
"Anda siapa yah? Saya Rafi, katanya anda mencari saya?" tanya Rafi begitu dia turun menemui tamunya. keningnya sempat berkerut saat tamu yang berjumlah dua orang itu menunggunya. Mereka berpakaian sangat rapi, memggunakan jas hitam dan berdasi, seperti orang yang kerja kantoran.
Dua pria itu lantas saling memandang satu sama lain dan tersenyum penuh arti, lalu mereka kembali menatap Rafi. "Selamat malam, Tuan muda, kami kesini untuk menjemput anda."
"Apa? Tuan muda?" Rafi dan Marisa memekik hanpir bersamaan. Gantian mereka berdua yang saling tatap dan merasa tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. "Apa anda tidak salah orang?" tanya Rafi lagi.
"Tentu tidak, Tuan muda. Kami sudah bertugas sesuai petunjuk dari Tuan kami. Agar Tuan muda semakin yakin, sebaiknya Tuan muda ikut kami sekaramg" kata salah satu diantara mereka.
"Ikut kalian? Kemana?"
"Tuan muda ikut saja, nanti Tuan muda akan tahu sendiri." Rafi tak langsung menjawab, sedangkan Marisa semakin mengeratkan tangannya yang bergelayut pada lengan Rafi. "Tuan muda tidak perlu khawatir. Jika perlu, Nona disebelah Tuan muda juga bisa ikut."
Rafi menoleh ke arah Marisa dan mereka nampak sedang berdiskusi lewat tatapan mata mereka. "Baiklah," jawab Rafi pada akhirnya.
__ADS_1
"Silakan ikuti kami, Tuan muda" Dua pria berbadan tegap itu berdiri dari duduknya, dan melangkah terlebih dahulu. Rafi dan Marisa mengikutinya dari belakang. Nampak beberapa pasang mata yang ada di sekitar kost begitu heran melihat peristiwa tersebut, termasuk Wildan. Rafi tak lupa menitip beberapa pesan kepada Wildan sebelum dia pergi.
Rafi dan Marisa semakin dibuat terkejut saat di depan kost sudah ada sebuah mobil mewah terparkir di sana. Dua pria itu langsung membukaan pintu dan meminta Rafi dan Marisa untuk masuk ke dalamnya. Tentu saja peristiwa itu menjadi pusat perhatian bagi orang orang yang ada disekitar jalan tersebut. Tak lama setelah Rafi dan Marisa sudah masuk, mobil lantas melaju meninggalkan area kost.
Tidak banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Rafi dan Marisa di sepanjang perjalanan mereka. Meski di dalam benak keduanya begitu tumbuh banyak pertanyaan, tapi tidakk satupun pertanyaan itu keluar dari mulut mereka. Hingga setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, Rafi dan Marisa dibuat takjub saat mobil mewah tersebut memasuki sebuah gerbang dimana ada rumah yang begitu besar dan mewah berdiri di dalamnya.
"Rumah siapa ini?" tanya Rafi begitu dia dan Marisa turun dari mobil.
"Selamat datang, Tuan muda," ucap beberapa orang yang sudah berdiri rapi di kanan dan kiri pintu masuk, menyambut kedatangan Rafi dan memberi hormat layaknya kepada majikan. Tentu saja Rafi dan Marisa semakin terkejut dibuatnya. Ingin rasanya Rafi melempar pertanyaan, tapi semua itu sepertinya akan sia sia. Hingga Rafi dan Marisa sampai pada suatu ruangan dan Rafi kembali dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat dalam ruangan tersebut.
"Bapak! Ibu!" ucap Rafi dengan nada bergetar, begitu matanya memandang dua foto yang terpampang dalam ruangan itu dengan ukuran yang sangat besar. Tak terasa air mata Rafi sampai menetes menatap foto kedua orang tuanya yang sekarang berada di alam yang berbeda dengan dirinya.
"Selamat malam, Rafi," sebuah suara seseorang langsung mengalihkan arah pandang Rafi dari foto orang tuanya. Begitu juga dengan Marisa. Seorang pria bule terlihat melangkah mendekati Rafi.
__ADS_1
"Anda, mengenali saya?" tanya Rafi begitu matanya menangkap sosok pria berwajah bule dengan usia sekitar diatas lima puluh tahun.
Pria itu tersenyum. "Tentu saja saya mengenali kamu dan juga orang tua kamu," jawab pria itu sambil menatap foto kedua orang tua Rafi.
"Anda mengenal kedua orang tua saya? Bagaimana mungkin?"
Pria itu kembali tersenyum sembari menatap Rafi lalu dia duduk di atas sofa mewah yang tersdia disana. Rafi dan Marisa juga mendudukkan pantatnya secara berdampingan. "Mail dan Rosida adalah orang yang baik. Berkat merekalah saya masih hidup sampai sekarang."
"Apa? Anda tahu nama Bapak sama Ibu saya?"
Pria bule yang fasih berbicara dengan bahasa negara ini mengangguk. Tatapan pria itu menerawang menatap kembali foto kedua orang tua Rafi. "Dulu kalau saya tidak bertemu dengan orang tua kamu, mungkin saya sudah mati saat pertama kali berkunjung ke negara ini. Berkat pertolongan kedua orang tua kamu, saya selamat dari kematian. Bahkan darah orang tua kamu juga mengalir dalam tubuh saya. Meski mereka orang susah, mereka merawat saya sampai benar benar sembuh. Saat itu kamu baru berusia tiga tahun. saya masih ingat sekali pengorbanan orang tua kamu."
...@@@@@...
__ADS_1