
"Sakit banget tadi ya?"
"Banget."
"Maaf ya? Tapi, kalau nggak merasakan sakit, nanti kamu nggak akan merasakan nikmatnya juga."
Kalina tersenyum. Memang benar saat mahkotanya hilang tadi wanita itu berteriak sangat kencang. Sakitnya seperti mematahkan tulang panggangnya. Tapi tidak berlangsung lama, sodokan demi sodokan yang Rafi lakukan secara perlahan, mampu merubah rasa sakit itu menjadi rasa nikmat yang tidak tergantikan dengan apapun.
Tangan Kalina meraih punggung tangan pria yang sekarang sedang memeluknya dari belakang. Entah dia harus menyesal atau bahagia telah berbuat sejauh ini. Yang ada dipikirkan Kalana sekarang, dia bisa menebus surat tanah milik orang tuanya dan akan mengusir keluarga sang paman dari rumah yang mereka kuasai.
Saat keduanya sedang terdiam sembari melepas lelah, telinga kedua anak manusia itu mendengar sebuah nada pesan dari ponsel yang tak biasa. Rafi yang tahu itu adalah bunyi pesan dari ponsel jadulnya, dia langsung melepas pelukan di perut Kalina dan bangkit, mengambil ponsel tersebut.
Senyum Rafi terkembang begitu lebar saat membaca pesan dari sistem kalau dirinya sukses melaksanakan misi kedua dan memberi interuksi yang sama seperti yang sudah pernah dia lakukan. Kini uang dalam rekenging Rafi bertambah semakin banyak berkat tambahan sepuluh miliar yang di terima dari ssistem.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri gitu?" tanya Kalina yang memperhatikan gerak gerik Rafi sejak pria itu melepas pelukannya.
Rafi sedikit terkejut dan dia menyimpan ponselnya lalu kembali merebahkan tubuhnya sembari memeluk Kalina. "Aku merasa senang saja bisa membantumu," Kilah Rafi.
"Apa hubungannya membantuku dengan pesan masuk yang baru kamu dapatkan?"
__ADS_1
"Hahaha ... jangan penasaran, yang penting aku bisa membantumu menyeleSaikan masalahmu, oke?"
Kalina mendengus kasar lalu dia merubah posisi berbaringnya menghadap wajah Rafi. "Apa kamu sebenarnya anak sultan, Fi?"
Rafi sontak tersenyum manis dan tangannya bergerak mengusap pipi Kalina dengan lembut. "Bukan, kamu jangan berpikir yang aneh aneh."
"Ya wajar kan kalau aku berpikir yang aneh aneh. Kamu hanya penjaga kost tapi uang kamu begitu banyak. jangan jangan kamu anak orang kaya?"
Rafi tersenyum kecut lalu dia meneleantwngkan tubuhnya dengan mata menatap langit langit. "Seandainya aku orang kaya, mungkin ibu dan bapakku masih ada di dunia bersamaku, Kal."
Kening Kalina sontak berkerut. Apa yang Rafi katakan cukup membuatnya terkejut. "Maksud kamu, Fi?"
Kalina semakin terkejut mendengar penuturan pria tanpa busana disisinya. Ternyata hidup Rafi lebih pahit dari yang dia alami. Tangan Kalina bergerak dan diusapnya pipi rafi dengan lembut sampai pria itu menoleh ke arahnya. "Kenapa bisa ada keluarga setega itu?"
Rafi menunjukkan senyum tipisnya. "Semua itu karena restu, Kal. Hubungan orang tuaku tidak direstui oleh orang tua masing masing. Entah apa yang mendasari mereka saling membenci, tapi yang jelas korbannya aku dan orang tuaku. Meski begitu, aku bahagia bisa menjadi anak dari orang kuat seperti orang tuaku."
Kalina tersenyum lalu dia mengecup pipi Rafi dalam dalam terus dia menaruh kepalanya di dada bidang pria itu. Tangan Rafi pun bergerak dan mendarat di kepala Kalina lalu membelai rambut wanita itu dengan lembut.
"Nanti saat kamu mau menggunakan uang yang aku berikan, kita datangi kampungmu sama sama ya?" Rafi memberi usulan.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu? nggak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. lagian kamu kan kerja," tolak Kalina tanpa merubah posisi nyamannya.
"Urusan kerja bisa di atur. Lagian aku mungkin nggak akan lama kerja disini. aku ingin buka usaha."
Kalina kembali terkejut dan dia mengangkat kepalanya, kembali menatap Rafi. "Kenapa begitu? Kamu nyaman kan kerja disini?"
"Nyaman, tapi lebih nyaman lagi kalau punya usaha sendiri. Kita bisa bebas mau apa aja. Nggak ada ikatan."
Kalina mengangguk beberapa kali lalu kembali merebahkan kepalanya. "Tapi apa harus, kamu ikut ke kampungku dan menyelesaikan masalahku?"
"Jangan menolak. Aku tahu kamu nggak ada yang membantu. Lagian apa kamu sanggup menghadapi semuanya sendirian? Kamu pasti nggak akan sanggup menerima hinaan mereka. Apa lagi kamu pulang membawa uang yang banyak, bukankah kamu akan semakin dicaci?"
"Baiklah. aku ngikut aja, apa kata kamu," Kalina akhirnya pasrah setelah mencerna ucapan rafi yang ada benarnya juga. "Lalu apa yang aku bisa lakukan untukmu, Fi? Aku juga ingin membantumu?"
Rafi terdiam dan dia terus berpikir hingga dia menemukan sebuah jaaban. "bantu aku mencari orang yang membunuh ayahku.?"
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1