
"Apa! Teror?" Moreno langsung memekik begitu mendengar penuturan dari anak angkatnya. Gerakan tangannya yang sedang memotong makanan pun sontak terhenti begitu mendengar berita yang cukup mengejutkan. Matanya langsung menatap dua anak manusia yang usianya lebih muda darinya. Kapan kamu mendapat teror itu?"
"Tadi sore, Dad. Yang menerima paket berisi teror itu orang yang berjaga di tempat kost," adu Rafi disela sela dia menikmati makanannya. "Tapi dari bunyi surat ancamannya sih mungkin teror itu untuk Marisa."
Moreno nampak mengangguk beberapa kali dan dia kembali melanjutkan menikmati makan malamnya yang tadi sempat terhenti sejenak. "Ya udah, mulai sekarang kalian jangan pergi sendiri. Selalu bawa pengawal, entah itu dua atau berapa. Biar nanti Daddy yang atur."
"Tapi aku penasaran, Om. Kenapa teror itu datangnya ke tempat kost? Bukan ke rumah ini?" kini Marisa yang mengeluarkan suaranya.
Sebelum menjawab, Moreno memasukan spageti ke mulutnya terlebih dahulu dan menguyahnya secara pelan hingga spageti itu masuk melewati tengorokannya. "Bukankah kalian pernah cerita, ada pihak musuh yang pernah melihat kelian bersama? bisa saja dari sumber itulah mereka mencari informasi tentang kalian. Mungkin mereka merasa tertipu karena Marisa sempat bersembunyi di sana bukan?"
"Ah iya, Dad!" seru Rafi. "Bahkan beberapa anggota jaringan tato tulang ikan TGM sempat beberapa kali datang ke tempat kost."
"Berarti kemungkinan besar yang melakukan teror itu anak buah Om Sergio?" tanya Marisa dan dua pria yang ada disana hampir kompak mengiyakan pertanyaan wanita itu. "Apa Om Sergio tidak mengetahui alamat rumah ini?"
"Ya pasti dia tahu lah. saya yakin orang orang suruhan Sergio juga selalu mengawasi rumah ini dan berharap ada kesempatan untuk melakukan aksinya," balas Moreno. "Maka itu seperti yang saya bilang, mulai besok akan ada anak buah yang siap berjaga untuk kalian."
__ADS_1
"Baik, Dad," dan obrolan mereka terus berlajut ke segala pembahasan lainnya meski makan malam mereka telah selesai, ketiganya masih terlibat obrolan yang cukup seru. Sampai waktu menunjukkan pukul delapan malam, Moreno memutuskan kembali ke kamarnya. dengan terpaksa obrolan pun berakhir dan Marisa juga Rafi ikutan beranjak ke kamar mereka.
"Tumben kamu pakai baju tidur seperti itu?" tanya Rafi yang nampak terkejut melihat Marisa masuk dengan baju tidur yang cukup pendek. Nahkan panjangnya hanya berjarak kurang dari sejengkal di bawah pinggang.
"Ya kan karena kamu tadi siang sudah berani menyentuh tubuhku, jadi buat apa ditutupi rapat lagi kan?" balas Marisa sembari naik ke ranjang dan merangkak ke sisi Rafi.
"Itu di dalamnya ditutupin kain lagi nggak?" tanya Rafi sambil matanya jelalatan memandang belahan baju tidur Marisa.
"Kalau bawah ditutup pakai segitiga bermuda dong, tapi kalau dada enggak," Marisa membuka sedikit belahan baju tidurnya untuk menunjukkan sedikit bukit kembar miliknya lewat belajan bajunya
Rafi sontak merasa kesulitan menelan salivanya saat dipamerin benda kenyal nan mulus itu. Melihat Marisa yang terbaring dengan posisi miring seperti orang yang sedang memberi asi, membuat Rafi langsung berbaring mengghadap dada Marisa dan mengeluarkan bukit kembar dari belahan baju yang tadi dipamerkan.
"Ngapain dikeluarian sih, Raf?" tanya Marisa heran melihat tingkah Rafi.
"Mau aku kenyot lah, masa cuma kamu doang yang tiap malam bermain dengan batangku. Aku juga ingin bermain dengan bukti kembarmu."
__ADS_1
Marisa hanya tersenyum. Wanita itu memang sudah mengakui kalau tiap malam dia diam diam menikmati milik Rafi dengan mulutnya, dan sekarang Rafi nampak balas dendam dengan menyesap pucuk bukit Marisa dengan rakusnya seperti bayi yang sedang kehausan.
Sementarra itu, di malam yang sama, Wildan juga sedang melingkarkan tangannya pada perut wanita yang sedang memunggunginya. Wanita itu sejak tadi lebih banyak diam sambil menepuk pelan gadis kecil yang sudah terlelap sejek satu jam yang lalu.
"Jadi tujuan kamu ngajak tidur bareng agar kamu bisa peluk peluk kayak gini?" akhirnya Kalina mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi lebih memilih mendiamkan Wildan..
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Wildan. "Ya nggak salah kan kalau kita meluangkan waktu berdua seperti ini?"
Kalina langsung mencebikkan bibirnya dan dia memilih kembali diam meski dia setuju dengan pernyataan Wildan kalau mereka memang butuh waktu seperti ini.
"Aku boleh tanya nggak, Yang? Tapi kamu jangan marah?" Wildan kembali mencoba membuka obrolan. "Waktu kamu main sama Bang Rafi, kamu main berapa kali? Apa hanya saat kamu menjual mahkotamu saja?"
Kalina menghela nafasnya sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. "Ya pas saat aku jual saja, setelah itu kan aku pergi sembunyi ke kampungnya Fafi, kenapa?"
"Ya nggak apa apa sih. Aku lega aja mendengarnya," balas Wildan sambil cengengesan.
__ADS_1
"Apa kamu juga ingin membuktikan kalau punya aku sudah sangat longgar atau belum?"
...@@@@@@...