SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rencana Tambahan


__ADS_3

"Terima kasih sudah menolong kami, Nak?" ucap seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi, kepada pemuda yang duduk di seberang meja.


"Sama sama, Tante. Saya juga senang bisa membantu Tante dan anak anak tante," balas pemuda bernama Rafi dengan segala keramahan yang dia miliki.


Wanita yang dipanggil tente itu menunjukkan senyum tipisnya. "Tapi, apa boleh saya minta tolong lagi, Nak?"


"Minta tolong apa, Tante?" tanya Rafi dengan kening sedikit berkerut. Tentunya hal itu sedikit mengejutkan bagi pemuda itu.


"Tolong, kamu rebut aset milik Sergio, untuk anak anak saya, bisa?" wajah wanita itu langsung berubah. Meski ada senyuum tipis yang menghias di bibirnya, tapi ada juga kemarahan yang Rafi lihat dari sorot matanya. Kemarahan dan kekecewaan yang mungkin selama ini dipendam oleh wanita dengan tiga anak itu.


"Mom!" seru Amanda, yang saat itu baru saja keluar dari dapur dengan tangan membawa nampan berisi minuman dan dua toples cemilan. "Kita sudah pernah membahasnya bukan? Kita jangan berurusan sama Daddy lagi," Amanda bahkan terlihat kesal. Suaranya cukup lantang saat melontarkan kata katanya kepada sang Ibu. Amanda meletakan minuman dan cemilan di hadapan Rafi.


"Tapi itu hak kalian, Amanda. Mommy nggak mau keluarga dari wanita ular itu menguasai harta yang sudah ayah kamu rintis waktu masih bersama Mommy," meski dengan suara yang cukup lembut, wanita tua itu juga terlihat emosi dengan penjelasan yang terlontar untuk anaknya. "Apa yang saya katakan benar kan, Nak Rafi?"


"Mom, kita sudah tenang hidup sederhana di sini. Sudahlah, jangan kotori hati Mommy dengan orang orang yang tidak punya hati," Jika tidak ada Rafi, mungkin Amanda sudah meluapkan kekesalannya saat itu juga. Berhubung ada pemuda itu, Amanda mencoba melawan ucapan ibunya dengan aramah yang dia tahan.

__ADS_1


"Apa yang Tante ucapkan, itu hal yang benar, Amanda," Rafi pun langsung mengambil suara agar suasana diantara ibu dan anak itu tidak semakin menegang. "Aku bukannya membela ibu kamu, tapi aku hanya melihat dari sisi orang lain. Kamu dan adik kamu itu masih punya hak atas harta oranng tua kamu termasuk tuan Sergio. Katakan pada hati kecil kamu, apa kamu benar benar rela membiarkan harta orang tua kamu dinikmati orang lain dan mereka satu keluarga? Jujur aja, apa kamu rela?" Amanda terdiam dengan tatapan jelas sekali masih terlihat kesal.


"Kamu nggak rela kan?" cecar Rafi. Dia tahu kalau diamnya Amanda, memang tidak rela jika harta ayahnya dikuasai orang lain. "Jalan kamu dan adik adik kamu itu masih panjang. Mungkin adik adik kamu juga tidak terima dengan kelakuan ayah kamu. Tapi mereka bisa apa. Sama seperti kamu yang tidak mau melawan, hanya pasrah."


"Tapi, Fi ..."


"Sudah, serahkan saja sama saya. Saya akan berusaha merebut sesuatu yang memang menjadi hak kamu dan adik adikmu."


Amanda pun terbungkam. Sedangkan ibunya merasa senang. Karena ada yang harus dikerjakan, wanita itu meninggalkan Rafi dan Amanda untuk ngobrol berdua. Amanda lantas mengajak Rafi duduk di depan yaitu di dua kursi yang ada d sisi kanan depan toko menghadap ke jalan raya.


Rafi sontak menoleh ke arah orang yang sedang mengedarkan pandangannya ke lain arah. "Maaf untuk apa?"


"Karena ayahku, kamu harus kehilangan ayah kamu," kini Amanda menatap balik tatapan Rafi.


"Kamu tahu darimana?" Rafi cukup terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Dari cerita Tuan Moreno saat kamu dilantik jadi presdir aja sudah jelas banget kalau yang menyerang Om Alexander adalah Ayahku. Tapi aku tidak menyangka kalau supirnya adalah ayah kamu. Jujur, untuk menghadap kamu seperti ini saja aku malu, tapi Mommy malah meminta bantuan kamu lagi."


Rafi lantas tersenyum. "Ya anggap aja aku juga hendak balas dendam. Tapi ini semua bukan kesalahanmu. Aku malah beruntung, ternyata aku bukan darah daging dari keluarga istri kedua ayah kamu. Bayangkan saja kalau aku sedarah, entah akan seperti apa hidupku nanti bersama orang orang yang ambisius dan serakah."


Amanda lalu tersenyum tipis dan kembali mengedarkan pandanganya ke arah jalan. "Kadang hidup memang begitu aneh, tanpa diduga, kamu ada hubungannya dengan dengan keluargaku. Aku juga nggak nyangka, kamu bisa sedekat itu sama Marisa."


Rafi kembali tersenyum dangan mata memandang ke arah yang sama dengan Amanda. "Itulah ajaibnya takdir. banyak hal yang tidak terduga."


Amanda nampak mengangguk lalu kembali menatap Rafi. "Apa kamu di kota ini masih lama?"


Rafi menoleh dan mata saling tatap. "Kenapa?"


"Aku ingin menginap di hotel bareng kamu lagi."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2