SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Tak Mau Kalah


__ADS_3

Rafi sendiri pulang dengan perasaan yang cukup lega dan juga senang tentunya. Rafi merasa senang karena uang yang dia miliki, bisa dia gunakan dalam jalur kebaikan. Sepuluh miliar memang bukan uang yang tidak sedikit. Tapi dengan uang yang Rafi dapatkan dari misi, membuat Rafi merasa uang itu masih terbilang cukup sedikit.


Sebenarnya Rafi tidak ada niat untuk meminta imbalan atas bantuan yang dia berikan. Rafi juga hanya bercanda saat Bulan mengatakan soal membayar hutang. Rafi sengaja menjawab dengan kata bayar utang dengan apa yang dia miliki, agar wanita bernama Bulan itu bingung. Tidak ada maksud buruk sedikitpun yang terlintas dalam pikiran pemuda itu.


Bagi Rafi, seperti apa yang diajarkan oleh orang tuanya, berbuat baik itu harus dengan ketulusan. Tidak meminta timbal balik dalam bentuk apapun. Maka itu Rafi sebenarnya kesal saat Bulan bertanya dan menganggap bantuannya malah disebut sebuah hutang. Sebab itulah Rafi terlintas sebuah jawaban yang membuat Bulan bingung.


Kini Rafi sudah sampai di rumahnya. Di saat bersamaan, Rafi juga mendapat kabar kalau Madi saat ini sedang dalam perjalanan menuju kota. Rafi pun memerintahkan pria itu untuk singgah di tempat kos. Rafi langsung menghubungi Wildan untuk memberi informasi tentang madi.


"Hari ini libur belajar dulu ya, Sha?" pinta Rafi begitu memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Marisa yang mengikuti Rafi dari belakang nampak terkejut dengan permintaan pemuda itu. "Loh, sebentar lagi kan kamu akan diangkat menjadi presdir? Kok malah libur?"


"Hari ini sumpah, aku nggak semangat banget. Otakku lelah, Sha. Badanku juga kayak capek banget," keluh Rafi. "Kamu tahu nggak, aku tuh tadi habis berkelahi melawan enam pengawal loh."


"Hah!" wajah Marisa langsung menunjukkan keterkejutannya. "Bagaimana bisa?" Rafi mengangkat kedua pundaknya, lantas dia menceritakan apa yang dia alami saat di panti asuhan tadi. Mata Marisa langsung menyipit. "Tapi kok tubuh kamu kayak nggak ada tanda tanda lebam atau gimana."

__ADS_1


"Aku sendiri juga heran. Kalau nggak percaya, kamu tanya saja sama supir yang tadi ngantar aku. Dia malah babak belur tadi."


"Hah! Kok aneh sih, Fi? Aku sih percaya kalau kamu bisa bela diri, tapi masa kamu nggak ada luka sedikitpun? Padahal kamu lawan Enam orang, aneh."


"Nah iya, aku juga ngerasa aneh. Tubuhku itu kayak ringan banget saat mengindari serangan, dan aku kayak punya tenaga yang begitu besar saat melakukan penyerangan."


Marisa nampak manggut manggut dengan tatapan melekat pada pria yang terbaring di sisinya. Mau tidak percaya, tapi bukti ada di depan mata, dan itu memang sangat aneh. "Berarti tadi pas berkelahi kamu ngeluarin keringat banyak banger dong?"


"Ya banyak bangetlah. kemeja aku aja sampe basah."


Rafi seketika mengerutkan keningnya sembari menatap wanita yang ikutan berbaring di sebelahnya. Melihat Marisa yang senyum senyum dengan permintaan anehnya, membuat otak Rafi langsung berpikir keras. Tak butuh waktu lama, Rafi pun mengerti kenapa dia diminta untuk segera membuka baju. "Astaga!"


"Udah cepet lepas ih," Dengan tidak sabar, Marisa malah langsung bangkit dan tangannya menyerbu kancing baju Rafi.


"Tapi nanti setelah kamu puas cium ketiakku, kamu mainan isi celanaku pakai mulut ya?" pinta Rafi yang pasrah aja saat bajunya dilepas oleh Marisa.

__ADS_1


"Beres!" seru wanita itu dengan lantang. Begitu Rafi memamerkan bulu ketiaknya yang agak basah, Marisa langsung menempelkan lubang hidungnya dan menghirup bau ketiak yang menurutnya sangat segar.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah gedung, enam orang yang tadi berkelahi dengan Rafi, nampak sedang berkumpul untuk mengistirahatkan tubuhnya serta mengobati beberapa luka yang mereka dapatkan dari satu anak yang berhasil mengalahkan mereka.


"Loh, kalian kenapa? Kok pada lebam gitu?" seru seorang yang baru saja masuk bersama rekannya sambil menentang kantung plastik. Orang itu nampak terkejut dengan keadaan enam pria yang ada di ruangan tersebut.


"Habis tarung kita. Sialan, kita benar benar diremehkan oleh anak kecil," salah satu dari mereka menjawab dengan suara yang terdengar sangat kesal dan penuh amarah.


"Anak kecil? Maksudnya?" pria yang baru saja datang itu kembali menunjukkan rasa terkejutnya. Satu persatu dari mereka lantas menceritakan segala yang mereka alami saat di panti asuhan tadi. "Nggak mungkin? Masa satu lawan enam, kalian bisa kalah telak?" orang itu nampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Ya buktinya kita mengalaminya. Sumpah, aku harus membalas anak itu. Kurang ajar, benar benar itu anak menginjak harga diri kita!"


"Ya udah,kita serang balik lagi aja. Apa dia mampu melawanku?" ucap orang itu dengan angkuhnya.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2