
Setelah berbagi beban dengan pria yang lebih dewasa, ada rasa lega dalam hati Rafi saat ini. Pemuda itu cukup senang karena dia bisa mendapatkan solusi yang lebih baik dengan apa yang sedang dia hadapi sekarang. Saat ini yang perlu Rafi lakukan adalah mempersiapkan mental jika ada masalah yang lebih besar lagi.
Selama ini Rafi memang tidak memiliki teman yang sangat akrab untuk berbagi keluh kesah atas semua masalah yang menimpa pada dirinya. Dulu saat orang tuanya masih hidup, Rafi hanya membagi ceritanya bersama orang tua. Tapi setelah dia hidup sendiri, Rafi lebih sering memendam masalahnya sendiri dan mencari solusi sendiri juga.
Namun kini setelah ada sosok Moreno, Rafi bisa menceritakan segala keluh kesahnya yang menurutnya sangat berat, kepada pria yang Rafi panggil Daddy. Dari Moreno pula, dia selalu mendapat solusi yang menurutnya memang solusi terbaik yang pantas untuk Rafi lakukan. Rafi langsung melakukan panggilan telfon kepada seseorang yang ada di kampungnya begitu selesai berbicara dengan Moreno.
Di kampung Rafi sendiri, saat ini Madi sedang dilanda kebingungan. Waktu sudah menunjukkan siang dan biasanya dia dan istrinya sudah pulang ke rumah yang dia tinggali. Tapi dengan adanya dua orang mantan rekan kerjanya, Madi memilih diam dan bersembunyi di pasar. Jika Madi hanya sendirian, pria itu bisa saja menghadapi dua orang itu. Tapi yang Madi takutkan adalah keselamatan anak dan istrinya. Pria itu tidak ingin dua orang penting dalam hidupnya terlibat dalam masalah.
"Bagaimana kalau aku pulang dulu aja, Mas? Kan mereka nggak tahu wajah aku. Apa lagi aku pake masker dan kerudung, pasti akan aman," ucap sang istri yang sudah menata sisa barang dagangannya ke dalam tenggok.
"Jangan dulu," tolak Madi. "Bisa saja orang orang itu sudah berada di rumah kita saat ini. Aku yakin, kalau nggak bertanya ke Pak Rt, mereka bisa saja bertanya ke para tetangga."
__ADS_1
"Terus kita harus bagaimana?" sang istri nampak frustasi. "Baru saja kita merasakan hidup tenang, tapi sudah seperti ini lagi."
Madi menatap sang istri dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah pada wanita yang sedang memangku anak kecil yang masih terlelap. "Maafkan aku, Dek. Aku akan berusaha nyari solusi. Gini aja, biar aku aja yang pulang duluan. Kamu bertahan sebentar di sini ya?"
"Tapi nanti kalau kamu kenapa kenapa, gimana?"
"Nggak akan. Aku melakukannya secara sembunyi sembunyi. Ini ponsel biar aku tinggal, nanti kamu hubungi aja Rafi jika terjadi sesuatu." sang istri nampak pasrah meski hatinya sangat tidak rela melepas kepergian suaminya. Wanita itu takut tidak akan bertemu lagi dengan sang suami.
"Sebenarnya Rafi itu pemuda yang baik, cuma nasibnya saja yang tidak beruntung. Ibunya meninggal karena sakit, ayahnya meninggal karena dibunuh. Heran aku tuh, kok ya ada orang setega itu, membunuh seseorang yang tidak berdosa. Entah terbuat dari apa hati orang orang seperti itu." dua orang yang mendengar ucapan wanita itu nampak saling pandang. Mereka benar benar merasa tersindir dengan ucapan si penjaga warung.
"Gitu ya, Bu?" tanya salah satu pria dengan sikap yang dibuat setenang mungkin. "Kalau boleh tahu, siapa nama ayah dari anak itu, Bu."
__ADS_1
"Namanya Ismail, lebih akrab dipanggil Mail. Dia dulu kerja sebagai supir pribadi orang kaya. Eh malah mereka kena rampok," mendengar jawaban sepeerti itu, tentu saja dua orang yang sedang mencari informasi tentang Rafi nampak sangat terkejut. Tapi rasa terkejut itu tak berlangsung lama, kedua pria itu justru seketika merasa senang karena mereka mendapat infromasi yang cukup membuat keduanya sangat puas.
Setelah ngobrol cukup lama dengan diringi basa basi segala, kedua pria itu pamit undur diri dengan alasan ingin ke makam ayahnya Rafi. "Sepertinya, kali ini, kita akan dapat bayaran yang sangat besar untuk informasi yang kita dapatkan," ucap salah satu pria disela sela langkahnya menuju ke tempat mobil mereka yang terparkiri di pinggir jalan raya.
"Hahaha ... harus itu. Ini termasuk informasi yang sangat penting," balas rekannya.
"Memang sepenting apa sih informaasi tentang Rafi untuk Tuan Sergio?"
"Nggak perlu dipikirkan, itu bukan tugas kita. Yang penting kita sudah mendapatkan apa yang dia mau, sudah cukup."
"Hahaha ... benar juga."
__ADS_1
...@@@@@@...