SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Olahraga Di Kamar Hotel


__ADS_3

"Bukit kembar kamu indah banget, Sayang," puji Rafi pada wanita yang saat ini dressnya suah terlepas dari tubuh si wanita dan menyisakan penutup bukit kembar serta segitiga bermuda yang menutupi bagian bawah perutnya. Meski bukit kembar masaih ada kain yang menjeratnya, Rafi mengeluarkan bukit kermbar itu hingga kini terpampang di hadapannya.


Dengan sangat rakus, Rafi menyesap pucuk bukit kembar itu satu persatu. Wanita bernama Widuri sontak menggeliat keenakan dengan perlakuan Rafi. Baru kali ini widuri merasakan nikmatnya diperlakukan seperti itu oleh seorang pria.


Di saat mulut Rafi dengan lahapnya menikmati dua benda bulat yang masih sangat kenyal itu, tangan kanannya bergerilya menyusuri perut Widuri hingga terus ke bawah sampai tangan itu berhenti tepat di tempat yang hangat dan terdapat rerimbunan di dalam segitiga bermuda.


"Celananya lepas, sayang, aku pengin lihat," pinta Rafi, dan lagi lagi Widuri langsung melaksanakan permintaan pemuda itu. "Sekarang kamu rebahan ya?" Widuri mengangguk setelah melepas segitga bermuda. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan salah satu kakinya telentang dan bertumpu di atas meja.


"Indah banget, Sayang," lagi alagi pujian keluar dari mulut Rafi sembari memandang gundukan daging terbelah dan berumput rimbun. tangan rafi mengusap dan memjita pelan benda nikmat itu hingga pemiilknya kembali menggelliat. Rafi mendekatkan wajahnya dan dikecupnya gundukan daging terbelah itu berkali kali. "Sudah siap dimasukin kan, Sayang?" Widuri langsung mengangguk.


Rafi lantas tersenyum dan dia mulai melucuti pakaiannya sendiri tanpa sisa sampai mata Widuri membelalak. "Tubuh Tuan bagus sekali," mendapat pujian dari Widuri, Rafi kembali tersenyum lalu dia mengungkung tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Rabah saja tubuh aku sepuasmu, Sayang," ucap Rafi lembut. Wanita itu pun mengangguk dan mulai meletakkan telapak tangannya pada dada Rafi dan mengusapnya dengan lembut. Hingga berapa detik kemudian, "Sekarang aku masukin ya? Lihat, punyaku sudah tegang banget."


Mata Widuri hampir tak berkedip memandang batang milik Rafi yang memang sudah sangat menegang dan terlihat sangat kekar. "Gede banget, Tuan. Apa nanti nggak sakit saat masuk?"


"Sakitnya cuma sebentar, Sayang, kamu siap siap ya?" Widuri mengangguk pasrah. Rafi terlebih dulu kembali menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu. "Kita pindah ke ranjang aja yuk, biar lebih leluasa."


Tanpa penolakan, dua manusia tanpa busana itu langsung beranjak menuju kasur yang sangat empuk. Widuri merebahkan tubuhnya dengan kaki terbuka lebar, sedangkan Rafi bersimpuh di hadapan kaki yang terbuka itu. Tangan kiri Rafi mengusap celah yang akan dia terobos dan tangan kanannya memijat batang miliknya agar lebih siap untuk melakukan penyodokan.


"Akhh!" rintihan kesakitan nan panjang dan berulang kali, keluar dari mulut Widuri. Meski begitu dia tidak bisa menghentikannya karena ini memang salah satu proses untuk mencapai kenikmatan. Tak selang berapa saat, Widuri melihat Rafi menghentikan dorongannya dan sedang mengatur nafas. Tapi itu tak berlangsung lama, karena dalam hitungan detik, Widuri merasakan Rafi kembali menyodok lubangnya dengan sangat keras hingga tubuhnya benar benar mengajang. "Akhh!" Widuri berteriak sangat kencang karena hentakan yang dilakukan Rafi seperti mematahkan pingangnya.


"Lihat, Sayang," dengan bangga, Rafi menunjukkan batangnya dimana ada darah pada ujung batang tersebut. Widuri tahu itu darah apa dan sekarang wanita itu sangat yakin kalau dirinya sudah tidak memiliki mahkota. Widuri tersenyum kecil dan dia Rafi berkata kali ini dia akan membuat Widuri merintih keenakan.

__ADS_1


Rafi melebarkan kembali dua kaki Widuri dan dia bersiap memasukan batangnya lagi. Seperti sebelumnya, setelah di gesek gesek, Rafi kembali menerobos celah yang masih sangat sempit itu dan suara kesakitan juga kembali keluar dari mulut Widuri. Rafi tidak peduli dengan kesakitan yang dirasakan Widuri, karena dia tahu, beberapa saat lagi, rasa sakit itu akan berganti rasa nikmat tiada tara yang membuat Widuri ketagihan.


Benar saja, beberapa saat setelah Rafi menggerakan pinganggnya maju mundur dan meyodok nyodok lubang nikmat milik Widuri, rintihan kesakitan yang keluar dari mulut wanita itu berubah menjadi rasa nikmat yang membuat tubuh wanita itu terus menggeliat. Rafi langsung mencondongkan tubuhhnya dan kembali mengungkung tubuh Widuri.


"Gimana, Sayang? Udah enak rasanya?"


"Enak banget, Tuan, akh, akh~~"


Rafi sontak menyeringai dan langsung menyerang bibir Widuri dengan pinggang yang terus melakukan penyodokan.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2