita tetap bisa bersilaturahmi meski lewat bacaan ya? othor juga mau ngasih tahu kalau mulai hari ini jam update menjadi siang, sore dan malam. Terima kasih yang masih setia memberi dukungan dan maaf jika othor banyak salah.