SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Lagi Lagi Masalah Uang


__ADS_3

"Lagi lagi uang menjadi sumber inti dari masalah hidup," gumam Rafi setelah mendengar keluhan dari wanita yang baru saja tertimpa kemalangan. Dari suaranya, Rafi tahu kalau wanita itu sedang sangat bingung memikirkan biaya rumah sakit yang harus dia tanggung. belum lagi ada masalah lain yang membuat Rafi cukup tercengang.


Rafi memilih abai karena tidak mau dianggap ikut campur dan wanita itu juga tidak berkata apapun. Bahkan saat Rafi bertanya, wanita itu menjawab kalau semuanya baik baik saja, Rafi memilih berlalu begitu saja. Bukannya tidak ingin menolong, tapi melihat kebohongan yang ditunjukan wanita itu, membuat Rafi enggan berinisatif untuk menolongnya.


Seandainya wanita itu jujur kalau dia bingung soal keuangan, Rafi sudah pasti dengan senang hati akan membantunya. Tapi sayang, entah karena alasan tidak mau merepotkan atau mungkin karena gengsi, wanita itu memilih berbohong dan berusaha menutupi kebingungannya dengan berpura pura bersikap tegar dan kuat. Tapi Rafi sadar, wanita memang begitu, hati dan mulutnya memang tidak pernah sejalan.


Rafi pun meninggalkan ruangan yang biasa digunakan untuk menangani pasien dalam keadaaan darurat. Saat Rafi keluar dari ruangan itu, matanya menangkap sosok supirnya yang sedang duduk di salah satu kursi tunggu yang berjejer rapi tak jauh dari ruangan tempat Rafi berada. Rafi langsung melangkah menuju ke sana.


"Loh, Tuan muda?" sang supir nampak terkejut saat menoleh dan mendapati Rafi hendak duduk di sebelahnya. "Urusannya sudah selesai?"


"Sudah," jawab Rafi lalu dia mengecek ponselnya untuk membalas beberapa pesan yang masuk.


"Kita pulang sekarang, Tuan?"

__ADS_1


"Sebentar, Pak. Aku selesaikan ini dulu," balas Rafi tanpa mengalihkan pandangannya. Rafi cukup terkejut dengan pesan yang dia dapat dari Madi. Tapi rasa terkejutnya tidak berlangsung lama, Rafi teringat akan pesan dari Moreno agar Rafi tidak perlu bersembunyi lagi. Biarkan orang pada tahu tentang siapa Rafi yang sebenarnya.


Begitu selesai dengan semua pesan dalam ponselnya, Rafi mengajak sang supir untuk segera pulang. Namun baru saja dia bangkit dari duduknya, matanya menangkap sosok wanita tadi, sedang tertunduk lesu, berdiri di sebuah loket yang sepertinya berhubungan dengan maasalah biaya perawatan. Rafi ingin bersikap acuh, tapi sisi hati yang lain seakan mendorong Rafi untuk mendekati wanita itu.


"Bentar, Pak," pamit Rafi kepada sang supir. Tanpa menunggu sang supir mengeluarkan suaranya, Rafi berbegas saja mendekat ke arah wanita itu. "Ada masalah?"


Suara Rafi yang tiba tiba saja menggelegar, tentu saja membuat wanita yang sedang termenung dengan pikiran yang cukup kalut, terkejut seketika. "Tuan! Tuan masih di sini?"


"Apa ini yang membuat anda melamun dan terlihat seperti orang bingung?" tanya Rafi sembari mengibaskan kertas yang dipegangnya. "Astaga! Saya pikir tadi anda beneran sedang baik baik saja," tanpa menunggu reaksi dari wanita yang sedang tercengang, Rafi langsung melangkah ke sebuah loket yang bertuliskan administrasi.


"Tuan!" wanita itu baru bereaksi saat Rafi sudah beranjak. Meski wanita itu berusaha untuk merncegahnya, tapi Rafi memilih abai dan terus melangkah ke arah yang memang dekat dengan keberadaannya saat ini.


"Permisi, Bu, saya mau membayar ini," ucap Rafi langsung menyodorkan kertas ke arah wanita yang menunjukan raut wajah terkejut.

__ADS_1


"Tuan, tidak usah," tolak si wanita yang saat ini sudah berdiri sampingnya dengan suara pelan. Bukannya menuruti, Rafi malah langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu hitam impin berjuta manusia. Dua wanita yang melihatnya bahkan ikuta terkejut degan kartu yang Rafi miliki.


"Total keseluruhan, termasuk biaya rawat inapnya untuk seminggu ke depan," titah Rafi yang membuat si wanita langsung melongo. Sedangkan si petugas langsung dengan sigap langsung menghitung semua biaya dalam jangka wwaktu seminggu ke depan.


"Semuanya total menjadi dua puluh empat juta delapan ratus lima puluh tiga ribu, Pak?" jawab sang petugas sambil menyodorkan rinciannya. "Berikut perkirraan rincian biayanya, Pak."


"Oke, lakukan saja yang terbaik untuk pasien tersebut," balas Rafi, dan dengan ramah sang petugas mengiyakan dan mengambil alih kartu hitam dari tangan Rafi.


"Tuan, jangan seperti itu. Saya takut tidak bisa mengembalikan semua uang anda, Tuan," cicit si wanita.


"Jangan khawatir, ganti saja uang saya dengan apa yang kamu punya," celetuk Rafi dan hal itu membuat kening si wanita berkerut.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2