
Setelah pulang dari pesta, Moreno langsung masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Rafi dan Marisa. Meski mereka tidur bersama dalam satu ranjang, untuk urusan bersih bersih, mereka melakukannya di kamar masing masing yang memang kamarnya bersebelahan.
Ketiga orang itu tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan disepanjang berlangsungnya acara pesta. Moreno bahkan memilih pamit terlebih dahulu karena dia cukup merasa geram dengan kelakuan sang tuan rumah yang seperti tidak memiliki urat malu. Sepanjang perjalannan, Moreno, Rafi dan Marisa, tak henti hentinya membahas kejadian memalukan itu di sepanjang perjalanan pulang mereka.
"Kamu seksi banget, Sha!" seru Rafi begitu melihat Marisa masuk ke dalam kamarnya dengan baju tidur yang super pendek. Rafi sudah bisa memastikan kalau Marisa pasti hanya memakai segitiga bermuda tipis saja di dalamnya.
"Kalau aku pakai baju yang terlalu rapat, nanti yang ada kamu malah protes," balas Marisa sembari naik ke atas ranjang dan bersiap merebahkan tubuhnya di sisi Rafi yang terlebih dahulu sudah terbaring. Pemuda itu sontak tersenyum lebar, dan tanpa membuang waktu, Rafi memiringkan tubuhnya menghadap Marisa serta tangan kanannya langsung bergerak masuk ke dalam belahan baju wanita itu untuk menggenggam salah satu bukit kembar milik Marisa.
"Kamu tiap malam diraba raba oleh aku, tidak ada rasa ingin melakukan hal yang lebih, Sha?" tanya Rafi sembari mengeluarkan salah satu bukit kembar Marisa lalu menyessap pucuknya.
"Ya pastinya kepenginlah, Fi. tapi ya terbukti kan kalau aku bisa menahannya? Aku cuma mau nanti saat om Sergio benar benar hancur, aku ingin merayakannya sama kamu."
"Yaya, aku tahu," jawab Rafi yang memang sudah bisa menebak apa yang akan Marisa katakan. Dia pun memilih diam sembari menikmati pucuk bukit kembar kembar. Hingga beberapa lama kemudian keduanya terlelap dalam gejolak yang mereka tahan.
Masih di malam yang sama tapi di tempat berbeda, Wildan dan Kalina justru terlihat akan segera mengulang permainan mereka malam ini. Menurut wildan, kemarin dia kurang puas karena selama berhubungan badan, Wildan sedang dalam pengaruh obat. Jadi pemuda itu merengek dan meminta mengulang permainan mereka kepada sang kekasih.
__ADS_1
Kalina sebenarnya ingin menolak permintaan Wildan, namun wanita itu merasa tidak enak untuk mengatakannnya. Biar bagaimanapun, pemuda itu juga telah menolongnya. Bahkan dengan pemuda itu pula, Kalina besok akan pulang ke kampungnya untuk menyelesaikan masalah bersama sang Paman. Kalina sangat berharap jika Wildanlah lelaki terakhir yang tidur bersamanya.
"Kita melakukan disini aja apa, Yang?" tanya Wildan begitu dia selesai menutup pintu dan mememeriksa keadaan tempat kost lalu masuk ke dalam kamar.
"Jangan," tolak kalina. "Takutnya nanti Alisa terbangun dan menyaksikan sesuatu yang tidak pantas."
Wildan sontak terkekeh. "Ya udah ayo pindah kamar."
tanpa banyak pembicaraan, keduanya segera saja menuju kamar kosong yang kemarin mereka gunakan untuk berhubungan badan. "Sayang, setelah malam ini, kamu jangan terlalu sering minta main ya? Aku takut nanti kita kebablasan dan aku hamil. Aku nggak mau hamil sebelum menikah," ucap Kalina disela sela langkah kaki mereka.
"Emang kamu sudah siap untuk nikah?"
"Ya harus siap dong. Apa lagi jika sampai kamu hamil. Setidaknya aku harus menjadi ayah yang bertanggungg jawab, tidak seperti ayahku."
Kalina tersenyum tipis dan hatinya merasa senang mendengar jawaban Wildan yang terdengar sangat meyakinkan. Kalina berharap Wildan benar benar pria yang bertanggung jawab jika hal yang tidak dia inginkan terjadi.
__ADS_1
Begitu masuk kamar, Kalina langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang cukup untuk satu badan. Sedangkan Wildan terlebih dahulu mengunci pintu lalu langsung berbaring dan meraih tubuh kekasihnya.
"Kamu beneran kemarin nggak ingat apa aja kita lakukan saat berhubungan badan?" tanya Kalina tanpa mampu mencegah tangan Wildan yang mulai bergerilya.
"Ya ingat nggak ingat sih," jawab Wildan. "Kalau nggak salah pas batang aku mau masuk ke dalam lubang, kamu yang membimbingnya kan?"
Kalina lantas tersenyum sebagai jawaban kalau apa yang dikatakan Rafi memang benar. "Ya mau gimana lagi, orang kamu belum bisa melakukannya. Tapi sekali masuk, nyodoknya brutal banget."
"Benarkah?" Kalina lngsung mengiyakan. "Astaga! Aku nggak sadar itu."
"Aku tahu. Karena kamu melakukannya dalam pengaruh obat jadi kamu cukup liar. Tapi aku suka sih. Kamu kelihatan gagah dan garang banget malah."
"Wahh! berarti malam ini, aku harus bisa kayak semalam dong?" lagi lagi Kalina hanya tersenyum dalam memberi jawaban. "Kalau gitu kita main sekarang ya?" Kalina mengangguk dan dengan sangat antusias Wildan langsung melakukan penyerangan.
...@@@@@@@...
__ADS_1