SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rafi Dan Pria Bertato


__ADS_3

"Saya tidak tahu, ya, Pak. Kemarin saya dengar cerita kalau suami wanita itu sedang menjadi buronan karena pekerjaannya yang tidak benar."


Mata pria itu membelalak. Wajah khawatirnya semakin terlihat keruh. Pria itu menatap lekat pemuda yang juga sedang memandangnya sambil menikmati hidangan yang ada. "Apa kemarin ada orang yang datang kesini?"


Rafi dengan santai mengangguk. "Ada, dua orang. Dia memiliki tato yang sama dengan milik anda," pria itu langsung terduduk di atas tembok depan meja pos jaga. Wajahnya semakin terlihat kacau dan sesekali dia mengusap wajah dan mengacak rambutnya karena bingung harus melakukan apa kali ini. "Kenapa anda tidak terus terang saja sama istri anda tentang pekerjaan anda, Pak?"


Pria itu menoleh ke arah Rafi dengan kening yang berkerut. "Apa istri saya cerita sesuatu sama kamu?"


"Kalau nggak cerita ya saya nggak tahu, Pak. Sepertinya bapak memang tidak kasihan sama istri dan anak bapak."


Pria itu memandang ke arah lain. "Kalau saya tidak kasihan, saya tidak akan membawanya sampai sejauh ini."


"Itu bukan karena kasihan, itu karena anda melindungi diri anda sendiri dari pekerjaan anda yang bisa jadi memang pekerjaan yang tidak benar. Kalau memang pekerjaan anda benar, anak dan istri anda akan tetap aman berada di tempatnya tanpa harus berpindah pindah tempat."


Deg!

__ADS_1


Pria itu kembali menatap tajam pemuda yang sedang menikmati sisa makanannya. Meski Rafi tidak membalas tatapan pria itu, Rafi tahu kalau pria di hadapannya pasti cukup tertohok dengan apa yang dia katakan. Pria itu bahkan terdiam da kembali mengedarkan pandangan ke arah lain.


"Aku tahu, orang orang seperti anda bahkan akan tega melenyapkan orang yang tidak berdosa, bukan? Bagaimana kalau hal itu terjadi pada anak anda?" kali ini ucapan Rafi kembali mendapat sorotan yang sangat tajam dari mata pria itu. "Kenapa? Apa anda juga akan membunuh saya karena tahu sepak terjang pekerjaan anda?"


Pria itu membuang muka. yang Rafi tahu pria itu terlihat sedang putus asa. Biar bagaimanapun pria itu juga tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi. "Darimana kamu tahu tentang pekerjaanku?" pria itu bertanya tanpa memandang ke arah Rafi. "Asal kamu tahu, aku tidak pernah terlibat dalam setiap aksi melenyapkan seseorang."


Rafi tersenyum tipis. "Apapun alasannya, bukankah anda tetep bisa dilibatkan. Bahkan dua orang yang mencari istri anda berkata kalau itu bukan anak dan istri anda. Mereka juga bilang kalau andalah yang menculiknya. beruntungnya wanita itu sudah pergi dari hidup anda dan orang orang yang mencarinya."


Pria itu mengucap wajahanya dengan kasar. "Aku sendiri juga bingung, Di saat aku ingin bertobat, keluargaku malah kena teror. Beruntungnya mereka tidak tahu alamat orang tuaku dan juga mertuaku karena mereka tinggal di luar pulau. Sekarang mereka mengincar istri dan anakku agar aku agar aku tidak bisa lepas dari jaringan ini."


Pria itu menghembus kasar nafasnya, lalu matanya menatap punggung tangannya sendiri yang bertato tulang ikan. "Semua itu karena uang. Kemiskinan membuat aku memilih jalan yang salah. Awalnya memang aku menikmatinya, Namun saat aku menikah dan memiliki anak laki laki, sejak itu aku mulai merasakan ketidak tenangan dalam hati."


"Apa menghilangkan nyawa juga termasuk pekerjaan yang harus anda lakukan?"


Pria itu menoleh dan menatap tajam Rafi yang juga sedang menatapnya. "Sepertinya kamu tahu banyak tentang pekerjaanku? bahkan istri aku sendiri tidak pernah tahu pekerjaanku."

__ADS_1


Rafi sontak menyeringai. Jika boleh jujur, didalam hati Rafi, sebenarnya juga sedang merasa takut menghadapi situasi seperti ini. Tapi rafi tetap menocba berusaha tenang agar dia memiliki kelancaran dalam mencari informasi. Apa lagi dia juga punya senjata untuk menekan pria itu, jadi Rafi sedikit lebih aman sekarang.


"Bukankah sekarang jamannya sosial media? Apa anda tidak pernah melihat berita tentang bagaimana jahatnya anda dan kelompok anda?"


Pria itu tersemyum kecut. "Tapi sayangnya saya tidak pernah terlibat sampai sejauh itu."


"Kalau anda tidak terlibat? Kenapa anda tidak menyerahkan diri saja ke pihak berwajib dan membongkar semuanya?"


"Tidak semudah seperti yang kamu pikirkan anak muda."


"Kenapa? Apa susahnya?"


"Karena pekerjaan yang kami lakukan atas perintah seseorang dan tentu saja orang itu bukan orang sembarangan. Bisa saja setelah saya menyerahkan diri kepolisi, saya justru akan lebih mudah ditindas dan mungkin nyawa saya juga bisa saja menghilang berada di dalam benjara."


Deg!

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2