SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Berkunjung Ke Panti Asuhan


__ADS_3

Berhubung Dito akan melaksanakan tugas yang tadi Rafi perintahkan, pemuda itu kini menjalankan rencananya dengan diantar supir lain. hari ini setelah urusan kantor selesai, Rafi memang berencana untuk mengunjungi panti asuhan. Kedatangannya memang sedang ditunggu, karena Rafi harus menjadi saksi atas kepemilikan tanah yang sebentar lagi berganti nama.


Begitu mobil yang dikemudikan supir Rafi, sampai di halaman panti, beberapa orang langsung menyambutnya. Senyum mereka terkembang dengan berbagai karakter. Ada senyum yang tulus dari anak anak panti, dan ada senyum bermuka dua dari orang orang yang mengharap simpati lebih dari presdir muda itu.


"Akhirnya Tuan muda datang juga," ucap si pemilik tanah dengan senyum lebar dan wajah yang sangat ceria. Rafi tahu, itu hanya basa basi saja.


"Maaf, jika kedatangan saya terlambat dan membuat anda semua menunggu," ucap Rafi antara tidak enak hati dan juga basa basi. Tidak enak hati karena memang Rafi datang satu jam lebih lambat dari jadwal yang sudah direncanakan. Basa basi karena Rafi tahu, meskipun dia terlambat, orang orang tidak akan mempermasalahkannya karena kedudukanya memang cukup disegani.


"Hahaha ... tidak perlu minta maaf, Tuan. Kami mengerti, kalau anda sangat sibuk. Bisa datang ke tempat ini saja, kami sudah cukup senang." tepat, sesuai prediksi, orang orang yang ada disana pasti akan memakluminya. Seandainya jika Rafi bukan seorang presdir ternama, pasti sikap mereka tidak akan seperti ini.


"Baiklah, lebih baik kita masuk saja dan menyelesaikan semua urusan biar cepat selesai. Kasihan Tuan muda, dia pasti sangat lelah hari ini," ucap orang lain yang juga sebenarnya sedang cari muka. Orang itu dari pihak pemilik tanah yang katanya akan menjadi saksi jual beli tanah ini.


Semua orang setuju dengan usulan orang itu. Rafi beserta yang lainnya langsung beranjak masuk ke ruang tamu yang sudah disulap sebagai ruang pertemuan dadakan karena berkat Rafi, yang datang untuk menyaksikan jual beli tanah itu lumayan banyak. Sebagian orang dari pihak pemilik tanah, dan sebagian warga sekitar panti termasuk perangkat pemerintahan setempat, yang memang cukup senang kalau tanah yang digunakan panti asuhan itu akan berganti kepemilikannya.

__ADS_1


Setelah basa basi sedikit, akhirnya penanda tanganan surat kepindahan kepemilikan tanah usai dilaksanakan. Ibu panti dan anak anak terlihat sangat lega sampai mengeluarkan airmata. Akhirnya apa yang mereka impikan bisa mereka wujudkan melalui tangan orang lain. Rafi pun cukup senang melihat kebahagian para penghuni panti. Setidaknya uang yang dia dapatkan secara misterius, bisa sangat bermanfaat untuk membantu orang lain seperti para penghuni panti ini.


Saat ini, Rafi sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan penghuni panti dan bantuan dari warga sekitar, bersama perangkat desa, warga dan juga orang orang pemilik tanah sebelumnya. Di sela sela obrolannya, Rafi menyadari kalau gerak geriknya sedang diperhatikan oleh dua orang yang ada di sana. Karena merasa tidak tahan sedari tadi di tatap terus, Rafi lantas memutuskan untuk mengajak mereka bicara secara diam diam.


"Kalian, apa masih menginginkan sebuah pekerjaan?" tanya Rafi pada dua orang yang sedari tadi mencuri pandang dan memperhatikan pemuda itu. Semua mata tentu saja langsung menatap ke arah yang sama dengan Rafi, sampai membuat dua orang itu terkejut dan salah tingkah.


"Eh, ehm, iya, Tuan," jawab salah satu dari orang itu sampai tergagap mendengarnya.


"Nggak apa apa, Tuan, silakan."


Rafi keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh salah satu dari dua orang yang sedari tadi menatapnya. "Kita bicara di taman saja, Tuan," ucap orang itu saat Rafi menanyakan tempat yang enak untuk ngobrol.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rafi begitu dia dan orang itu duduk di salah satu bangku taman Panti asuhan yang berada di samping panti.

__ADS_1


"Iya, Tuan, saya mau menanyakan tentang pembayaran hutang saya kepada Tuan," ucap orang yang katanya biasa dipanggil Bulan.


Rafi lantas tersenyum dan mengedarkan pandanganya ke sekitar taman. "Kamu sama teman kamu masih memikirkannya?"


"Itu kan hutang, Tuan. Apa lagi sepuluh miliar, bukan jumlah yang sedikit. Wajar jika kami memikirkannya."


"Yaya, aku mengerti. Tapi apa kalian sudah mantap ingin membayarnya dengan isi celana kalian?"


"Sudah, Tuan. Kami tinggal menunggu keputusan Tuan saja, kapan akan mengambilnya."


Rafi langsung tersenyum. "Baiklah, kalau kalian memang sudah yakin dan mantap. Secepatnya saya akan kasih kabar."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2