
Hari ini, panas terasa cukup menyengat. Apa lagi di kehidupan kota besar yang sudah jarang sekali ada area hijau, panasnya udara begitu sangat terasa seperti membakar kulit. Entah sudah berapa kali air dingin yang di munum Rafi sampai siang hari. Yang jelas panasnya udara membuat rasa haus yang datang lebih cepat dari biasanya. Rafi bahkan memilih melepas kaosnya sembari mengipasi tubuhnya dengan sobekan kardus yang dia ambil di gudang dekat dapur.
"Kenapa kamu nggak pake kaos, Fi?" protes Kalina begitu dia datang menghampiri rafi di post jaga.
"Emang kenapa? Kamu nggak lihat aku lagi kepanasan," balas Rafi yang cukup terkejut denga protesnya wanita itu.
"Tapi kan aku jadi merasa gerah lihat badan kamu, Fi. Bikin pengin meraba tahu nggak?"
"Hahaha ... jujur banget kalau ngomong. mentang mentang udah pernah merasakan enaknya," cibir Rafi, lalu dia bangkit dari duduknya dan bergaya ala ala binaragawan. "Emang badan aku bagus banget ya, Kal?"
"Dimata wanita, badan kamu memang bagus, seksi tahu. Apalagi itu bulu di pusar dan ketiak kamu, bukin pengin cium."
"Cih, bisa aja kamu kalau ngomong," Rafi kembali duduk. "Gimana? dapat info apa tadi ngobrol sama wanita itu?"
Kalina langsung menceritakan hasil penyelidikan wanita yang datang bersama pria bertato tulang ikan. Dia mengatakan kalau wanita itu memang istri dan anaknya. Mereka datang dari kota sebelah dan sengaja ke kota ini. Wanita itu juga tidak tahu tujuan suaminya mengajak dia dan anaknnya ke kota ini itu untuk apa. Tapi dilihat dari keadaannya, sepertinya wanita itu merasa takut.
__ADS_1
"Dia curiga kalau suaminya kerjanya itu nggak benar, Fi. dia saja disini merasa tidak nyaman," ungkap Kalina.
Rafi menganggukkan kepalanya beberpa kali begitu Kalina mengakhiri laporannya. "Apa mereka mafia yang ditugaskan untuk membunuh orang kaya?"
"Membunuh orang kaya? Teerus ayah kamu?"
"Ya mungkin kebetulan saja ayahku saat itu sedang apes, makanya dia jadi korban. Tapi anehnya padahal ayahku sempat selamat loh, eh ... malah mereka nggak menghentikan aksinya."
Kening Kalina berkerut saat ikut memikirkan apa yang dialami pemuda di hadapannya. Di saat bersamaan, ponsel Rafi berdering dan cukup mengejutkan dua oranag yang ada disana. setelah di cek ternyata itu panggilan dari Pak budiman.
"Siapa?" tanya Kalina penasaran.
"Fi," panggil Kalina begitu Rafi selesai menerima telfon.
"hum, kenapa?" tanya Rafi dengan mata yang masih menatap layar ponsel.
__ADS_1
"Pengin," balas Kalina dengan suara agak serak.
"Pengin apa?" Rafi masih nampak acuh.
"Disodok isi celana kamu kayak kemarin."
Rafi langsung menoleh dengan mata membelalak. Dilihatnya wajah Kalina yang sedang cengengesan. "Kamu serius? Nanti kalau hamil gimana?"
"Kalau hamil ya kita nikah. Bukankah kamu bilang kamu ingin bertanggung jawab?"
Rafi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tahu. tapi daripada nanti hamil duluan, bukankah lebih baik kita mencegahnya, Kal?" mendengar jawaban Rafi, senyum Kalina langsung menghilang. Dia bahkan bangkit dari duduknya dan langsung beranjak meninggalkan pemuda itu. Rafi tentu menjadi terkejut dengan sikap Kalina yang langsung berubah. "Astaga! Bukannya aku ngomong benar ya? Kok dia malah kayak marah gitu," gumamnya.
Rafi kembali memainkan ponselnya. Sebenarnya Rafi juga mau mengulang lagi permainan dengan wanita itu, tapi Rafi takut menjadi kebablasan karena keenakan lalu Kalina sampai kebobolan, kan bisa gawat. Meski hamil diluar nikah pada jaman seperti ini seperti bukan hal yang memalukan, tetap saja Rafi tidak ingin mengalami hal itu. Apa lag mereka sama sama tidak memiliki orang tua.
Untuk saat ini Rafi hanya fokus mencari cara agar bisa membeli tempat kost ini. Jika tempat kost ini jadi miliknya, setidaknya Rafi bisa bebas jika ingin melakukan apa saja termasuk menolong Kalina. Di saat pikiran Rafi sedang fokus mencari jalan keluar, tiba tiba telfonnya kembali berdering dengan nomer asing tertera dilayar ponsel. Rafi langsung saja menggeser tombol hijau dan meletakkn ponselnya di dekat telinga.
__ADS_1
"Hallo," sapanya dan dari seberang sana muncul suara wanita. Setelah saling menyapa dan berkenalan, Rafi langsung teringat dengan seuatu.
...@@@@@...